Penulis: Dahrul Mustaqim
TUBAN,blokSEJARAH – Sepeda pancal menjadi bagian dari catatan sejarah perlawanan rakyat Tuban ketika pasukan Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Dari atas sepeda itulah Kopral Karmono membawa laporan penting tentang kedatangan pasukan marinir Belanda yang hendak mendarat di kawasan Glondong, Kecamatan Tambakboyo.
Peristiwa tersebut terjadi pada 18 Desember 1948. Berdasarkan catatan sejarah perjuangan di Tuban dan dokumentasi yang pernah dipublikasikan, Karmono yang merupakan anggota Order Distrik Militer (ODM) Tambakboyo melihat tiga kapal perang Belanda berada sekitar 10 mil dari garis pantai.
Informasi itu menjadi peringatan awal bagi aparat setempat mengenai pergerakan pasukan Belanda melalui jalur laut.
Tanpa perangkat komunikasi seperti yang dikenal sekarang, Karmono segera mengayuh sepeda pancalnya menuju Markas ODM Tambakboyo yang berjarak sekitar 5 kilometer. Laporan tersebut kemudian diterima Komandan ODM, Letnan Dua B.K. Nardi.
Informasi itu selanjutnya diteruskan melalui jaringan komunikasi hingga sampai kepada Bupati Tuban saat itu, KH. Mustain. Pemerintah daerah kemudian mengambil langkah untuk mengamankan dokumen-dokumen penting pemerintahan sebelum pasukan Belanda memasuki pusat kota.
Operasi Zeemeeuw
Pendaratan di Glondong merupakan bagian dari operasi militer Belanda yang dikenal dengan nama Operasi Zeemeeuw. Dalam arsip Nationaal Archief Belanda, operasi tersebut tercatat sebagai operasi pendaratan Mariniersbrigade di Glondong pada Desember 1948.
Pemilihan kawasan pesisir Glondong menjadi bagian dari strategi militer Belanda untuk memasuki wilayah Tuban melalui jalur laut. Dari kawasan pesisir tersebut, pasukan Belanda kemudian bergerak menuju sejumlah wilayah strategis di pedalaman.
Kawasan Tuban dan sekitarnya juga memiliki arti penting secara ekonomi karena terhubung dengan wilayah penghasil minyak di Tuban, Bojonegoro hingga Cepu. Namun, operasi Belanda tidak semata-mata berkaitan dengan penguasaan sumber minyak, melainkan merupakan bagian dari operasi militer yang lebih luas terhadap wilayah Republik Indonesia.
Laporan Karmono tidak menghentikan pendaratan Belanda. Pasukan Belanda tetap berhasil mendarat dan melanjutkan pergerakannya. Namun, laporan tersebut membuat aparat dan pemerintahan Tuban mengetahui kedatangan mereka lebih awal sehingga memiliki kesempatan untuk melakukan langkah pengamanan.
Di sinilah kisah sepeda pancal Kopral Karmono menjadi penting. Di tengah keterbatasan komunikasi dan situasi perang, sebuah perjalanan sekitar lima kilometer menjadi mata rantai penting dalam penyampaian informasi mengenai pergerakan pasukan Belanda.
Jejak Sejarah di Pantai Glondong
Peristiwa pendaratan Belanda di kawasan Glondong kemudian menjadi salah satu bagian dari sejarah perjuangan di Kabupaten Tuban.
Jejak sejarah tersebut kini berada tidak jauh dari kawasan yang kemudian digunakan sebagai fasilitas latihan Korps Marinir. Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Korps Marinir di Kabupaten Tuban diresmikan pada 21 November 2015.
Dengan demikian, kawasan pesisir yang pernah menjadi bagian dari jalur pendaratan pasukan Belanda tersebut kini juga memiliki fungsi strategis dalam kegiatan pertahanan dan latihan militer.
Kisah Kopral Karmono mengingatkan bahwa dalam catatan sejarah perang, peran penting tidak selalu dimainkan oleh mereka yang berada di garis depan pertempuran. Dalam kasus Tuban, seorang kopral dengan sepeda pancalnya menjadi penghubung informasi penting ketika pasukan Belanda mulai mendekati pesisir.
Sebuah kayuhan sepeda yang sederhana, tetapi menjadi bagian dari cerita besar Agresi Militer Belanda II di Tuban.
Sumber:
- Nationaal Archief Belanda, arsip Operasi Zeemeeuw.
- Catatan Dewan Harian Cabang (DHC) 45, “Peristiwa Perjuangan Dalam Agresi II di Kabupaten Tuban dan Pembudayaan Nilai Kejuangan Melalui Napak Tilas”, 2005.
- Dokumentasi dan liputan sejarah blokTuban.com mengenai pendaratan Belanda di Tuban.