Tuban, Kota Tanpa Kritik Seni Pertunjukan

Oleh: *)Bambang Budiono 

blokTuban.com - Seni pertunjukan merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang kaya dan mendalam. Di Tuban, seni pertunjukan memiliki warisan budaya yang beragam, seperti tari, teater, musik, dan seni bela diri tradisional. 

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan sepinya kritik terhadap seni pertunjukan di Tuban. Dalam tulisan ini, kita akan menjelajahi faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab sepinya kritik tersebut dan mengusulkan beberapa langkah untuk membangun wacana kritis yang lebih aktif untuk kemajuan budaya kita.

Faktor-faktor penyebab sepinya kritik seni pertunjukan Tuban:

1. Kurangnya ruang publik untuk kritik. Tidak adanya platform yang memadai bagi kritikus seni dan penikmat seni untuk menyuarakan pandangan mereka tentang seni pertunjukan telah menghambat perkembangan wacana kritis di Tuban. Media massa yang masih kurang memperhatikan seni pertunjukan juga merupakan faktor yang berperan dalam sepinya kritik.

2. Kurangnya pendidikan tentang seni pertunjukan Keterbatasan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang seni pertunjukan juga menjadi faktor yang mempengaruhi sepinya kritik. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang seni pertunjukan, sulit bagi penonton untuk menghargai dan mengkritik karya seni dengan baik.

3. Perlindungan dan pembatasan kebebasan berekspresi: Beberapa seniman dan kritikus seni merasa terkekang oleh kebijakan atau norma sosial yang membatasi kebebasan mereka dalam menyuarakan pandangan mereka tentang seni pertunjukan. Hal ini membuat mereka enggan untuk mengkritik dengan tajam dan terbuka.

Membangun wacana kritis untuk kemajuan budaya

1. Meningkatkan pendidikan dan kesadaran seni, Pendidikan tentang seni pertunjukan harus dimulai sejak usia dini dan diperluas ke dalam kurikulum sekolah. Mengadakan workshop, seminar, dan diskusi publik tentang seni pertunjukan juga dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya seni dalam budaya kita.

2. Mendorong terbentuknya platform kritik seni. Media massa, baik cetak maupun online, perlu memberikan lebih banyak ruang dan perhatian pada seni pertunjukan. 

3. Menggandeng kritikus seni yang berpengalaman dan memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengulas karya seni secara mendalam dapat memperkaya wacana kritis di Tuban.

4. Membangun komunitas seni yang inklusif. Dengan menciptakan ruang dan kesempatan bagi seniman dan penikmat seni untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan berbagi pandangan, kita dapat membangun komunitas seni yang lebih inklusif. Diskusi, forum, dan pertemuan rutin antara seniman, kritikus, dan penonton dapat mendorong terjadinya dialog yang produktif dan memperkaya pengalaman seni kita.

Sepinya kritik seni pertunjukan Tuban adalah tantangan yang perlu dihadapi secara serius. Dengan membangun wacana kritis yang lebih aktif, kita dapat mengembangkan pemahaman dan apresiasi yang lebih mendalam terhadap seni pertunjukan. 

Langkah-langkah seperti meningkatkan pendidikan seni, mendorong terbentuknya platform kritik seni, dan membangun komunitas seni yang inklusif dapat membawa kita menuju kemajuan budaya yang lebih besar. Kritik seni yang konstruktif akan memperkaya dan memperkuat kualitas seni pertunjukan kita, serta meningkatkan peran budaya dalam masyarakat.

Maka sudah selayaknya, penonton seni pertunjukan menjadi penonton yang sama kritisnya dengan pelaku pertunjukan, sehingga keseimbangan dan kebersamaan dalam memajukan daya intelektual akan menghasilkan ekosistem seni dan kritik seni yang lebih maju dan memiliki masa depan. (*)

 

Temukan konten blokTuban.com menarik lainnya di GOOGLE NEWS

 

*)Penulis adalah salah satu pegiat seni Tuban yang berasal dari Kecamatan Plumpang.