Sapu dan Doa yang Melangit :  Bukti Ketulusan Umat Klenteng Kwan Sing Bio Tuban Menyambut Hari Baru

Reporter : Wiyono

blokTuban.com – Konflik selama 15 tahun terakhir memuat umat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kwan Sing Bio/ Tjoe Ling Kiong atau Klenteng Tuban lelah. Konflik internal itu tak hanya membuat lelah fisik, namun mental dan batin mereka juga ikut layu.

Tak ada lagi rasa nyaman dan damai di tempat ibadah itu. Tak lagi khusyuk dan hening ketika memanjatkan doa di sana. Selalu ada rasa khawatir, cemas dan was-was ketika pengunjung beribadah di sana.

Meski demikian umat tetap semangat, tetap yakin dan memberikan sumbangsih yang tulus pada klenteng, sambil melangitnya doa, era baru dan kehidupan nyaman dan damai kembali hadir. Tanda-tanda era kehidupan baru, mulai hadir dan dirasakan umat.

Pengabdian umat pada tempat ibadahnya tak surut. Perjuangan dan semangat menyongsong damai terus digelorakan, dan perhatian pada kenyamanan di klenteng terus diperhatikan.

Seperti siang itu, Minggu (26/4/2026), di halaman dan lorong-lorong TITD Kwan Sing Bio Tuban dipenuhi umat. Tak ada aba-aba, tak ada komando, namun satu per satu orang datang. Ada yang membawa sapu, kain lap, ember berisi air, hingga perlengkapan sederhana lainnya. Mereka datang dengan satu hal yang sama, niat tulus mengabdi pada tempat ibadahnya.

Di dalam ruangan-ruangan klenteng, suara sapu beradu dengan lantai berpadu dengan tawa yang pecah tanpa dibuat-buat. Seorang ibu tampak menunduk tekun menggosok lantai, sementara di sudut lain beberapa umat merapikan altar dengan penuh kehati-hatian.

 Ada pula yang membersihkan jendela, memastikan kaca kembali bening, seolah ingin membuka jalan bagi cahaya yang lebih jernih masuk ke dalam ruang-ruang suci itu.

Tak ada yang merasa paling penting. Tak ada yang menunggu perintah. Semua bergerak seperti sudah saling memahami.

Hari itu, mereka sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebersihan, yakni Reuni Kimsin dan Kirab Budaya yang rencananya akan digelar pada 1–3 Mei 2026 mendatang.

Bagi umat, persiapan ini bukan sekadar kerja bakti. Ini adalah sembahyang dan pengabdian dalam bentuk paling nyata. Melalui tangan yang bekerja, peluh yang jatuh, dan hati yang rela serta doa-doa yang terus mengalir dari batin yang iklas.

Di tengah kesibukan itu, batas usia seperti menghilang. Anak muda dan orang tua bekerja berdampingan. Perbedaan latar belakang tak lagi terasa. Yang tersisa hanyalah rasa memiliki yang sama terhadap rumah bersama. Klenteng yang telah menjadi saksi perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Tuban.

Kwan Sing Bio bukan klenteng biasa. Berdiri megah di pesisir utara Jawa, klenteng ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara dan menjadi ikon spiritual sekaligus budaya di Kabupaten Tuban.

Didirikan ratusan tahun lalu, klenteng ini didedikasikan untuk Dewa Kwan Sing Tee Koen atau Guan Yu, sosok yang dihormati sebagai simbol kesetiaan, keberanian, dan kejujuran.

Pada masa lalu, Kwan Sing Bio menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, sekaligus spiritual masyarakat Tionghoa di Tuban. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan pesisir menjadikannya persinggahan para pedagang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

Klenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang bertemunya budaya, tempat nilai-nilai diwariskan, dan identitas dijaga.

Kemegahannya pun tak lepas dari sejarah panjang tersebut. Patung Kwan Sing Tee Koen yang pernah berdiri menjulang setinggi puluhan meter menjadi simbol kebanggaan sekaligus daya tarik wisata religi yang mendunia. Ribuan peziarah  dari seluruh penjuru negeri, bahkan dari luar negeri datang setiap tahun, membawa doa dan harapan.

Namun di balik segala kemegahan itu, kekuatan sejati Kwan Sing Bio justru terletak pada umatnya.

Hal itu terasa jelas siang itu. Saat lantai-lantai kembali mengilap, bukan sekadar bersih yang tercipta, melainkan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan. Saat jendela-jendela kembali bening, ada harapan agar setiap tamu yang datang nanti merasa diterima, merasa pulang.

“Ini bukan hanya bersih-bersih,” seolah begitu yang ingin mereka katakan melalui tindakan. “Ini cara kami mencintai.”

Reuni Kimsin dan Kirab Budaya yang akan digelar bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Ia adalah ruang untuk menyambung kembali tali persaudaraan, memperkuat identitas, dan merawat tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Namun semua itu tidak dimulai dari panggung megah atau iring-iringan meriah. Ia dimulai dari hal sederhana, dari sapu yang digerakkan bersama, dari tangan-tangan yang rela bekerja tanpa pamrih, dari kebersamaan yang tumbuh tanpa dipaksa.

Di Kwan Sing Bio Tuban, hari itu mengajarkan satu hal penting, bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak diukur dari seberapa besar perayaannya, tetapi dari seberapa tulus anggotanya saling menjaga.

Dan di antara peluh, senyum, serta diam yang penuh makna, mereka telah menunjukkan bahwa gotong royong bukan sekadar kata. Ia hidup. Ia nyata. Dan ia menginspirasi.[ono]