Oleh : Sri Wiyono
blokTuban.com – ‘’Bila rakyat berani mengeluh, Itu artinya sudah gasat’’. Gasat bermakna gawat, genting, darurat, atau sudah keterlaluan. Menurut Google, kata ‘gasat’ ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi yang kritis, berbahaya, atau puncak dari sebuah masalah yang memerlukan tindakan tegas.
Kalimat di atas adalah penggalan dari bait puisi ‘PERINGATAN’ yang ditulis Wiji Thukul pada zaman Orde Baru dulu. Wiji Thukul adalah seniman yang puisi-puisinya sering menggelorakan kritik sosial, atau menggambar situasi dan sakitnya hati rakyat kebanyakan kala itu.
Lihat bait terakhir puisi itu :
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
Bisa Anda bayangkan bagaimana sakitnya kuping para penguasa kala itu dengan puisi ini. Zaman ketika pemerintah sering represif, mengagungkan yang namanya stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Maka, bait-bait kalimat puisi yang menguliti kebijakan pemerintah ini ibarat air comberan yang diguyurkan ke muka.
Dan, Wiji Thukul tetiba menghilang sampai sekarang. Jika meninggal pun jenzahnya belum ditemukan hingga kini.
Kembali pada peringatan yang disampaikan Wiji Thukul puluhan tahun lalu, karena kabar yang masyhur puisi itu ditulis pada 1986 : Ketika rakyat sudah berani mengeluh, maka gasat !
Lalu, ketika akhir-akhir ini muncul keluhan-keluhan secara terbuka dari masyarakat yang ditujukan pada pemegang kekuasaan dan kewenangan apa artinya?
Belum hilang ingatan keluhan soal gas ukuran 3 kilogram dan gula pasir yang langka, hingga pembelian dibatasi dan harus antre, muncul viralnya lagu ‘Siti Mawarni’ versi narkoba, lalu disusul versi korupsi, versi judol, dan versi mafia tanah serta lainnya.
Lagu "Siti Mawarni" yang viral di media sosial itu diciptakan oleh Amin Wahyudi Harahap asal Labuhan Batu, Sumatra yang resah dan risau dengan masa depan generasi muda atas maraknya peredaran narkoba khususnya sabu, di daerah tempat tinggalnya.
Anda bisa mencari di Youtube bagaimana lagu itu dikumandangkan secara serempak ala suporter bola yang mendukung tim kesayangannya saat tanding. Dan, lagu itu memang kerab dinyanyikan Suporter tim sepakbola PSS Sleman, Jogjakarta kala timnya tanding.
Jika Anda ingin merasakan atmosfir laga sepak bola dengan puluhan ribu suporternya, sesekali Anda perlu mencoba datang ke stadion dan menyaksikan secara langsung sebuah pertandingan sepak bola. Emosi Anda akan teraduk-aduk menyaksikan dan merasakan semangat ribuan suporter menyanyi dan beteriak mendukung tim pujaannya.
Kembali pada rakyat yang mengeluh, yang lalu melemparkan kritik pada pemerintah. Dunia media sosial memang luar biasa mendukung sebuah aksi, termasuk kritikan begitu cepat menyebar dan viral lalu diikuti oleh banyak orang setelahnya.
Seorang seniman bisa melontarkan kritik tajamnya berbalut seni. Termasuk Amin Wahyudi Harahap yang menulis syair lagu Siti Mawarni itu. Pun, di Jawa Timur ada lagu yang juga berisi kritikan dari Dalang Poer. Lagu ‘Pengin Misuh’ yang ditulis seniman asal Ngawi itu banyak dinyanyikan berbagai versi, termasuk dinyanyikan Dalang Poer duet bareng Deny Caknan yang juga asal Ngawi.
Artinya, rakyat bisa melontarkan kritiknya pada pemerintah dengan banyak jalan. Penulis bisa mengkritik melalui ujung penanya. Bagi mahasiswa kritikan bisa dilontarkan dalam bentuk demo turun jalan, seperti sering dilakukan aktivis mahasiswa di Tuban.
Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonenesia (PMII) Tuban misalnya yang kerab turun jalan memrotes kebijakan dan memberikan tuntutan dan catatan pada Bupati Tuban Mas Lindra.
Pun sama saat pidato Presiden Prabowo pada peringatan Hari Buruh dikritik Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. Pidato Presiden Prabowo dinilai sebagai keluar dari konteks acara, tak sesuai tema, karena peringatan Hari Buruh tapi banyak membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
‘’Ini presiden atau panitia MBG sih,’’ kecam Tiyo.
