Rujak Beling, Guru Asal Tionghoa yang Tak Lepas dari Sejarah Kelurahan Sidomulyo Tuban

Kontributor : Nur Qur'ani Mulia

blokTuban.com - Sidomulyo merupakan kelurahan di Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban. Kelurahan yang dipimpin oleh Zul Qarnain selaku Plt (Pelaksana Tugas) terdiri dari 4 Rukun Warga (RW) dan 14 Rukun Tetangga (RT).

Kelurahan Sidomulyo memiliki letak yang cukup strategis yang berada di sebelah pantura (pantai utara) dengan luas wilayah kurang lebih 5.3 hektar, yang yang berbatasan dengan 5 Kelurahan, yaitu sebelah utara berbatasan dengan laut jawa, kemudian sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan King King, Ronggomulyo, dan Karangsari. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Doromukti. Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kutorejo.

Menurut Zul Qarnain (55 tahun) selaku Plt Kelurahan Sidomulyo mengatakan, terkait sejarah Kelurahan Sidomulyo berdasarkan dari cerita turun temurun bahwa Kelurahan Sidomulyo sudah ada sejak zaman Belanda yang tidak lepas dari sejarah Ronggolawe.  

“Jadi sejarah Sidomulyo ini tidak lepas dari sejarah Ronggolawe dan makamnya pun berada di Kelurahan Sidomulyo ini,” Ujar Zul Qarnain kepada blokTuban.com, Selasa (30/05/2023).

Zul Qornain melanjutkan, di wilayahnya juga terdapat tokoh-tokoh leluhur seperti Demang Gatul yang sangat dekat dengan Ronggolawe. Tokoh tersebut dulunya membatu Ronggolawe memelihara kudanya. Sekarang makamnya juga terletak di Sidomulyo.

Di sisi lain, Sidomulyo juga memiliki Rujak Beling yang tak lepas dari cikal bakal Sidomulyo. Pasalnya Rujak Beling ini sangat berkaitan dengan sejarah Sidomulyo. Di mana Rujak Beling berasal dari kata “Guru Ngajak Ileng”. 

Beliau merupakan guru asal Tionghoa yang memiliki nama asli Syarifun Nizar yang pada saat itu berada di Sidomulyo. Hingga kini makam guru tersebut berada di Kelurahan Sidomulyo yang biasa dikenal dengan Rujak Beling.

“Dulu mungkin kalo dari cerita lama itu penduduk Sidomulyo kebanyakan agak kasar ya, kemudian dengan hadirnya Rujak Beling atau guru yang ngajak ileng tersebut maka jadilah nama Sidomulyo. Jadi orang-orang yang dulu berakhlak kurang baik menjadi baik dengan harapan menjadi Sidomulyo hingga saat ini.” Jelasnya.

Lebih lanjut, selain terdapat makam Ronggolawe, Rujak Beling, dan Demang Gatul dari arah selatan Sidomulyo dahulunya terdapat tempat bersejarah yaitu terdapat Watu Lumur yang dahulunya ada jati kembar yang berasal dari kata “sejane ati-ati”. Jadi konon dahulunya terdapat lumur dari Sunan Bonang yang ngelumur atau jalan-jalan pagi hingga sumur srumbung.

Selain itu, juga terdapat sumur srumbung yang merupakan sumur yang berasal dari tancapan tongkat Sunan Bonang yang mengeluarkan air. Uniknya meskipus sumur ini berada di dekat pantai akan tetapi air sumur tersebut tidak asin melainkan berasa tawar.

Adapun terkait tradisi Sidomulyo yang hingga saat ini masih dilakukan yaitu tradisi manganan atau sedekah bumi yang biasa dilakukan pada saat bulan Syuro di makam Ronggolawe dan Demang Gatul. 

Tak hanya terdapat sedekah bumi saja, di Sidomulyo juga terdapat tradisi sedekah laut yang dilakukan dengan cara memotong sapi, kemudian kepala sapi tersebut ditancapkan di atas dengan maksud sebagai rasa syukur atas hasil laut yang didapat para paguyuban nelayan. 

Menurut Zul Qarnain dikarenakan Sidomulyo berada di daerah pesisir, jadi yang menjadi potensi serta produk unggulan Sidomulyo yaitu kebanyakan dari sektor perikanan atau hasil laut. Sehingga mayoritas mata pencaharian penduduk adalah nelayan, sedangkan yang menjadi produk unggulan Kelurahan Sidomulyo yaitu terasi dan petis.

“Jadi kalo sebelah utara ini memang mayoritas nelayan, kemudian sebelah selatan ini selain wiraswasta itu ada industri juga selebihnya itu ada juga yang dibidang jasa,” tutupnya.

Adapun mayoritas agama penduduk Kelurahan Sidomulyo yaitu 90% Islam dan selebihnya beragama non Islam. [Lia/Ali]

 

Temukan konten blokTuban.com menarik lainnya di GOOGLE NEWS