Wayang Suket Indonesia, Angkat Cerita Rakyat Indonesia untuk Pementasan

 

Reporter: Dina Zahrotul Aisyi

blokTuban.com- Wayang Suket pertama kali diangkat ke ranah pertunjukan oleh Alm. Slamet Gundono yang merupakan seorang dalang asal Tegal Jawa Tengah. Sebelumnya, Wayang Suket meupakan permainan tradisional anak-anak di zaman dahulu.

Berbeda dengan wayang lain, Wayang Suket hanya memiliki empat karakter utama, yakni laki-laki gagah atau ksatria, laki-laki alus atau keturunan kraton, karakter perempuan, dan karakter anak kecil. Gaga Rizky, pendiri komunitas Wayang Suket Indonesia mengatakan karakter-karakter wayang suket tersebut bisa ditampilkan di pementasan apapun karena wayang suket tidak memiliki karakter yang pakem seperti dalam pementasan wayang kulit yang basic ceritanya berdasarkan kisah Ramayana atau Mahabarata.

“Jadi, wayang karakter laki-laki ini bisa dijadikan karakter di cerita apapun, mau dinamai siapapun nggak akan ada pertentangan, kalau di wayang kulit kan nggak bisa, Puntadewa ya Puntadewa,” jelasnya.

Ia melanjutkan biasanya empat karakter utama dalam wayang suket di tiap daerah hampir sama, hanya detail-detailnya yang berbeda. Selain karakter, pementasan wayang suket dari segi cerita juga berbeda. Pria 31 tahun tersebut menjelaskan bahwa wayang suket Indonesia konsisten membawa cerita-cerita rakyat Indonesia dalam pementasan. 

Selain mencoba melestarikan Wayang Suketnya, ia mengaku ingin pula kembali memperkenalkan cerita rakyat Indonesia. “Soalnya masih banyak dari kalangan muda yang tidak tahu tentang cerita-cerita tersebut, misalnya mereka ada yang pernah tanya Jaka Tarub sama Jaka Kendhil itu sama atau nggak,” jelasnya.

Ia melanjutkan, meskipun dalam pementasan Wayang Suket menggunakan alur cerita rakyat, selalu disisipkan isu-isu sosial terkini sehingga menjadikan cerita tersebut lebih fresh. Selain basic cerita yang berbeda dengan pementasan wayang kulit ataupun wayang golek, Gaga juga menjelaskan bahwa musik yang digunakan dalam pementasan Wayang Suket adalah musik kontemporer yakni gabungan dari musik modern dan tradisional. 

“Visual art juga kita kembangkan dengan berbagai macaam background, nggak kosongan putih aja gitu,” terang pria asal Kabupaten Tuban itu.

Pembuatan properti pementasan wayang suket membutuhkan waktu yang lumayan lama, paling minim selama tiga minggu. Hal tersebut karena karakter yang dibuat dalam pementasan wayang suket biasanya lebih rumit, lebih detail, dan lebih besar dibandingkan pembuatan Wayang Suket saat workshop pelatihan.

“Kita pernah pementasan Roro Jonggrang di Jakarta hampir tiga bulan persiapannya, mulai dari brainstorming, membuat storyboard, dan story telling,” ungkapnya. 

Ia melanjutkan dalam setiap pementasan pasti melibatkan banyak tim, dari visual art, maupun musik. Tim yang terlibat dalam pementasan pun diberikan kebebasan untuk mengeksplore sendiri konsep besar yang sudah dibreak down olehnya.

“Aku selalu bilang ke teman-teman bahwa kita ini berproses dan belajar bareng, meskipun aku tahu duluan, siapa tahu skill teman-teman itu lebih jago. Jadi nggak pernah kubatasin kreativitas mereka,” jelasnya.

Gaga juga mengungkapkan bahwa setiap pementasan biasanya akan berbeda-beda pula tim yang tergabung, sehingga ia mengatakan apabila dari pegiat seni Tuban ataupun masyarakat yang tertarik dengan wayang suket dan ingin belajar terkait itu dipersilakan untuk bergabung. 

“Wayang Suket ini sifatnya open community, siapa saja yang memang tertarik monggo kita berproses sama-sama,” pungkasnya. [din/col]