Cungkup

Penulis: Yoru Akira

Kumuh. Sudah lama bangunan itu terlantar. Menyediakan tikus membuat sarang. Tak terurus. Perapian kecil di tengah ruangan telah lama tak mengepulkan asap. Sudah lama. Sejak warga tak lagi peduli pada tradisi. Sejak warga tak lagi peduli pada satu-satunya warisan leluhur mereka.

Dulu tempat itu tak pernah kehabisan asap. Setiap musim tanam dan panen tiba, warga berbondong-bondong membersihkan cungkup. Berbagai jenis makanan dan minuman mereka kirim ke cungkup sebagai wujud rasa syukur kepada sang pemangku alam. Bergotong-royong membangun suasana guyub. Rukun. Kini tak ada lagi tradisi semacam itu menjelang musim tanam atau pun seusai musim panen. Warga terlalu sibuk menikmati hasil panen melimpah. Tak lagi mengingat jika itu semua tak lepas dari kekuatan yang menjaga alam tetap hijau. Mereka tamak. Melupakan adat dan tradisi.

Hanya Mbah Basar yang masih setia. Menabur bunga setiap malam Jum’at dengan merapalkan do’a-do’a. Tubuh renta dan fisik tak lagi kokoh. Membatasi geraknya membersihkan bangunan itu. Apalagi sejak kebutaan merengut penglihatannya. Lelaki tua itu tak banyak berbuat apa-apa. Meski dia ingin. Merawat satu-satunya warisan leluhur.

Malam Jum’at, seperti biasa. Mbah Basar tertatih menuju cungkup yang terletak di sebelah utara balai desa. Serabutan dia mencabuti rumput liar. Mata tak lagi awas menghambat dia membersihkan halaman. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanyalah indera perasanya. Itu pun tak banyak berfungsi. Mungkin karena faktor usia. Merasa cukup, lelaki tua itu melanjutkan ritualnya. Menabur bunga tujuh rupa. Merapal do’a-do’a untuk para leluhurnya.

Warga desa kasak-kasuk. Menggunjingkan Mbah Basar yang dikira menganut ajaran sesat. Sebab setiap malam Jum’at selalu mengunjungi cungkup, menabur bunga, dan merapalkan do’a-do’a. Namun telinga lelaki tua itu terlalu tuli mendengar bisikan para tetangga. Ia tak peduli. Bagi lelaki tua itu yang terpenting hanyalah menghormati leluhurnya.

“Mbah Basar gila!” suatu hari seorang pria berteriak. Kang Kardiman.

Orang-orang yang tengah panen di sawah menatapnya. Heran. Ingin tahu apa sebab pria itu bersungut-sungut. Menyumpah-serapahi satu-satunya orang tua di desa mereka.

“Mbah Basar gila! Bagaimana bisa dia masih percaya kalau desa kita dijaga oleh danyang. Jelmaan seorang wali.”

“Memang orang tua itu telah lama gila.” Seorang lelaki lain menyambung. Kang Karto, anak buah Kang Kardiman menggarap sawah.

“Iya, Kang. Tadi lelaki tua itu mendatangi saya. Berkata jika saya harus bersyukur kepada Mbah Buyut, karena hasil panen setiap tahun semakin melimpah. Yang benar saja. Hasil panen kita melimpah itu karena usaha keras  menjaga dan merawat sawah. Menyemprot padi dari hama wereng maupun tikus. Membuat rintang agar babi hutan tak bisa menerobos sawah.”

“Benar katamu, Kang. Tanpa usaha kita mana mungkin hasil panen bisa melimpah.”

“Memang. Saya kira lelaki tua itu hanya mengada-ada. Mencari-cari alasan agar kita mau mengikuti ilmu yang dia anut.”

“Ilmu? Ilmu apa, Kang?”

Pria itu semakin bersungut-sungut. “Ilmu hitam. Apa kalian semua tidak tahu, kalau setiap malam Jum’at ia selalu menyepi di cungkup. Menabur bunga dan merapalkan mantra-mantra aneh?”

“Ya, saya pernah melihatnya sekali.”

“Itulah, Kang. Sampai lulus sarjana dan melanjutkan S2, saya tak pernah menemui hal-hal aneh semacam itu. Tak masuk akal. Sekarang ini apapun yang tak bisa terpecahkan dengan teknologi dianggap sihir. Mbah Basar pasti mempelajari sihir-sihir itu.”

Warga desa yang terlibat pembicaraan dengan Kang Kardiman tampak manggut-manggut. Pembicaraan tentang Mbah Basar di pematang sawah siang itu semakin menjadi. Sejak saat itu rumor tentang kegilaan Mbah Basar menganut ilmu sesat menyebar cepat. Seluruh warga pun tak luput menggunjingkan tabiat Mbah Basar menganut ilmu hitam.

