Medan Pertempuran di Tuban Selatan

Sumur-sumur minyak mentah adalah salah satu kunci kedatangan pasukan Belanda ke Indonesia. Di Tuban, sumur-sumur minyak mentah itu berada di wilayah selatan, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro dan Cepu, Blora.

Reporter: Edy Purnomo

blokTuban.com - Belanda membutuhkan bahan bakar supaya kendaraan dan peralatan perang bisa terus digunakan. Karena itulah, setiba di pantai Glondonggede, Tuban, 18 Desember 1948 silam, sebagian besar pasukan langsung diarahkan ke wilayah Senori, Tuban dan Cepu, Blora.

Kenapa dua daerah itu menjadi sasaran utama? Jawabannya: sumur-sumur minyak mentah.

Sumur-sumur minyak mentah itu berada di sisi selatan Kabupaten Tuban. Pusatnya adalah di sekitar Desa Wonosari dan Desa Banyuurip, Kecamatan Senori. Dua desa itu langsung menjadi basis pasukan Belanda selama pendudukan. Banyak warga yang mengungsi, namun juga banyak warga yang lari ke desa-desa lain untuk bergabung dengan pasukan gerilya.

[Baca juga:  Letda Soetjipto, Mimpi Buruk Pasukan Belanda di Mondokan ]

Sadar kalau Belanda punya kepentingan besar di desa ini, pasukan gerilya menyusun kekuatan di desa-desa sekitarnya. Tuban selatan adalah saksi pertempuran demi pertempuran antara pejuang dengan penjajah.

Di Tuban selatan yang menjadi basis perjuangan berada di wilayah Dusun Jojogan, Desa Mulyoagung, dan Desa Saringembat, yang masih berada di wilayah Kecamatan Singgahan. Dua desa ini berada di sisi timur laut Desa Banyuurip yang dijadikan benteng dan markas pertahanan Belanda.

Selain melakukan gangguan dan pengintaian pasukan Belanda yang berada di sekitar sumur minyak mentah, pasukan gerilya yang membuat pos pertahanan di desa-desa itu juga bersiap-siap melindungi pusat kepemerintahan Tuban yang pernah cukup lama ditempatkan di Kecamatan Montong.

Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe: 1985:284, menyebut di Tuban ketika masa Agresi Militer ke II, wilayah pertahanan pasukan Indonesia sering dimasuki patroli dan konvoi pasukan Belanda. Salah satu tempat yang paling sering disusupi pasukan Belanda berada di wilayah Tuban selatan, terutama Senori, karena jaraknya cukup dekat dengan markas Belanda yang ada di Desa Banyuurip.

“Kompi Teko adalah satu-satunya pasukan batalyon Basuki Rahmat yang ditempatkan di wilayah Kabupaten Tuban,” ulas Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe.

Karena satu pasukan Kompi Teko berada di sisi selatan Bengawan Solo, secara otomatis kekuatan menjadi berkurang. Dia menggantikan kekurangan itu dengan satu seksi dari Kompi Bambang Sumantri yang dipimpin Letmuda Ngadenan dengan persenjataan M-23 (water-mantel).

Pasukan Kompi Teko merupakan pasukan yang menjaga wilayah garis Tuban selatan. Persediaan logistik dari desa-desa kadang terhambat, untuk itulah Kompi Teko merubah pos pertahanan di wilayah Tuban selatan.

1. Seksi Safii, bebas menempatkan pasukan gerilya di wilayah Kecamatan Soko dan Rengel, antara lain di Desa Cekalang, Tluwe, Prambontergayang dan Desa Jegulo.
2. Seksi Ngadenan menempatkan pasukan di sekitar Ponco, Parengan.
3. Komando Kompi ditambah prajurit-prajurit penghubung dari tiga seksi di Desa Ngawun, Parengan.
4. Seksi Sucipto di Desa Saringembat, tetapi saat itu semua pasukan belum menempati basis baru karena diperbantukan mempertahankan wilayah sekitar Rengel.
5. Pasukan TRIP yang ditempatkan di Desa Wirun.

Di daerah Tuban selatan, pertempuran sering terjadi di wilayah Kecamatan Rengel, Parengan, Singgahan, Kecamatan Senori, Kecamatan Bangilan, dan Kecamatan Jatirogo. Itu disebabkan, karena Tuban selatan adalah daerah lintasan dan Belanda sering turun ke desa-desa untuk melakukan pembersihan di sekitar markas mereka.

Awal Februari 1949, di sekitar jalan penghubung antara Desa Banyuurip dan Desa Wonosari, Senori, merupakan salah satu hari buruk bagi pasukan Belanda setelah dihadang satu kelompok Gerilya Liar (GL) dibawah pimpinan Hartono yang bersenjatakan bahan peledak.

“Sebelum penghadangan kelompok GL bermalam disebuah gubuk dalam hutan,” kata Laksama Pertama Purn Hartono, 23 November 1983, di buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe: 1985:284.

GL adalah salah satu pasukan dari pelajar. Kelompok pelajar ini sengaja bermalam di gubuk tengah hutan untuk mengintai pergerakan pasukan Belanda yang sering melintas di jalan penghubung desa setempat.

Gubuk yang menjadi lokasi pengintai itu dianggap strategis menurut kaca mata militer. Selain berada di tengah hutan, juga berada di atas ketinggian dengan medan jalan dibawahnya yang berkelok dan naik turun perbukitan.

Waktu yang ditentukan itu tiba, pasukan pelajar menanam bahan peledak di tengah jalan dan menghadang pasukan Belanda. Hasilnya dahsyat, satu konvoi tentara musuh dari pasukan Marbrige itu berhasil dihancurkan.

“Setelah melakukan penghadangan, pasukan kemudian berpindah ke daerah lain,” kata Hartono.

Pasukan Belanda yang murka langsung mendatangkan bantuan ke lokasi penghadangan. Mereka harus kecewa karena hanya mendapati gubuk yang sedang kosong. Meski begitu mereka semakin mewaspadai wilayah penghadangan dan terus melakukan pengintaian.

Beberapa saat setelah keberhasilan pasukan GL pimpinan Hartono, datang lagi kelompok gerilyawan dari pasukan Busono. Pasukan Busono tertarik melihat bekas posisi yang pernah ditempati pasukan GL setelah melihat iringan pasukan Belanda melintas di bawahnya.

Karena keterbatasan saluran komunikasi, pasukan Busono tidak mengetahui kalau daerah rawan dan strategis buat penghadangan itu sudah menjadi incaran musuh. Mereka memasang mata-mata dan setelah mengetahui ada pasukan gerilya di tempat rawan itu, pasukan Belanda langsung melakukan serangan. Serangan fajar yang tidak pernah diduga gerilyawan yang sedang beristirahat.

“Belanda melakukan serangan fajar dan berhasil menghancurkan pasukan Busono yang bermalam dalam gubuk. Hanya beberapa orang, termasuk Busono yang berhasil lolos,” kata Hartono.

Pertempuran demi pertempuran terus terjadi di wilayah Tuban selatan. Belanda sering melakukan pembakaran rumah-rumah penduduk yang mereka duga ikut menyumbang kebutuhan logistik pejuang.

Wilayah ini juga akan menjadi saksi pertempuran hidup mati antara pasukan Letda Soetjipto dengan pasukan Belanda. Nantikan tulisan selanjutnya.
Bersambung...

Sumber: Buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe: 1985.