Reporter: Edy Purnomo
JAKARTA, blokIndonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur pada perdagangan Senin (28/9/2026), bertepatan dengan hari pertama penerapan aturan baru harga minimum saham Rp1. IHSG ditutup anjlok 1,51 persen atau 94,03 poin ke level 6.147,86.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Katadata menunjukkan tekanan terjadi cukup luas. Sebanyak 532 saham melemah, sementara 180 saham menguat dan 180 saham lainnya stagnan.
Koreksi terdalam terjadi pada sektor teknologi yang merosot 4,46 persen. Sektor barang baku menyusul dengan penurunan 3,33 persen, sedangkan sektor barang konsumen non-primer terkoreksi 3,04 persen.
Di tengah tekanan tersebut, hanya sektor transportasi dan energi yang mampu bertahan di zona hijau. Masing-masing menguat 0,47 persen dan 0,04 persen.
Perdagangan Senin juga menjadi momentum mulai berlakunya ketentuan baru BEI yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham.
BEI melalui Direktur Utama Jeffrey Hendrik sebelumnya menyampaikan bahwa perubahan tersebut ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan memperbaiki proses pembentukan harga saham, terutama pada saham yang selama ini berada di level Rp50 dan memiliki aktivitas transaksi terbatas.
Namun, BEI menilai penerapan harga minimum Rp1 tidak dapat disebut sebagai satu-satunya pemicu koreksi IHSG. Seperti diberitakan ANTARA, BEI menyebut kontribusi saham-saham yang terdampak langsung aturan tersebut terhadap IHSG relatif kecil.
Tekanan pasar juga datang dari sentimen global. Pergerakan harga minyak mentah, yield obligasi Amerika Serikat, dolar AS serta kondisi geopolitik menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan investor.
Kontan mengutip analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto yang menilai tekanan terhadap pasar saham domestik turut dipengaruhi capital outflow, pelemahan rupiah, kenaikan indeks dolar AS dan yield obligasi global.
Masih Rawan Koreksi
Perhatian investor pada perdagangan Selasa (29/9/2026) kini tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan level 6.100.
Phintraco Sekuritas, seperti dikutip Suara.com, memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area support 6.000–6.100 apabila tekanan berlanjut.
Sementara itu, MNC Sekuritas dalam riset hariannya juga melihat IHSG masih berada dalam tekanan. Area 6.088–6.111 menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan dalam perdagangan berikutnya.
Dengan posisi penutupan di 6.147,86, IHSG hanya berjarak sekitar 48 poin dari level 6.100. Pergerakan indeks pada Selasa akan menjadi perhatian pasar setelah koreksi tajam pada hari pertama penerapan mekanisme harga minimum saham Rp1.
Selain perkembangan saham-saham yang terdampak aturan baru, investor juga akan mencermati pergerakan rupiah, yield US Treasury, harga minyak mentah dan sentimen pasar global sebagai faktor yang dapat memengaruhi arah perdagangan.
Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI), ANTARA, Katadata, Kontan, MNC Sekuritas, Phintraco Sekuritas, dan Suara.com.