Kisah Mbah Andong Sari, Dipercaya Ibu dari Patih Gajah Mada

Reporter: Muhammad Nurkholis

blokTuban.com – Dalam sejarah Desa Ngandong, Kecamatan Grabakan, Kabupaten Tuban tak lepas dari sosok Mbah Andong Sari.

Dalam ceritanya Mbah Andong Sari merupakan seorang wanita berasal dari Kerajaan Majapahit yang berkelana karena disuruh mencari tempat untuk menyepi.

Saat mencari tempat menyepi inilah, konon Mbah Andong bertapa kemudian mengandung, kelak ia melahirkan seorang mahapatih yang dikenal dengan Sumpah Palapa yakni Patih Gajah Mada.

Baca berita terkait: Hah! Setahun Desa Ngandong Gelar 4 Kali Sedekah Bumi, Sembelih 20 ekor Kambing

Dalam pertapaannya dengan kondisi mengandung ia disuruh kembali dan meninggalkan pertapaannya tersebut. 

"Nama Desa Ngandong sendiri berasal dari kata mengandung," ucap Suiswanto, Kepala Desa Ngandong kepada blokTuban.com, Selasa (31/05/2022).

Mbah Andong memiliki dua situs peninggalan yang pertama pertapaan Mbah Andong yang lokasinya berada di puncak Desa Ngandong, yang kedua sebuah makam yang berada dibawah puncak tapaan jaraknya sekitar satu kilo kebawah.

Makam kedua ini masih simpang siur, ada yang mengatakan itu makam mbah Andong Sari ada juga yang mengatakan itu sekedar petilasan atau makam pusaka dari Mbah Andong Sari. 

Selain itu mbah Andong sari juga memiliki pesan bagi warga Ngandong yaitu harus menanam cabai dan terong walaupun cuma satu pohon. Bisa jadi inilah mengapa Desa Ngandong dikenal sebagai salah satu desa penghasil cabai di Tuban.

Jemaah tahlil setempat setiap malam Jumat Keliwon mengadakan tahlilan rutin di Makam Mbah Andong Sari. Selain itu setiap sedekah bumi Petapaan mbah ngandong turut diramaikan baik masyarakat Ngandong dan luar Ngandong. 

Tempat-tempat yang dipercaya petilasan Mbah Andong Sari berpotensi dijadikan sebagai distinasi wisata religi. Karena lokasinya banyak pepohonan besar dan pastinya pengunjung dapat menikmati merdunya suara burung.

Lokasi makam leluhur Desa Ngandong ini terletak di puncak Ngandong. Sehingga akses jalan menuju makam cukup terjal, namun usaha tersebut dibayar dengan pemandangan indah dari atas bukit Ngandong.

Wlaupun semua kisah tersebut tidak ada bukti tertulisnya, tetapi masyarakat Ngandong bahkan luar Ngandong meyakini hal tersebut. [Nur/Dwi]