Lelaki tua itu tak peduli. Baginya bisik-bisik warga desa ia anggap sebagai rasa iri. Sebab ia termasuk orang yang diberi kesadaran untuk tetap menjaga satu-satunya bangunan peninggalan leluhurnya. Setiap malam Jum’at ia masih tetap pergi ke cungkup. Membersihkan cungkup. Menabur bunga dan merapalkan do’a-do’a.
*        *        *
Matahari telah tunduk. Kang Kardiman masih terlihat sibuk mengairi sawahnya. Padi sudah menguning. Waktunya panen. Ia tak bisa duduk tenang di rumah sedang sawahnya memperlukan perhatian khusus. Air, pupuk, pembasmi hama, hingga pagar pembatas sawah, ia harus memastikan semuanya tak ada yang luput dari pengawasan.

“Cong, mbuk yo buyutmu iku ditiliki. Digawano ngombe lan mangan sak perlune.”
Sore itu, mereka terlibat pembicaraan cukup serius. Mbah Basar tak bosan mengingatkan Kang Kardiman. Menurutnya, lelaki itulah yang menyebabkan warga desa melupakan akar adat mereka. Lelaki itu sudah meracuni otak warga agar sedikit demi sedikit meninggalkan tradisi. Cara pemikiran modern yang membuat Mbah Basar ngeri. Bahkan mengejangkan seluruh saraf tubuhnya.

“Sampean iku ngomong apa toh, Mbah. Saya ndak paham dengan maksud Mbah Basar.”

“Aja mungkir, Cong. Kowe lahir, gede yo nang desa iki. Aja mung gara-gara kowe sekolah dhuwur, trus ngelaleke adatmu. Mumpung durung kasep. Tak ilengno kowe.” Mbah Basar meninggalkan Kang Kardiman yang terbengong di tepi jalan. Tertatih menuju cungkup. Malam Jum’at. Ritual itu tak bisa terlewatkan.

“Ooo... wong edan!”

Kang Kardiman mengumpat. Selalu saja ia mendadak gelisah setelah Mbah Basar mengatakan petuah-petuahnya. Kalimat itu bagaikan sihir. Tetapi hati lelaki muda itu tetap sekeras batu. Di sekolah tinggi ia tak pernah menemui hal-hal mitis yang kerap diceritakan Mbah Basar kala dulu.Tentang dewa-dewa menjelma manusia. Tentang tokoh-tokoh yang arwahnya tetap terbang di sekitar mereka. Ia belajar banyak hal yang tak pernah ada kaitannya dengan mahkluk ghaib. Tentang kebenaran logika. Tentang apa pun yang bisa dipecahkan dengan teknologi masa kini. Pandangan itu sedikit demi sedikit merubah pemikirannya. Merubah adatnya. Bahwa memang tak pernah ada sosok danyang penjaga desa atau semacamnya. Dalam wujud apa pun.
*        *        *
“Kang Kardiman! Kang Kardiman!”

Matahari belum sepenuhnya dewasa. Kang Kardiman dikejutkan oleh teriakan dua orangnya yang membantu menggarap sawah. Wajah mereka panik. Ada yang tidak beres dengan sawahnya.

“Apa yang terjadi, Kang Karto?”

“Gawat, Kang! Ini gawat!”

Kang Kardiman bisa menebak kemungkinan-kemungkinan itu. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju sawah. Dua orang pembantunya mengikuti dari belakang. Tubuh Kang Kardiman mengejang. Ia tak menyangka jika sawahnya memang benar-benar gawat. Padi yang sudah menuai waktunya untuk panen ludes dimakan tikus. Pagar-pagar untuk menghalau babi hutan, sama rata dengan tanah.

Pikirannya kacau, ia mencari-cari arah datangnya tikus-tikus itu. Bukankah ia telah memastikan tak ada sudut pematang pun yang bisa dilewati tikus? Jangankan tikus, Kang Kardiman telah membuat sawahnya tak tertembus oleh puluhan ekor babi. Bagaimana tikus bisa menghabisi padi-padinya hanya dalam satu malam. Bagaimana babi hutan bisa menerobos masuk. Menghancurkan padi yang hanya menghitung hari masanya panen. Hanya dalam saatu malam.

Tidak hanya padi di sawah Kang Kardiman ludes dimakan tikus dan dirusak babi hutan. Sawah warga desa lainnya pun habis dimakan tikus. Aneh. Hanya dalam waktu satu malam, seluruh padi di sawah tak bersisa.

“Pasti ini sihir. Tadi malam saya melihat Mbah Basar merapal jampi-jampi di ujung sana,” kata Kang Karto membuat telinga Kang Kardiman memanas.

