Penulis: Luluk Hariyati
blokTuban.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ABCD IAINU Tuban Tahun 2026 Kelompok 8 Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, melaksanakan kegiatan ziarah sekaligus observasi sejarah di Petilasan Goa Gembul, Jumat (10/7/2026). Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.
Petilasan Goa Gembul yang berada di Dusun Gembul, Desa Jadi, merupakan salah satu situs yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai tempat bersejarah. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang dan penuturan juru kunci, lokasi tersebut dipercaya pernah menjadi tempat para wali berkumpul, beristirahat, bertapa, dan bermusyawarah dalam membahas strategi penyebaran agama Islam di Nusantara.
Perjalanan menuju lokasi petilasan cukup menantang. Dari Balai Desa Jadi, rombongan melewati jalan alternatif yang berada di kawasan tambang batu kapur, yang menjadi salah satu potensi alam Desa Jadi.
Setelah melewati area pertambangan, perjalanan dilanjutkan melalui jalan menurun yang cukup terjal menuju sebuah lembah yang dikelilingi pepohonan besar, aliran sungai, dan tebing batu kapur. Kondisi tersebut mengharuskan setiap pengunjung berhati-hati selama perjalanan.
Juru kunci Petilasan Goa Gembul, Samidi, mengatakan bahwa cerita mengenai sejarah petilasan diwariskan secara turun-temurun oleh para pendahulu. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan petilasan tersebut maupun kapan situs itu mulai dikenal masyarakat.
"Saya hanya meneruskan amanah untuk menjaga dan merawat petilasan ini. Mengenai siapa yang menemukan dan sejak kapan ada, saya juga tidak mengetahui secara pasti karena cerita itu diwariskan dari generasi sebelumnya," ujar Samidi.
Di kawasan petilasan juga terdapat sebuah batu memanjang yang dibalut kain putih. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, batu tersebut dipercaya dahulu menjadi tempat mengikat gajah yang dibawa para wali ketika berkumpul di kawasan tersebut. Meski demikian, cerita tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Selain menjelaskan sejarah kawasan petilasan, Samidi juga mengingatkan para peziarah agar selalu menjaga adab selama berada di lokasi. Ia mengimbau setiap pengunjung datang dengan niat baik, bersikap sopan, serta menghormati aturan dan pantangan yang berlaku di kawasan petilasan.
"Yang terpenting ketika berziarah adalah menjaga niat baik, bersikap sopan, dan menghormati tempat ini serta sesama pengunjung," pesannya.
Samidi juga mengaku hingga saat ini belum memiliki penerus sebagai juru kunci Petilasan Goa Gembul. Ia berharap suatu saat ada anggota keluarganya yang bersedia melanjutkan pengabdian untuk menjaga dan merawat situs tersebut agar tetap lestari.
Menurut penuturan Samidi dan cerita yang berkembang di masyarakat, Goa Gembul juga dipercaya memiliki keterkaitan dengan perjalanan dakwah para wali di Pulau Jawa. Salah satu kisah yang masih diwariskan menyebutkan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat musyawarah para wali sebelum penyebaran Islam ke berbagai daerah, termasuk dikaitkan dengan kisah menjelang pendirian Masjid
Demak. Selain itu, Tlatah Gembul juga dikenal masyarakat sebagai salah satu kawasan tua di Kabupaten Tuban.
Melalui kegiatan ziarah dan observasi ini, mahasiswa KKN IAINU Tuban berharap nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang dimiliki Petilasan Goa Gembul dapat terus dilestarikan. Selain menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian situs-situs bersejarah yang menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Tuban.[Luk/Rul]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published