Reporter: Edy Purnomo
TUBAN, blokTuban.com — Perlawanan terhadap pasukan Belanda di Tuban tidak selalu berlangsung dalam pertempuran terbuka. Ketika kekuatan persenjataan tidak seimbang, para pejuang memilih bergerak melalui perang gerilya, memanfaatkan medan dan berusaha mengganggu jalur pergerakan maupun logistik pasukan Belanda.
Salah satu kawasan yang menjadi bagian dari strategi tersebut adalah Jatigembol, Merakurak.
Dalam arsip sejarah yang diterbitkan blokTuban.com pada 2017, kawasan Jatigembol disebut pernah menjadi lokasi pos pertahanan pejuang selama Agresi Militer Belanda II. Pos tersebut digunakan untuk mengganggu pergerakan pasukan Belanda yang menuju Montong.
Pada masa itu, Belanda berusaha memperkuat penguasaannya dengan membangun pos-pos militer di berbagai wilayah. Pos-pos tersebut memperoleh pasokan logistik dan persenjataan dari pangkalan yang lebih besar.
Para pejuang menyadari bahwa menghadapi pasukan Belanda secara terbuka bukan pilihan yang mudah. Karena itu, selain melakukan gerilya, mereka berusaha mengganggu jalur distribusi logistik dan merusak perbekalan yang dibutuhkan pasukan Belanda.
Di tengah situasi tersebut, nama Letda Soetjipto muncul dalam berbagai catatan perjuangan di Tuban.
Arsip blokTuban yang ditulis berdasarkan kesaksian Moh Jokomulyono, anggota Tentara Genie Pelajar (TGP) yang pernah berada di bawah komando Letda Soetjipto, menggambarkan hari-hari menjelang pertempuran di Tapen, Senori.
Pada 9 Januari 1949, setelah menyelesaikan misi penghadangan Belanda di Mondokan, Soetjipto mengungsikan dua anggota pasukannya yang terluka ke tempat perawatan pejuang di Tlogonongko, Semanding. Setelah itu ia memperkuat pasukan gerilya di Merakurak dan Montong sebelum kembali ke pos pertahanan di Saringembat, Singgahan.
Dari Saringembat, Soetjipto kemudian merencanakan gangguan terhadap pasukan Belanda yang berada di sekitar Wonosari dan Banyuurip, Senori. Kawasan tersebut memiliki arti strategis karena terdapat sumur minyak mentah yang berada dalam penguasaan Belanda.
Pada malam menjelang pertempuran, pasukannya bergerak menuju Tapen. Mereka berjalan dalam kondisi hujan dan udara malam yang dingin. Sesampainya di sebuah rumah penduduk di kawasan Punten, mereka kembali beristirahat sebelum melanjutkan persiapan.
Jumlah pasukan Soetjipto saat itu tidak besar. Dari empat regu yang berada di bawah komandonya, hanya satu regu yang ikut bersamanya menuju Tapen. Sejumlah anggota TGP kemudian bergabung sehingga kekuatannya menjadi sekitar 20 orang.
Mereka masih menunggu tambahan pasukan TRIP pimpinan Rokhmad. Ketika pasukan tersebut tiba, jumlah kekuatan bertambah 16 orang. Rencana penyerangan pun semakin matang.
Namun, sebelum rencana tersebut dijalankan, kabar datang bahwa pasukan Belanda telah memasuki Senori dan mencari keberadaan para pejuang.
Pada 23 Februari 1949 sekitar pukul 05.00, pasukan Soetjipto bergerak menyongsong pasukan Belanda dari arah barat daya, menuju Tapen.
Pertempuran kemudian pecah.
Di tempat itulah cerita perjuangan Letda Soetjipto memasuki salah satu babak paling menentukan.
Bersambung: Tapen, Pertempuran Terakhir Letda Soetjipto dan Jejak yang Tertinggal.
Sumber utama: Arsip blokTuban.com, Pos Pertahanan Koro dan Ranjau Pejuang di Jatigembol (2017) dan Hari-hari Menjelang Pertempuran Letda Soetjipto (2017). Artikel Letda Soetjipto merujuk buku Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe (1985).