Pembuatan Produk Ecoprint, 100 Persen Berbahan Dasar dari Alam

 

Reporter: Dina Zahrotul Aisyi

 

blokTuban.com- Ecoprint merupakan salah satu seni olah kain yang prosesnya hampir sama dengan membatik. Sesuai dengan namanya ecoprint berarti mencetak menggunakan bahan-bahan natural yang berasal dari alam, mulai dari kain sampai penggunaan pewarnanya berbahan dasar alami. Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk membuat ecoprint adalah dedaunan.

 

Fitrah Faradisa, salah satu pengrajin ecoprint di Kabupaten Tuban yang telah menggeluti bidang tersebut selama kurang lebih tiga tahun, mengatakan bahwa bahan dasar untuk pembuatan produk ecoprint yang paling mudah didapatkan adalah daun jati.

 

Menurutnya, Tuban memiliki potensi dedaunan yang banyak, terlebih hutan-hutan jati. Selain itu daun jati juga merupakan bahan yang paling aman dan keren untuk ecoprint karena memiliki tanin yang tinggi sehingga menghasilkan warna yang cukup tajam.

 

Perempuan asal Indramayu tersebut juga menjelaskan bahwa sebelum ngeco (proses pembuatan ecoprint) diperlukan edukasi terkait dedaunan dan juga bahan kain yang bisa digunakan.

 

Fitrah mengatakan jika memang terdapat jenis-jenis daun yang memiliki tanin tinggi sehingga bisa mengeluarkan warna yang tajam, namun ada juga dedaunan yang hanya bisa mengeluarkan siluet. Sehingga untuk proses ecoprint ini tidak asal menggunakan sembarang daun.

 

“Sebenarnya bisa menggunakan sembarang daun asalkan daun tersebut tidak mengandung banyak air, akan tetapi untuk bahan dasar kain putih harus memilih daun yang memiliki tanin tinggi agar warnanya muncul,” jelasnya saat ditemui blokTuban.com di rumahnya pada Selasa (2/11/2021).

 

Ia menambahkan untuk daun-daun lain bisa digunakan asalkan memiliki tulang daun yang jelas dan bentuk abstrak yang unik asalkan kain yang digunakan sudah berwarna dikarenakan hasilnya hanya berbentuk siluet.

 

Pada awal ngeco, Fitrah mengaku seringkali meramban daun-daun sendiri. Dedaunan tersebut ia temukan di mana saja, di sawah, di jalanan, dan di tempat-tempat yang sekiranya dedaunan tersebut bukan milik orang lain.

 

“Setiap kemana-mana itu dulu saya lirak-lirik barangkali menemukan daun yang cocok untuk ngeco. Pernah sampai cari daun Bodhi ke Plumpang waktu awal-awal dulu, padahal di dekat RS Muhammadiyah ada,” ungkapnya.

 

Ia juga mengatakan bahwa saat ini sudah menanam sendiri beberapa jenis dedaunan yang sekiranya bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat eco print. Proses pembuatan ecoprint sendiri, dalam satu lembaran kain kurang lebih bisa memakan waktu satu minggu.

 

Pertama-tama kain yang akan digunakan untuk pembuatan ecoprint harus ditreatment terlebih dahulu, terdapat dua proses yakni scouring dan mordant. Fitrah menjelaskan bahwa scouring ini merupakan perebusan kain yang berfungsi untuk membuka serat-serat kain, sedangkan mordant adalah sejenis larutan yang unsur-unsurnya memiliki berbagai jenis, salah satunya tawas atau tunjung yang fungsinya membantu penyerapan pada kain.

 

“Sehingga nanti ketika proses steam (pengukusan) daun, zat yang keluar bisa terserap dan terikat dalam kain, itu fungsi proses scouring dan mordant. Kalau hanya direbus saja mungkin bisa tetap keluar hasilnya hanya saja ketika dicuci akan luntur,” terangnya.

 

Produk ecoprint, sesuai namanya harus menggunakan bahan yang 100% alami termasuk kain dan pewarnaanya. Biasanya kain yang digunakan dalam ecoprint ini berbahan selulose seperti rayon, piscos, katun dan bahan yang berasal dari hewani seperti wol ataupun sutra. Bahan pewarnanya sendiri juga biasanya berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti akar mahoni, kayu tegeran, dan akar mengkudu.

 

“Ada banyak sebenarnya, pokoknya semuanya itu dari alam. Kalau sudah ada campuran sintesis, kata guru saya itu sudah bukan ecoprint,” jelasnya.

 

Teknik untuk pembuatan ecoprint sendiri selain dedaunan tersebut dikukus (steam) juga terdapat teknik ponding, yakni digetok dengan palu kayu. "Jadi daunnya itu dialasin plastik, kemudian digetok biar tercetak di kain,” ungkapnya.

 

Dikarenakan proses pembuatan ecoprint yang memakan banyak waktu dan tenaga tersebut, tak heran jika pada awalnya harga-harga produk ecoprint masih tergolong untuk kalangan menengah ke atas. Namun Fitrah mengatakan bahwa saat ini sudah mulai banyak yang menggeluti bidang tersebut sehingga harga pasar ecoprint juga bisa lebih dijangkau oleh semua kalangan.

 

“Sekarang pelatihan juga sudah banyak, bahkan nggak perlu beli bisa, jika ikut pelatihan bisa bikin sendiri,” terangnya.

 

Selain itu, produk ecoprint ini adalah sesuatu yang unik karena di setiap produk tidak akan memiliki motif yang sama meskipun bahan dasar dan pewarnaanya serupa. “Bisa dibilang kalau menggunakan barang ecoprint ini ya hanya satu di dunia karena limited. Bahkan untuk baju semacam sarimbit saja, setiap baju potongan dan motifnya tidak akan sama,” jelasnya.

 

Fitrah menjual produk-produk ecoprint secara online, yakni dipasarkan di instagram miliknya @ecoprint_annabae. Ia menjual berbagai jenis kain, pakaian, sepatu, dan juga tas yang bisa dicustom sesuai dengan permintaan pelanggan. Kisaran harga produk yang dijualnya mulai dari Rp350.000 sampai dengan Rp 1.200.000. [din/col]