Lima Jenis Bunga Jadi Cikal Bakal Terbentuknya Desa Sekardadi Tuban

Penulis : Ahmad Nawaf Timyati Fandawan

blokTuban.com - Mengenai sejarah maupun asal usul sebuah desa tidak akan lekang oleh sebuah cerita panjang yang ada di belakangnya begitupun dengan Desa Sekardadi. Desa yang berada di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban ini adalah sebuah desa yang sekarang dipimpin oleh Ahmad Zaqi selaku Kepala Desa Sekardadi, Kamis (12/10/2023).

Sekardadi terbagi menjadi 3 dusun yakni Dusun Kedinding, Dusun Sekaning dan Dusun Kandangan dengan Luas wilayah sekitar 245 Hektar. Desa ini berdampingan dengan Desa Jenggolo dan Desa Jenu. Dengan  jumlah penduduk sekitar 1.969 Jiwa dengan KK yang terdaftar sekitar 496 untuk saat ini dengan mayoritas berprofesi sebagai petani.

Mengenai sejarahnya sendiri seperti yang ditulis di RPJM-Desa Sekardadi Kec. Jenu Kab. Tuban  Th. 2020-2025 asal usul desa sekardadi sendiri memiliki legenda bahwa Desa Sekardadi dahulunya merupakan lahan hutan yang dipenuhi oleh pohon kelapa. Di Desa Sekardadi memiliki 5 titik kali atau disebut dengan sungai kecil yang disetiap titik kali ditumbuhi oleh bunga (dalam bahasa jawa memiliki arti Kembang/Sekar) yaitu kembang “Golok”, Kembang “Gede”, Kembang “Cilik”, Kembang “Ngoro” dan Kembang “Wates”.

Keseluruhan bunga yang ada di tiap titik tersebut akhirnya dijadikan simbol perbatasan sungai dan sebagai sebutan dari sungai – sungai kecil tersebut namun sungai – sungai ini hanya teraliri oleh air pada saat musim penghujan saja. Sedangkan pada musim kemarau tidak terdapat air.

Derita kekeringan terjadi hampir setiap tahun hingga hal itu di dengar oleh Sunan Kalijogo dan pada akhirnya dia menancapkan tongkatnya dan menyeret mata air dari Sendang Srunggo menuju ke laut, kemudian Sunan Klijogo pun beristirahat di daerah tersebut yang kemudian dikenal dengan sebutan bumi Soko Dedes bahkan sampai saat ini terdapat sebuah petilasan yang konon itu milik Sunan Kalijogo yang berada di sebelah makam Mbah Soko Dedes. Konon dalam pembuatan masjid demak Sunan Kalijogo mengambil daun sagu untuk atap Masjid Demak.

Nama Sekardadi sendiri diambil dari sejarah bersatunya lima titik perbatasan air sungai kecil yang ditandai dengan lima kembang, yaitu Kembang Golok, Kembang Gede, Kembang Cilik, Kembang Ngoro, dan Kembang Wates yang menjadi satu sungai atau dalam bahasa jawa yakni disebut “DADI”. Kembang sendiri dalam bahasa jawa memiliki arti “SEKAR”, yang dari perpaduan dua kata tersebut menjadi nama Sekardadi.

Adapun Ngasmi (45) selaku Kaur Umum Desa Sekardadi menambahkan mengenai asal mula nama Desa Sekardadi, menuturkan kalau nama sekardadi terdiri dari dua kata yakni Sekar (Bunga) dan Dadi (Jadi) yang mana kalau kita mau nyekar kita pasti jadi maksutnya kalau kita punya hajat dimudahkan kalau kita nyekar pasti akan jadi.

“Sekardadi itu dari dua suku kata yakni Sekar dan Dadi, sekar berarti bunga dan dadi berati jadi kalau sekar itu artinya kalau kita yen mau nyekar itu pasti jadi, nah itu dari sekar itu bunga, dadi itu artinya jadi hajat atau punya hajat dimudahkan asal kita mau nyekar pasti jadi,” Tutur Ngasmi saat diwawancarai blokTuban.

Ngasmi juga menambahkan kalau di Dusun Kedinding dia pernah menemukan sebuah bekas genteng lama yang terdapat ukiran jawa yang ternyata memang kata orang - orang di Desa Sekardadi dulu ada bekas – bekas napak tilas kerajaan.

Mengenai tradisinya warga Desa Sekardadi masih kental dengan tradisi sedekah bumi yang dilakukan di makam Mbah Dukoh dengan melakukan tahlilan dan manganan yang diperingati tiap satu tahun sekali adapun tahlilan dan manganan ini juga di adakan di makam – makam sesepuh atau leluhur Desa Sekardadi yang konon menjadi sosok cikal bakal terebentuknya Desa Sekardadi yakni antara lain Mbah Dukoh yang dipercaya sebagai sesepuh tertua di Desa Sekardadi, Mbah Soko Dedes, Mbah Kawisan, Mbah Makam Bayi, Mbah DokSemar, Mbah Kyai Cokro, Mbah Kyai Petak, Mbah Kemuning dan kurang lebih ada 12 sesepuh yang dihauli setiap tahun.

Namun di makam Mbah Soko Dedes sendiri berbeda dalam tradisi tiap tahunnya makam Mbah Soko Dedes diperingati dengan manganan dan pegelaran wayang serta malamnya diikuti dengan acara tahlilan Kubro dan juga pengajian setiap setahun sekali, Ngasmi sendiri menuturkan bahwa wayang tersebut adalah wayangan ngeruwat mengenai maknanya dari adanya pagelaran wayang tersebut sebagai bentuk ngeruwat deso dan juga uri – uri budaya  yakni biar diharapkan masyarakatnya sehat dan diharapkan desa tersebut makmur dan juga sejahtera dan juga sebagai bentuk peleastarian budaya.

Mengenai potensinya Desa Sekardadi sedang merencanakan pembentukan wisata yang berada di aliran sungai dekat dengan makam Mbah Soko Dedes dengan diberi perahu di aliran sungai tersebut dan dengan dikasih ikan – ikan kecil dan tanaman – tanaman dipinggiran sepanjang aliran sungai.

Diharapkan hal itu bisa memberi kehidupan di lingkungan daerah sana juga sebagai niatan untuk sarana refreshing bagi peziarah makam Mbah Soko Dedes dan juga diharapkan ada warga yang berkontribusi dengan berjualan di sana yang mana hal itu membuat lingkungan disekitar sana lebih hidup. [Naw/Ali]