Apakah kritik pada pemerintahan hanya terjadi baru-baru ini saja? Atau terjadi sejak zaman modern ketika negara sudah dibentuk?
Jawabannya TIDAK !!
Dalam sejarah Islam menulis saat Nabi dikritik. Ketika itu Rasulullah membagikan harta rampasan perang Hunain, namun ada sahabat yang merasa pembagiannya tidak adil dan berkata:
"Ini adalah pembagian yang tidak dilandasi ridha Allah".
Mendengar itu, Rasulullah bersabda,
"Semoga Allah merahmati Nabi Musa. Beliau disakiti lebih dari ini namun beliau bersabar".
Rasulullah menjelaskan alasannya dengan bijak. Juga pada masa Khulafaur Rasyidin, yakni empat sahabat nabi Muhammad SAW yang memimpin umat Islam sebagai khalifah (pengganti) setelah Nabi wafat. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Diceritakan, pada masa kepemimpinan empat orang terdekat Nabi itu, terdapat banyak kisah pemimpin yang dikritik oleh rakyatnya, baik secara langsung, melalui syair, maupun pertanyaan kritis.
Budaya kritik ini diterima dengan lapang dada karena para pemimpin saat itu memandang kritik sebagai bagian dari amar ma'ruf nahi munkar atau mengajak kebaikan, mencegah kemungkaran.
Salah satu contoh paling ikonik adalah ketika Khalifah Umar bin Khattab ingin membatasi mahar pernikahan agar tidak memberatkan. Saat Umar berpidato di atas mimbar, seorang wanita tua berdiri dan menyanggah:
"Wahai Umar, apakah engkau tidak mendengar Allah berfirman (yang artinya) '...sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya sedikitpun' (QS. An-Nisa: 20)?".
Umar bin Khattab tidak marah. Sebaliknya, Umar mengakui kesalahannya dan berkata:
"Setiap orang lebih paham daripada Umar, bahkan seorang wanita tua pun lebih paham daripada Umar".
Umar lalu merevisi kebijakan-kebijakannya.
Umar jug pernah dikritik secara terbuka mengenai jatah kain yang ia gunakan. Saat Umar membagikan kain kepada rakyat, ia mengenakan jubah yang panjang. Seorang pria berdiri dan memprotes:
"Demi Allah, kami tidak akan mendengar dan taat kepada engkau (dalam hal ini), wahai Umar!"
Pria itu menuduh Umar mengambil dua bagian kain sementara yang lain hanya satu. Umar lalu memanggil putranya, Abdullah bin Umar, untuk menjelaskan bahwa jubah Umar dibuat dari jatah kain miliknya sendiri. Setelah dijelaskan, pria tadi meminta maaf dan berterima kasih.
Pun ketika Salman al-Farisi menolak perintah Umar. Saat Umar berpidato, "Dengarkan dan taatilah apa yang aku katakan,"
Salman al-Farisi memotong dengan lantang:
"Tidak ada lagi kewajiban bagi kami untuk mendengar dan taat kepada Anda!"
Umar tidak tersinggung, melainkan bertanya,
"Wahai Salman, apa yang membuatmu tak taat?"
Setelah Salman menjelaskan alasannya, Umar menerima klarifikasi tersebut.
Juga bagaimana Abu Dzar al-Ghifari mengkritik Utsman bin Affan. Meskipun Utsman bin Affan adalah khalifah yang lembut, pada masa pemerintahannya terjadi kritik keras terkait kebijakan ekonomi dan penunjukan pejabat.
Abu Dzar al-Ghifari adalah salah satu yang vokal mengkritik gaya hidup mewah sebagian kalangan pada saat itu. Utsman bin Affan menerima kritik tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab pemimpin, meskipun situasi politik saat itu cukup tegang.
Mengapa Kritik Diterima? Kritik itu disampaikan untuk perbaikan, bukan untuk fitnah. Umar bin Khattab misalnya berprinsip: "Tidak ada kebaikan pada kalian jika kalian tidak mengatakannya (kritik), dan tidak ada kebaikan pada kami jika kami tidak mendengarnya"
Dengan prinsip pemimpin yang siap salah seperti itu, rakyat merasa aman untuk berbicara langsung kepada pemimpinnya. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa dalam tradisi Islam, pemimpin bukan sosok yang maksum (bebas dari salah), dan rakyat berhak menegur jika pemimpin menyimpang. Maka marilah mengkritik dengan riang gembira dan beretika. Wallahua’lam.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published