Mengenal Sejarah dan Tradisi Kelurahan Baturetno Tuban

Kontributor : Nur Qur'ani Mulia

blokTuban.com - Baturetno merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban. Kelurahan yang saat ini dipimpin oleh Arif Sujatwito. Terdiri dari 5 Rukun Warga (RW) dan 15 Rukun Tetangga (RT).

Menurut Arif Sujatwito (56 tahun) selaku Kepala Kelurahan Baturetno menceritakan terkait sejarah Kelurahan Baturetno bahwa secara nama Baturetno sampai saat ini masih belum dapat dibuktikan secara pasti dikarenakan tidak ada dokumen atau buku sejarah yang tertulis.

Akan tetapi, menurut analogi pemberi nama Baturetno dahulu dikarenakan Baturetno merupakan daerah bebatuan dengan kondisi tanah yang cukup tandus, dengan demikian harapan untuk dapat menjadi lebih baik sangat kecil. 

“Jika dilihat dari nama Baturetno itu harapannya bisa menjadi doa. Nah dengan doa tersebut artinya bagaimana daerah berbatu itu bisa menjadi baik akhirnya di sambung dengan kata retno. Jadi walaupun hidup didaerah bebatuan juga mempunyai harapan hidup yang lebih baik” Ujar Kepala Kelurahan Baturetno saat diwawancarai, Selasa (16/05/2023).

Adapun potensi yang dimiliki Kelurahan Baturetno yaitu dengan adanya pengrajin sepatu yang sekaligus saat ini menjadi produk unggulan Kelurahan Baturetno.

“Dulu untuk potensi lahan pertanian di sini juga masih banyak ladang, akan tetapi dengan berjalanya waktu dan meningkatnya jumlah penduduk yang semakin padat, akhirnya lahan-lahan tersebut berkurang secara drastis,” Paparnya.

“Mungkin secara potensi saat ini lebih ke pembuatan sepatu, jadi ada beberapa pengrajin sepatu di sini ada sepatu, souvenir, dan lain-lain.” Imbuhnya.

Pria 56 tahun tersebut mengatakan bahwa meskipun potensi pada sektor pertanian sudah berkurang, ia berharap agar masyarakatnya muncul agar berwiraswasta sendiri seperti adanya pengrajin sepatu yang saat ini sedang berjalan.

Berkaitan dengan letaknya yang berada di daerah bebatuan, tak heran jika Kelurahan Baturetno memiliki beberapa goa. Adapun goa yang berapa di Kelurahan Baturetno yaitu Goa Sumamuk, Goa Glatik, dan Goa Jaran.

Adapun jika dilihat dari kondisi Goa Jaran saat ini sangat disayangkan. Pasalnya goa tersebut dahulunya menjadi tempat pemakaman kuda, akan tetapi saat ini sudah dipadati dengan banyaknya rumah penduduk serta dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.  

Di sisi lain selain terdapat goa, Baturetno juga memiliki beberapa Makam Auliya seperti: makam Mbah Mukri, Mbah Pang atau biasa disebut Syekh Zainuddin, dan Mbah Kuncen atau biasa disebut Mbah Dewobroto. 

Adapun tradisi yang saat ini masih dilakukan kelurahan Baturetno yaitu tradisi sedekah bumi atau manganan yang dilakukan disetiap tahun.

“Sedekah bumi ini kalo dulu itu ada yang pakai tandakan, ada yang pakai wayang tengul, terus sekarang sudah tergantikan semua dengan tahlilan,” Sambung Kadir Sucahyo, ketua Rt.1 Kelurahan Baturetno.

Agung Eko Sugiharto (49 tahun) menambahkan terkait tradisi Kelurahan Baturetno bahwa Tuban dahulunya terkenal dengan julukan Kota Tuak kemudian diganti dengan menjadi Bumi Wali. Namun terkait tradisi dan budaya Tuban masih menganut pada julukan nama kota lama yaitu Kota Tuak.

“Ya memang di sini banyak pohon siwalan, nah secara tradisi tuak bukan tradisi yang buruk bagi orang yang bisa memaknai kesehatan. Di mana Tuban merupakan kota batu khusunya Baturetno ya dan itu pasti kadar airnya mengandung kapur, nah dengan minum tuak ini otomatis dapat meluruhkan kapur-kapur yang ada di tubuh peminumnya. Akan tetapi itu juga dalam batas tertentu ya karena tuak ini misalnya kebanyakan juga bisa memabukkan” Jelasnya.

Lebih lanjut tradisi kekinian yang ada di Baturetno yaitu tradisi pengelolahan sampah. Di mana Kelurahan Baturetno saat ini merupakan pemegang 7 sertifikasi kelurahan berseri, seperti: kampung idaman berseri, pemegang kampung berseri mandiri tingkat provinsi Jawa Timur, dan saat ini Kelurahan Baturetno sedang mempersiapkan kampung iklim tingkat nasional.

“Nah tradisi ini merukapan tradisi baru untuk mereduksi atau mengelola sampah agar dapat menjadi tradisi pencontohan dalam pengelolahan. Sehingga Baturetno saat ini menjadi rujukan pengelohan lingkungan dan pengelolahan sampah di Tuban.” Tutupnya.

Diketahui, mayoritas mata pencaharian penduduk Baturetno yaitu bekerja sebagai Wiraswasta serta sebagian kecil membuka usaha kuliner. Untuk mayoritas agama penduduk yaitu 96% Islam dan selebihnya menganut agama lain. [Lia/Ali]

 

Temukan konten blokTuban.com menarik lainnya di GOOGLE NEWS  

 

*: Penulis merupakan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang magang di kantor redaksi blokTuban.com di Jalan Pramuka II No.19 kelurahan Sidorejo, Tuban.