Mbah Sebo Joyo Orang Pertama Babat Desa Jatimulyo Tuban

Penulis : Nurul Mu’affah

blokTuban.com - Desa Jatimulyo terletak di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Desa ini memiliki penduduk sebanyak kurang lebih 4.000 jiwa dengan wilayah seluas kurang lebih  375 Ha, Senin (9/10/2023).

Berbatasan langsung dengan Desa Sumber Agung di sebelah utara, Desa Magersari di sebelah Timur, Desa Klotok di sebelah selatan dan Desa Plumpang di sebelah Barat.

Menurut keterangan yang diberikan Suharyono, selaku Sekertaris Desa Jatimulyo, mengatakan bahwa di desa ini terdapat tiga dusun yakni Dusun Ngareng, Dusun Jati dan Dusun Parengan.

Dahulu  di wilayah desa ini masih berupa hutan belantara. Lalu hiduplah Si Mbok Bersama anaknya yang bernama Sebho yang artinya kekuatan besar. Dengan kekuatan besarnya itulah Sebho melakukan bubak bumi atau babat alas yang konon katanya di mulai dari selatan. Di wilayah tersebut banyak sekali pohon jati, maka Mbah Sebho menamakan daerah ini dengan nama Dusun Jati.

”Pada waktu itu masih banyak belantara di sini, kebanyakan pohon jati, terus akhirnya awal mulanya ada bubak bumi, bubak bumi itu wong pertama sing ngenggoni atau babat tanah di Jatimulyo. Mbah Sebo Joyo, Sebo artinya kekuatan besar dari Allah,” jelas Suharyono.

Lalu setelah itu, Mbah Sebho melanjutkan untuk membabat alas, di perjalanan pulang ia melihat tumpukan pohon jati yang besar dan rantingnya. Dia kemudian mengambil batu untuk membuat api dan membakar jati tersebut. Setelah padam ia menemukan kayu jati yang masih utuh dan berwarna hitam, lalu menyebutkan kata areng-areng yang sehingga daerah tersebut kini dikenal dengan nama Dusun Ngareng.

Versi cerita lain yang juga beredar di masyarakat Jatimulyo, hiduplah dua orang kakak beradik yang sakti mandraguna bernama Co’bau dan Reweng. Mereka membuat kesepakatan sebelum beradu kekuatan.

Bilamana Kakang Co’bau kalah harus menggembala dan memelihara ternak hingga mendapati ajal, sebaliknya bila adik Reweng kalah, harus menebang hutan atau babat dengan mencangkuli supaya dapat ditanami. Setelah itu mereka mengadu kekuatan hingga kelelahan, namun tidak ada yang kalah maupun menang.

Karena sang adik sangat menyayangi kakangnya, ia mengalah karena merasa masih muda dan tenaganya banyak lalu sesuai kesepakatan ia yang membubak bumi seluas dusun yang ia tempati.

Lalu kakangnya (Co’bau) mendatangi adiknya dan mengatakan “Hai adikku tenagamu sangat luar biasa, hanya beberapa hari saja engkau berhasil menebangi pohon-pohon besar dan mencangkuli pereng-pereng setinggi itu”. Lalu mereka menamakan tempat itu dengan nama Parengan, sehingga saat ini dikenal dengan Dusun Parengan.

Adapun mengenai mata pencaharian warga, warga Desa Jatimulyo mayoritas berprofesi sebagai petani dengan hasil utama berupa padi dan jagung. Selain itu, di desa ini juga terkenal akan daerah penghasil tuak, legen dan siwalan. Serta kuliner yang banyak ditemukan di Desa ini yakni nasi jagung dan olahan belut.

Di desa ini juga masih terdapat tradisi sedekah bumi yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya. “Satu tahun sekali, malamnya tahlilan, siangnya kesenian,” tutup Suharyono. [Af/Ali]