Reporter : Dahrul
blokTuban.com - Upaya pemutakhiran data barcode untuk pembelian Biosolar dinilai sebagai langkah tepat untuk memastikan distribusi BBM bersubsidi benar-benar menyasar pihak yang berhak. Pakar ekonomi dan bisnis dari Universitas Airlangga, Profesor Imron Mawardi, menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah wajar sekaligus strategis.
Menurut Imron, pembaruan data yang dilakukan oleh Pertamina bertujuan untuk meminimalisasi penyalahgunaan BBM bersubsidi. Dengan proses verifikasi ulang, hanya konsumen yang memenuhi kriteria yang dapat mengakses Biosolar.
“Ini langkah yang baik dan benar agar subsidi tepat sasaran. Dengan pemutakhiran data, pengguna diverifikasi kembali sehingga hanya yang berhak yang bisa membeli BBM bersubsidi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengetatan pembelian Biosolar memang perlu dilakukan, terutama karena disparitas harga yang cukup tinggi dengan Dexlite. Saat ini, harga Dexlite disebut telah lebih dari tiga kali lipat Biosolar. Kondisi tersebut berpotensi mendorong konsumen yang seharusnya menggunakan Dexlite beralih ke Biosolar, yang pada akhirnya dapat membebani anggaran subsidi.
Melalui pemutakhiran data ini, Imron berharap pengguna yang tidak berhak dapat dieliminasi atau setidaknya dikurangi. Ia juga menyoroti masih adanya praktik kecurangan, termasuk dari kalangan masyarakat mampu yang memanfaatkan celah data yang tidak valid.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah kendaraan pribadi seperti Toyota Innova Reborn keluaran 2020–2021 yang sebelumnya masih dapat mengakses Biosolar akibat ketidakakuratan data. “Sekarang seharusnya tidak boleh lagi,” tegasnya.
Meski demikian, Imron mengingatkan agar proses pemutakhiran tetap memperhatikan kemudahan layanan, mengingat banyak pengguna yang memang berhak namun mengalami kendala teknis.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran proses tersebut, Pertamina telah menyediakan 147 helpdesk di seluruh wilayah Jawa Timur. Layanan ini ditujukan untuk membantu validasi ulang data serta mengaktifkan kembali barcode atau QR Code, khususnya bagi sopir truk yang berhak membeli Biosolar.
“Para sopir truk tidak perlu bingung. Mereka bisa langsung ke helpdesk untuk memulihkan barcode-nya karena mereka termasuk yang berhak,” jelas Imron.
Langkah serupa juga dilakukan di wilayah lain. Di Jawa Tengah dan DIY, Wakil Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Jateng–DIY, Dedy Untoro Harli, menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pertamina. Ia menyebut sebagian besar barcode yang sebelumnya bermasalah kini telah kembali normal.
“Kami berterima kasih kepada Pertamina atas kerja sama dan koordinasi yang baik, sehingga para anggota kami dapat kembali bekerja dengan lancar,” ujar Dedy.
Dengan adanya pemutakhiran data dan penguatan sistem verifikasi ini, diharapkan distribusi Biosolar dapat semakin tepat sasaran dan mendukung efisiensi anggaran subsidi energi nasional.[ono]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published