Ia mengingat pembicaraannya kemarin dengan Mbah Basar. Mbah Basar mengingatkan tentang kualat. Mungkin benar kata Kang Karto, Mbah Basar lah penyebab padi-padinya dimakan tikus.Pasti ulah Mbah Basar yang menyebabkan babi-babi hutan merusak sawah mereka. Mbah Basar telah mempraktekkan ilmu sesat. Menggunakan sihir untuk merusak sawah seluruh warga desa.

“Tak bisa dimaafkan. Lelaki tua itu benar-benar kurang ajar! Kang, kumpulkan warga desa, kita harus mengadili lelaki tua itu!”

Kang Kardiman benar-benar murka kali ini. Amarah menguasai otaknya. Ia tak bisa jernih. Beramai-ramai warga menuju cungkup. Kang Karto melihatnya di dekat cungkup saat menuju rumah Kang Kardiman. Lelaki tua itu sedang membersihkan cungkup dari sarang tikus dan laba-laba ketika warga sampai di sana.

“Dia, dia yang menyebabkan padi-padi kita dimakan tikus!” teriak Kang Kardiman membuat amarah warga terbakar.

“Lelaki penyihir! Bakar, bakar saja dia!”

Tidak hanya Kang Kardiman yang terbakar amarahnya. Warga desa pun kini terbakar hatinya. Entah sejak kapan mereka membawa oncor. Sudah menyala. Mbah Basar panik. Suara orang-orang itu menyiutkan nyalinya. Ia meraba-raba tembok. Menajamkan pendengarannya yang juga mulai melemah. Berkali-kali ia terjatuh. Terantuk batu yang tak terasa kehadirannya.

“Siapa kalian, dimana ada penyihir?”

“Masih mengelak pula. Tadi malam saya melihat Mbah Basar di sawah Kang Kardiman. Pagi-pagi, seluruh padi di sawah raib dimakan tikus. Dirusak babi hutan. Itu pasti ulah Mbah Basar ‘kan? Mbah Basar menggunakan sihir untuk mendatangkan tikus dan babi hutan itu.”

Tubuh renta itu gemetar menghadapi kemarahan warga. Mereka telah salah sangka. Ia tak menguasai ilmu sihir. Bagaimana mereka meneriakinya penyihir. Atas dasar apa mereka menuduhnya penyihir. Ia harus menjelaskan pada mereka. Ia bukan penyihir. Ia tak menguasai ilmu tenung.

“Pasti yang Mbah Basar lakukan setiap malam Jum’at di cungkup untuk melatih ilmu sihir. Bakar! Bakar saja penyihir ini!”

“Sumpah demi Gusti Allah, aku ora tukang tenung.”

Suara Mbah Basar gemetar ketakutan. Kebutaannya membuat lelaki tua itu semakin lumpuh menghadapi amarah warga. Ia meringkuk di pojok bangunan cungkup yang kecil. Tak sanggup melawan kemarahan warga yang melemparinya dengan caci-maki. Mbah Basar tertunduk. Pasrah. Air mata mengalir dari matanya yang tak lagi melihat dunia. Hati lelaki tua itu menderita.

“Kakean omong, wis obong wae biang kerusuhan desa iki!” Kang Kardiman memberi komando.

Seorang warga yang membawa oncor melemparnya ke arah Mbah Basar. Warga lain pun melemparkan oncor di tangan mereka. Tubuh lelaki tua itu meronta. Berteriak meminta tolong. Meneriakkan kebenaran yang tak pernah diketahui oleh warga. Mereka telah kerasukan setan. Tak ada yang mempedulikan teriakan Mbah Basar. Warga justru semakin beringas merobohkan satu-satunya warisan leluhur mereka.

“Gusti Allah kang bakal mbales kelakuanmu, Kardiman!”

Mbah Basar terbakar. Bersama saksi bisu yang tahu segalanya sebelum tikus-tikus itu menyerang sawah warga. Kebenaran turut terbakar amarah warga.
Cungkup.


Tuban, 01 Agustus 2016

Keterangan:
1)    cungkup: bangunan meletakan sesajen pada tempat-tempat yang dianggap keramat
2)    danyang: arwah nenek moyang yang dianggap menjaga sebuah tempat keramat atau desa
3)    ngombe: minum
4)    mangan: makan
5)    mungkir: berbohong
6)    kasep: sebelum terlambat
7)    oncor: lampu yang terbuat dari ruas bambu dengan bahan bakar minyak tanah atau bensin
8)    kualat: mendapatkan celaka

Biodata Penulis:
Yoru Akira nama pena dari Sumartik. Lahir di kota Tuak pada tanggal 17 Juli 1992. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen pernah menghiasi majalah, dan koran daerah setempat. Selain itu beberapa cerpennya pernah diantologikan bersama. Saat ini sibuk mengelola blog semestayoru@wordpress.com dan merawat rumah kreatif Komunitas Langit agar tidak “punah”. Penulis bisa disapa melalui e-mail sumartik92@gmail.com.