Petani Sampar Banyu di Mandirejo Raup Jutaan Rupiah dari Tradisi Nyekar

Penulis: Wafiq Habibah

blokTuban.com - Di balik tradisi nyekar yang masih kuat dijaga masyarakat Jawa, terdapat peluang ekonomi yang dimanfaatkan oleh warga Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Selasa (14/07/2026). Salah satunya adalah budidaya bunga sampar banyu, atau yang dikenal secara umum sebagai bunga pacar air (Impatiens balsamina). Di sejumlah daerah di Jawa tanaman ini juga disebut sampar banyu.

Pak Bambang, salah seorang petani bunga di Desa Mandirejo, mengaku telah lama membudidayakan sampar banyu karena perawatannya relatif mudah dan memiliki permintaan yang stabil. Bunga tersebut banyak digunakan masyarakat untuk tabur bunga saat berziarah atau nyekar di makam keluarga maupun leluhur.

"Saya memilih menanam sampar banyu karena mudah ditanam. Bunganya memang banyak dicari untuk nyekar atau menabur bunga di atas makam," ujar Pak Bambang saat diwawancarai.

Menurutnya, harga jual bunga sampar banyu sangat bergantung pada waktu dan tingkat permintaan. Pada hari-hari biasa, harga berkisar antara Rp4.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Namun, menjelang hari-hari tertentu seperti Jumat Wage atau saat banyak masyarakat melaksanakan tradisi ziarah makam, harga dapat melonjak hingga Rp30.000–Rp50.000 per kilogram.

Permintaan bunga juga meningkat tajam ketika memasuki rangkaian acara keagamaan, seperti haul, sedekah bumi, atau tradisi nyekar massal. Pada momen tersebut, omzet penjualan yang diperoleh Pak Bambang bahkan mampu mencapai sekitar Rp3 juta.

"Tidak setiap hari ramai, tetapi kalau ada acara keagamaan yang banyak orang nyekar, penjualannya bisa sangat meningkat. Omzetnya bisa sampai sekitar tiga juta rupiah," tambahnya.

Tradisi nyekar yang masih lestari di masyarakat Tuban tidak hanya menjadi bagian dari budaya dan penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi bagi para petani bunga lokal. Melalui budidaya sampar banyu, warga Desa Mandirejo mampu mempertahankan mata pencaharian sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat akan bunga tabur yang selalu dicari pada berbagai momentum keagamaan dan budaya.

*Penulis merupakan mahasiswi IAINU Tuban yang tengah melaksanakan pengabdian masyarakat.