Beribu Alasan Pengendara yang Terjaring Razia

Reporter: Mochamad Nur Rofiq

blokTuban.com - Video seorang ibu-ibu yang terazia petugas tiba-tiba viral. Ia mendadak terkenal karena ulahnya yang menggigit petugas kepolisian saat menghentikannya, lantaran tidak pakai helm.

Video seorang Polisi Lalu Lintas yang digigit ibu-ibu itu diduga kuat terjadi di daerah Kudus, Jawa Tengah. Hal itu lantaran terlihat saat ibu-ibu itu menuntun motor matic yang bernopol K-2899-HR.

Rupanya aksi-aksi unik dan nekat semacam itu telah lama berkembang di masyarakat. Terutama para pengendara motor yang melanggar aturan lalu lintas.

"Sejak tahun 1992 hingga 2016 saya di jalan. Macam-macam kelakuan orang ketika ada operasi," kata mantan anggota Satuan Lalu Lintas Polres Tuban, IPDA Suhardi saat ditemui blokTuban.com, Sabtu pagi (24/2/2018).

Petugas yang kini menjabat sebagai Wakapolsek Jatirogo itu membeberkan, telah puluhan tahun menindak pelanggar lalu lintas. Ketika akan ditindak, beribu alasan dilancarkan pengendara untuk menghindar.

Hal terparah yang dialami Pak Hardi sapaan akrab Suhardi, ketika menindak pelajar namun malah mengata-ngatai petugas dengan kata yang kurang pantas. Namun lucunya juga ada yang ditanya apa jawabnya apa, alias tidak nyambung.

Selain mengamuk, ulah yang kerap dilakukan pengendara yang akan ditilang adalah banyak alasan. Mulai dari alasan terburu-buru, tempat yang dekat, dan sampai kelupaan.

Upaya lain agar tidak ditilang, para pengendara juga tak jarang mengaku sebagai keluarga aparat. Ada juga yang berlagak bodoh dengan tidak mendengar apa yang diarahkan oleh petugas.

"Ada juga kendaraan tiba-tiba dimatikan untuk menghindar dari razia, ketika dipanggil pura-pura ndak dengar," imbuhnya dengan mengenang saat itu.

Ketika itu, Polisi dengan pangkat satu balok di pundaknya itu menambahkan, pelanggaran yang kerap dilakukan pengendara adalah tidak pakai helm, tidak punya SIM, dan kelengkapan kendaraan yang tidak utuh.

Ia pun menyadari, minimnya pengetahuan terkait aturan berlalu lintas menjadi faktor utama pengendara melanggar. Untuk itu, dengan semangat Revolusi Mental, pihaknya akan berusaha memahamkan mereka dengan berbagai pendekatan agar cepat sadar.

"Yang paling penting adalah komunikasi. Kami berharap antipati dengan polisi hilang dari budaya saat ini, sebab polisi adalah pengayom masyarakat, dan polisi sahabat anak," pungkas polisi kelahiran Ponorogo itu. [rof/rom]