Reporter : Wiyono
blokTuban.com – Sebanyak 26 mahasiswa program magister (S2) Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban mulai menjalani perkuliahan, Kamis (26/2/2026). Di hari pertama, para mahasiswa menjalani Matrikulasi dan Kuliah Umum Program Magister Pendidikan Agama Islam bagi mahasiswa baru Program Magister PAI.
Acara yang dilaksanakan di smart class IAINU Tuban itu langsung dipimpin Rektor IAINU Tuban Prof.Dr.M.Syamdul Huda, S.Fil.I. hadir pula para Wakil Rektor, Dekan Tarbiyah yang membawahkan Prodi PAI dan Kaprodi PAI.
Prof Syamsul Huda mengatakan, rerata jumlah mahasiswa magister memang tidak banyak, hanya sekitar 20 persen dari total mahasiswa.
‘’Semakin ke atas semakin kecil. Ini adalah mahasiswa awal di program magister PAI IAINU, semoga yang awal ini menjadi yang terbaik,’’ ujarnya.
Menurut Prof Syamsul, prodi baru ini apa yang bisa ditawarkan? Pria yang tinggal di Sidoarjo itu menceritakan bahwa IAINU pernah dijadikan mitra untuk riset dan magang untuk madrasah. Meneliti terkait bagaimana literasi yang dilakukan oleh guru dan siswa. Ternyata hasilnya memrihatinkan karena masih rendah.
‘’Padahal learning itu dari tidak tahu menjadi tahu, kemudian setelah tahu melakukan, lalu menjadi ahli. Kalau yang paling dasar saja yakni keinginan untuk tahu saja rendah, lalu bagaimana. Maka ini menjadi PR bersama,’’ tambahnya.
Maka, mahasiswa IAINU ini yang kelak menjadi guru, tidak sekadar guru, namun guru yang guru. Artinya harus melakukan riset, penelitian-penelitian dan sebagainya.
‘’Jadi mahasiswa harus kerja keras, akan ada banyak tugas-tugas membuat jurnal atau makalah,’’ ucapnya.
Prof Syamsul juga menyinggung fenomena anak-anak akhir-akhir ini. Misalnya di Nusa Tenggara yang ada siswa bunuh diri lantaran tidak bisa membeli peralatan sekolah. Lalu, di Sumatera ada anak yang membunuh ibunya karena tersinggung saat diingatkan ketika main handphone.
‘’Menghadapi fenomena seperti itu lalu apa yang akan dilakukan sekolah. Maka guru harus punya kemampuan analisis dan riset,’’ urainya.
Saat ini dengan massifnya teknologi AI, maka guru juga harus punya metode atau cara mengajar yang disesuaikan. Kalau mengajar itu-itu saja, menurut Prof Syamsul guru akan kalah dengan anak didik. Sebab, dari handphone yang dipegang anak didik bisa menjawab apa aja pertanyaan yang diajukan.
Maka, menurutnya harus dirumuskan bagaimana pembelajaran ke depan dan apa dampaknya. (Lembaga pendidikan) jangan hanya menjadi pabrik ijazah, maka harus upgrade.
‘’Kalau perilaku murid seperti itu, maka ada masalah dengan gurunya, kalau ada masalah dengan gurunya maka ada masalah dengan dosennya. Paradigma terus berubah, kalau selalu mengatakan jaman dulu gini-gini, maka akan ketinggalan,’’ katanya.
Karena itu, mahasiwa baru magister PAI ini harus mulai menata pikiran bahwa pendidikan adalah investasi. Prof Syamsul sampai saat ini tetap meyakini bukan politik dan ekonomi yang bisa memberikan perubahan, tapi pendidikan.
‘’Singapura itu tak punya sumberdaya alam tapi bisa maju dan kaya karena SDM, begitu juga dengan Israel sama. Karena humannya yang diubah maka dampaknya luar biasa,’’ ungkapnya.
Pria asal Bojonegoro itu kembali mengingatkan pada para mahasiswa agar datang ke kampus bukan hanya untuk menambah gelar, karena saat ini gelar banyak untuk sekadar gaya-gayaan.
‘’Ambil S2 itu punya tanggung jawab untuk jadi mentoring yakni pendamping bagi masyarakat, desainer yakni merancang kehidupan masyarakat, dan thinking harus jadi pemikir bukan follower. Harus serius kuliahnya jangan lama-lama 1,5 tahun sudah lulus,’’ tandasnya.
Sementara Kaprodi S2 PAI Nurfatoni Prasetyo menambahkan, untuk angkatan pertama ini, ada 26 mahasiswa program maguster PAI.
‘’Mulai minggu ini, atau semester genap perkuliahan dimulai,’’ terangnya.[ono]
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published