Reporter: Dahrul Mustaqim
blokTuban.com - Upaya membangun generasi muda yang tangguh dan berkarakter terus dilakukan. Melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Widang menggandeng Duta Damai BNPT Regional Jawa Timur untuk memberikan edukasi kepada pelajar tentang bahaya perundungan (bullying) dan pencegahan paham ekstrem di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di MTs Darul Ulum 2 Mlangi, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban ini diikuti ratusan siswa dengan antusias. Program tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan karakter remaja agar mampu menghadapi berbagai tantangan sosial dan perkembangan era digital yang semakin kompleks.
Kepala MTs Darul Ulum 2 Mlangi, Ali Mu'thi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada KUA Kecamatan Widang atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai sangat relevan dengan kondisi remaja saat ini.
"Pembinaan karakter bagi pelajar tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan wawasan dan bekal yang bermanfaat bagi para siswa," ujarnya.
Sementara itu, Masruh Zainur Ridwan yang mewakili Kepala KUA Kecamatan Widang menegaskan bahwa remaja merupakan aset bangsa yang harus dipersiapkan sejak dini agar memiliki karakter kuat, akhlak mulia, serta mampu menyikapi berbagai perubahan sosial secara bijaksana.
"Kami ingin para siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan moral, sosial, dan kebangsaan yang kuat sehingga mampu menjadi generasi penerus yang bertanggung jawab," katanya.
Pada sesi materi pertama, M. Daenuri mengangkat tema "Dunia Remaja: Tantangan dan Peluang yang Dihadapi". Ia mengajak para siswa untuk memanfaatkan masa remaja sebagai momentum mengembangkan potensi diri, memperluas prestasi, serta membangun pergaulan yang sehat dan produktif.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Achmad Reza Rafranjani, Ketua Duta Damai BNPT Regional Jawa Timur, dengan tema "Bahaya Perundungan (Bullying) dan Antisipasi Pemahaman Ekstrem".
Dalam pemaparannya, Reza menyoroti bahwa perundungan tidak boleh dipandang sebagai kenakalan biasa. Menurutnya, berbagai penelitian dan kajian menunjukkan bahwa pengalaman menjadi korban perundungan dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam, seperti rasa marah, dendam, rendah diri, hingga keinginan untuk membalas perlakuan yang diterimanya.
"Hari ini kita perlu memahami bahwa proses seseorang terpapar paham ekstrem tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah pengalaman menjadi korban perundungan yang tidak pernah terselesaikan. Ketika seseorang merasa tersisih, tidak diterima, atau terus-menerus mendapatkan kekerasan verbal maupun sosial, maka kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memengaruhi cara berpikirnya," jelas Reza.
Ia menambahkan bahwa kelompok ekstrem sering kali mencari individu yang sedang mengalami krisis identitas, merasa tidak dihargai, atau memiliki kemarahan terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas bullying menjadi langkah penting dalam mencegah berkembangnya pemahaman ekstrem di kalangan remaja.
"Bullying bukan hanya melukai korban pada hari ini, tetapi juga dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, orang lain, bahkan masyarakat. Karena itu, mencegah perundungan berarti juga mencegah lahirnya berbagai potensi konflik sosial di masa depan," tegasnya.
Reza juga mengajak para siswa untuk membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta berani menjadi pelopor perdamaian di lingkungan sekolah maupun media sosial.
"Kalian adalah generasi yang akan menentukan masa depan bangsa. Gunakan media sosial secara bijak, bangun pertemanan yang sehat, dan jangan pernah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci atau merendahkan orang lain," pesannya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang mendapat respons positif dari para peserta. Melalui program BRUS ini, KUA Kecamatan Widang berharap para pelajar tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang baik, tetapi juga ketahanan diri, kepedulian sosial, serta wawasan kebangsaan yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
0 Comments
LEAVE A REPLY
Your email address will not be published