Rayakan HUT ke-3, Tuban Bercerita Gandeng Fakultas Dakwah IAINU Gelar Diskusi Sejarah

Reporter: Dahrul Mustaqim

blokTuban.com - Kekayaan sejarah Kabupaten Tuban yang terbentang sejak ratusan tahun lalu menjadi topik pembahasan dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Bincang-bincang Sejarah dan Dakwah di Kabupaten Tuban”. Diskusi tersebut digelar pada (26//02/2026) dengan menghadirkan berbagai kalangan, mulai dari sejarawan, akademisi, praktisi dakwah, guru, siswa, hingga tokoh masyarakat.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara komunitas Tuban Bercerita dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Manajemen Dakwah serta Himaprodi Psikologi Islam IAINU Tuban. Agenda tersebut juga sekaligus menjadi rangkaian peringatan ulang tahun Tuban Bercerita yang ke-3.

Emi Fahrudi menyampaikan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dengan komunitas yang bergerak di bidang sejarah menjadi langkah penting untuk menghadirkan perspektif baru dalam pelestarian sejarah daerah.

“Terciptanya kolaborasi yang solid antara kampus dan komunitas sejarah seperti ini memunculkan pemikiran-pemikiran segar terutama mengenai pelestarian sejarah yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III IAINU Tuban Jamal Ghofir menilai kegiatan diskusi semacam ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya akademik di lingkungan kampus.

“IAINU Tuban sebagai institusi pendidikan sangat menyambut acara-acara seperti ini. Ini adalah bagian dari upaya meningkatkan budaya akademis di lingkungan civitas IAINU Tuban. Kampus, sebagai institusi pendidikan dan pusat penelitian, memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk menjadi ‘jembatan’ antara masa lalu dan masa depan,” ungkapnya.

Pendiri Tuban Bercerita, Teguh Fatchur Rozi, menjelaskan bahwa akun media sosial Tuban Bercerita awalnya dibuat sebagai ruang untuk menyimpan cerita dan pengetahuan sejarah ketika dirinya kembali ke Tuban setelah lama merantau.

“Akun media sosial Tuban Bercerita ini saya buat pada awalnya untuk oleh-oleh ketika saya balik ke Tuban setelah lama merantau,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa komunitas Tuban Bercerita memiliki keinginan untuk memperbaiki sejumlah catatan sejarah, khususnya terkait narasi para bupati yang pernah memimpin Kabupaten Tuban.

“Tuban Bercerita berharap untuk merevisi sejarah narasi Bupati di Tuban, karena versi yang beredar saat ini ada beberapa hal yang kurang tepat, seperti penulisan nama dan tahun menjabatnya. Sejauh ini Tuban Bercerita sudah melakukan hal kecil terlebih dahulu, yaitu menyunting narasi yang tertera di Wikipedia. Namun harapan besarnya bisa merevisi dalam bentuk buku supaya bisa dibaca dan dirujuk banyak orang,” jelasnya.

Dalam diskusi tersebut, Dosen IAINU Tuban Auliya Urokhim menyoroti pentingnya cara pandang yang lebih luas dalam penulisan sejarah lokal. Menurutnya, sejarah tidak hanya ditulis dari sudut pandang penguasa, tetapi juga dari masyarakat di lapisan bawah.

“Penulis sejarah di Tuban sebenarnya sudah banyak, dan setiap penulis mempunyai cara dan karakternya masing-masing. Penulisan sejarah lokal di Tuban tidak bisa dipahami hanya sebagai rekonstruksi masa lalu, tetapi sebagai produk relasi kuasa, ideologi, dan sosial-politik. Menulis sejarah Tuban tidak hanya mulai dari penguasa saja, namun bisa melalui dari akar rumput, seperti orang Nelayan, Petani, Kuli, dll,” tuturnya.

Sementara itu, Teguh Ugik Widianto dari Paguyuban Pelestari Tosan Aji (PPTA) mengulas sisi lain sejarah Tuban melalui perspektif budaya keris di Nusantara. Ia menjelaskan bahwa keris bukan sekadar senjata tajam, melainkan juga memiliki nilai filosofi dan spiritual yang erat kaitannya dengan proses dakwah Islam pada masa lampau.

“Keris di Nusantara melalui perkembangan dari masa ke masa, setiap masa membentuk filosofi sendiri. Dalam konteks sejarah Tuban, keris tidak hanya dipandang sebagai senjata tajam, melainkan sebagai alat komunikasi budaya yang efektif untuk menyentuh hati masyarakat yang saat itu masih kental dengan tradisi Hindu-Buddha. Para Empu (pembuat keris) yang telah memeluk Islam seringkali menyertai proses menempa besi dengan bacaan selawat dan dzikir. Hal ini mengubah aktivitas metalurgi menjadi aktivitas spiritual. Hasilnya, sebilah keris menjadi pengingat bagi pemiliknya untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta,” paparnya.

FGD yang berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 16.00 WIB tersebut diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa, mahasiswa, guru, dosen, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan dakwah di Kabupaten Tuban.