Kekalahan Sam Po Kong Saudagar Cina di Desa Gadon Tambakboyo Tuban

Penulis : Nurul Mu’affah

blokTuban.com - Desa Gadon merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban. Desa seluas kurang lebih 100 Ha ini dihuni oleh penduduk sebanyak 1.615 jiwa dengan mayoritas 80% bermata pencaharian sebagai nelayan, Sabtu (11/11/2023).

Diketahui, desa yang terletak di pesisir Laut Jawa ini memiliki sejarah asal-muasal yang cukup menarik. Menurut keterangan yang diberikan Rifail Ulum, Sekdes Desa Gadon saat diwawancarai oleh bloktuban.com, asal-usul Desa Gadon bermula saat Zaman Raden Rahmad menyebarkan agama Islam di pesisir Pantura, pada saat itu terdapat saudagar Cina bernama Sam Po Kong dengan perahunya yang bernama Dampo Awang

Suatu hari Sam Po Kong hendak menguji kepandaian Raden Rahmad sehingga terjadilah adu jago yang pada saat itu bertempat di tapaan ujung barat Desa Gadon. 

Kemudian akhirnya Sam Po Kong kalah, lalu Raden Rahmad kembali ke Barat, sampailah beliau di pesisir Gadon dan beristirahat di pesisir tapaan. 

Pada saat istirahat, Raden Rahmad membakar ikan yang mana orang Jawa pada masa itu menyebutnya “nggado ikan” kemudian beliau berkata “besok kalo ada ramenya zaman di wiliayah sini, nantinya namanya wilayah Gadon” sehingga hingga saat ini wilayah tersebut terkenal dengan julukan Desa Gadon.

“Raden Rahmad di situ nggado ikan, jadi membakar ikan, kalo sama orang Jawa itu dulu namanya kan nggado, kemudian beliau pada saat makan ikan itu Raden Rahmad mengatakan besok kalo ada ramenya zaman di wiliayah sini, nantinya namanya wilayah Gadon jadi karena itu gado ikan, wilayahnya namanya Gadon,” terang Rifail.

Adapun mengenai potensi desa, Desa Gadon berencana akan mengembangkan Pantai Dampo Awang dengan membangun Ruang Terbuka Hijau yang nantinya akan dilaksanakan Tahun 2024 mendatang.

“Kemarin kita sampaikan ke Dinas Pariwisata melalui kecamatan. Alhamdulillah ada akan dibangunnya Ruang Terbuka Hijau dari Pemda yang nanti nyambung ke wisata pantai di desa itu yang akan dibangun nanti tahun 2024,” tambah Rifail.

Selain itu, di desa yang memiliki dua dusun ini terkenal akan penghasil terasi dan pengolahan ikan laut. Hal ini dibuktikan adanya puluhan UMKM yang memproduksi terasi dan pengolahan hasil laut.

“Di sini ada sekitar 30-an UMKM yang legal formal dari dinas, itu penghasil trasi kemudian hasil laut yang lain, dan beberapa kelompok-kelompok pengolahan itu ada banyak, tapi yang paling menonjol itu adalah pengolahan terasi,” jelas Rifail.

Keunikan di desa ini terdapat sebuah tradisi yang bernama Gowokan. Tradisi Gowokan merupakan tradisi yang diadakan pada saat ada anak kecil yang baru bisa berjalan, yakni dengan memasukkan kaki si anak ke dalam sebuah bak yang terdapat air kembang dan koin lalu koinnya disebar ke orang-orang di sekitarnya. Tradisi ini biasanya dilakukan pada setiap anak berusia kurang lebih satu tahun atau baru bisa berjalan.

“Tradisi Gowokan itu jadi satu sama alur yang pertama kakinya dimasukkan ke bak di situ ada air kembang, kemudian di dalamnya sudah ada koin yang akan disebar ke orang-orang sekitar,” jelas Rifail. 

Tak hanya itu, desa yang terletak di pesisir Laut Utara ini juga terdapat petilasan Walisongo yang terletak di pesisir jalan Pantura di Desa Gadon. 

Konon menurut Marzuki, juru kunci Petilasan Walisongo (16/10/2023), di dalam petilasan tersebut terdapat telapak kaki Sunan Bonang dan Sunan Kali Jaga. 

Hingga saat ini petilasan tersebut masih berdiri kokoh dan dirawat, sehingga banyak para musafir dan penggiat sejarah datang untuk mengunjungi jejak Walisongo tersebut. [Rul/Ali]