Komunitas Tuban
Ingin Desanya Maju, Pemuda Tanggir Dirikan RBT
Berangkat dari semangat kepemudaan, ratusan remaja asal Desa Tanggir, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban membentuk sebuah komunitas. RBT, adalah sebutan komunitas Remaja Bumi Tanggir.
Berangkat dari semangat kepemudaan, ratusan remaja asal Desa Tanggir, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban membentuk sebuah komunitas. RBT, adalah sebutan komunitas Remaja Bumi Tanggir.
Komunitas Blusukan Alam Tuban (BAT) yang telah berdiri sejak tahun 2014, kini semakin bertambah usia semakin aktif melakukan penjelajahan potensi destinasi wisata.
Berdiri pada tahun 2014, kini Komunitas Blusukan Alam Tuban (BAT) anggotanya terus bertambah, pada anniversery yang ketiga yang diselenggarakan beberapa hari kemarin anggota BAT yang aktif mencapai sekitar 50 anggota.
Dalam rangka Aniversary Komunitas Blusukan Alam Tuban (BAT) yang ke-3, Minggu (12/2/2017) secara spontanitas panitia melakukan penggalangan dana yang dikhususkan untuk Romli (44) warga RT/2 RW/1 Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban yang lumpuh akibat kecelakaan kerja.
Komunitas Blusukan Alam Tuban (BAT) atau komunitas yang memperkenalkan potensi-potensi wisata alam di Kabupaten Tuban, merayakan Aniversary (Ulang Tahun) yang ke-3 di Pantai Cemara, Minggu (12/2/2017).
Setelah resmi terbentuk, 20 November 2016 lalu, anggota Bonek Tuban Bersatu (BTB) terus bertambah. Faktor itu ditengarai karena meleburnya komunitas Bonek yang ada di Bumi Ronggolawe untuk menjadi satu, Yaitu Bonek Tuban Bersatu (BTB).
Orang bilang, kegemaran mengendarai trail merupakan hobby mahal. Otomatis, untuk menjadi bagian komunitas trail harus memiliki trail. Rupanya untuk dapat memiliki satu unit trail, minimal harus merogoh kocek Rp30 juta lebih. <div dir="auto"> </div>
Trail kian hari kian menemukan tempat di tengah pecinta otomotif dewasa ini. Seperti sekelompok warga asal Kecamatan Rengel yang menamai diri sebagai Trail Rengel Adventure Comunity atau disingkat Traco.
Guna kesuksesan di setiap kegiatan, Komunitas APT perlu dukungan stakeholders setempat. Alasannya, saat ini bertahannya dan berkembangnya budaya kampung tempat Komunitas APT berdiri, berasal dari warga dan anggota komunitas itu sendiri. Untuk itu, tidak mungkin budaya yang sudah dilahirkan bisa bertahan tanpa ada dukungan pemerintah maupun para pendahulu.
Berawal dari tongkrongan warung kopi, puluhan pemuda yang tinggal di daerah Tanggung, Kedungjambangan, Bangilan, Tuban tergerak membentuk sebuah wadah yang bisa menampung aspirasi positif kalangan remaja.