Reporter: Edy Purnomo
TUBAN, blokTuban.com — Delapan puluh satu tahun setelah Tentara Nasional Indonesia (TNI) berdiri, sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan masih menyisakan jejak di berbagai sudut Kabupaten Tuban. Salah satunya adalah kisah pendaratan pasukan Belanda di Pantai Glondong, Tambakboyo, yang kemudian berkembang menjadi rangkaian pertempuran di sejumlah wilayah Tuban.
Peristiwa itu terjadi pada 18 Desember 1948, ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung. Arsip sejarah yang pernah diterbitkan blokTuban.com mencatat, sekitar pukul 15.00, dari kawasan Pantai Glondong terlihat tiga kapal perang berbendera Belanda bergerak menuju pantai Tuban.
Kopral Karmono, anggota Order Distrik Militer (ODM), menjadi salah satu orang yang pertama kali mengetahui kedatangan tersebut. Ia kemudian mengayuh sepeda sekitar lima kilometer menuju markas ODM untuk melaporkan keberadaan kapal-kapal Belanda kepada Komandan ODM Letda B.K. Nadi.
Catatan Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Tuban yang dikutip blokTuban menyebut, pasukan Belanda melepaskan tembakan ketika melakukan pendaratan dan menurunkan 44 kendaraan perang, terdiri atas truk, jeep, panser dan sedan. Sebagian besar kendaraan bergerak ke arah barat menuju Kragan, Jawa Tengah, sementara sebagian lainnya bergerak menuju Jatirogo. Beberapa kendaraan lain bergerak ke arah timur melalui Jenu, Tuban, Kepet hingga Babat.
Para pejuang Tuban kemudian membagi tugas dan melakukan pengintaian. Mereka memilih tidak menyerang lebih dahulu selama belum berada dalam keadaan terdesak.
Pendaratan tersebut bukan akhir dari cerita. Pasukan Belanda kembali melakukan pendaratan di kawasan yang sama dan bergerak ke sejumlah wilayah. Sebagian pasukan menuju Kota Tuban, sementara sebagian lainnya bergerak melalui Pakah, Rengel dan Bojonegoro.
Sejak saat itu, wilayah Tuban menjadi salah satu ruang berlangsungnya perlawanan terhadap pasukan Belanda. Arsip blokTuban mencatat terdapat 16 titik pertempuran di wilayah Kabupaten Tuban selama Agresi Militer Belanda II.
Di antara rangkaian perlawanan tersebut terdapat kisah seorang prajurit yang kemudian menjadi salah satu nama penting dalam sejarah perjuangan Tuban: Letda Soetjipto.
Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan dan dikenang melalui sebuah patung. Namun, sebagaimana pernah ditulis blokTuban pada 2016, tidak semua generasi muda mengenal siapa sosok di balik nama tersebut.
Padahal, perjalanan Letda Soetjipto membawa kita lebih jauh ke dalam cerita tentang bagaimana para pejuang Tuban menghadapi pasukan Belanda dengan kekuatan yang terbatas, berpindah dari satu pos pertahanan ke pos lainnya, dan memanfaatkan kondisi wilayah untuk melakukan perang gerilya.
Cerita itu membawa kita dari kawasan Tuban bagian barat hingga Merakurak, Semanding, Singgahan dan Senori.
Dan pada akhirnya, perjalanan tersebut berujung pada sebuah pertempuran yang menempatkan nama Letda Soetjipto dalam salah satu catatan penting sejarah perjuangan Tuban.
Bersambung: Letda Soetjipto dan Perlawanan dari Koro hingga Tapen.
Sumber utama: Arsip blokTuban.com, Agresi Militer Belanda dan Perlawanan Heroik Letda Soetjipto (2016), dengan data dari dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Kabupaten Tuban.