Mengqada Utang Puasa Ramadan Sebelumnya dengan Puasa Dzulhijjah? Begini Niatnya

 

Oleh: Dwi Rahayu

blokTuban.com – Puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan karena keutamaannya yang besar. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari di mana amal shaleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah)." (HR. Bukhari)

Anjuran puasa sunnah pada tanggal satu sampai sembilan Dzulhijjah ini sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, 

 مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هٰذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ 

Artinya: “Tiak ada hari dimana amal shalih padanya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: ‘Tidak juga dari jihad fi sabilillah?’ Beliau menjawab: ‘Jihad fi sabilillah juga tidak, kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan satu pun dari keduanya.”

Lantas dengan kesempatan mulia ini bisakah umat Islam mengqada utang puasa Ramadan sebelumnya dengan puasa sunnah di bulan Dzulhijjah?

Terdapat pendapat ulama yang memperbolehkan, seperti dikutip dari NU Online Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib Juz V, mengutip Al-Barizi, tulis Ustadz Alhafiz, bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura, misalnya, untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura. Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Pandangan tersebut merupakan pendapat yang mu’tamad.

Sayyid Bakri dalam kitab I'anatut Thalibin menerangkan bahwa orang yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan untuk berpuasa akan mendapatkan keutamaan sebagai mereka yang berpuasa sunnah pada hari tersebut. Meskipun niatnya adalah qadha puasa atau puasa nazar.

وفي الكردي ما نصه في الأسنى ونحوه الخطيب الشربيني والجمال و الرملي الصوم في الأيام المتأكد صومها منصرف إليها بل لو نوى به غيرها حصلت إلخ زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا نواه معه أو لا

Artinya: Di dalam Al-Kurdi terdapat nash yang tertulis pada Asnal Mathalib dan sejenisnya yaitu Al-Khatib as-Syarbini, Syekh Sulaiman al-Jamal, Syekh ar-Ramli bahwa puasa sunnah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Tetapi orang yang berpuasa dengan niat lain pada hari-hari tersebut, maka dapatlah baginya keutamaan... Ia menambahkan dalam kitab Al-I'ab. Dari sana, Al-Barizi berfatwa bahwa seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya, baik ia meniatkan keduanya atau tidak. (Lihat: Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I'anatut Thalibin, [Kota Baharu-Penang-Singapura, Sulaiman Mar'i: tanpa catatan tahun], juz II, halaman: 224).

Kendati demikian, bagi yang memiliki utang puasa Ramadan baiknya mengqadha utang puasanya terlebih dahulu. Jika itu sudah rampung, orang yang sudah lunas membayar utang puasanya baru boleh mengamalkan puasa sunnah.

Sementara itu menurut pandangan Al-Khatib Al-Syarbini, orang yang mengqadha puasa tidak mendapatkan keutamaan puasa sunnah di bulan tersebut. Orang tersebut masih dianggap mengamalkan puasa sunnah, namun ia tidak mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.

Namun, orang yang berutang puasa karena memang sengaja tidak berpuasa tanpa alasan yang dibolehkan syariat, maka ia harus mengqadha utang-utang puasanya lebih dahulu.

Berbeda apabila orang yang tidak berpuasa karena udzur syariat seperti dalam perjalanan, haid, sakit, atau sudah usia senja, maka makruh untuk menunaikan puasa sunah sebelum menuntaskan qadha puasanya sebagaimana disampaikan Al-Mahamili dan Al-Jurjani yang dikutip oleh Syamsuddin Ar-Ramli dalam kitabnya, Nihayatul Muhtaj.

Niat Puasa Dzulhijjah Digabung dengan Puasa Qada Ramadan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah swt.

 

Temukan konten blokTuban.com menarik lainnya di GOOGLE NEWS