Bagaimana Catatan Ma Huan yang Berusia 600 Tahun Bisa Dibaca Sekarang?
Ilustrasi armada Zheng He dalam pelayaran ke berbagai wilayah Asia pada awal abad ke-15. Ma Huan mengikuti beberapa pelayaran tersebut dan mencatat berbagai wilayah yang dikunjungi. (Ilustrasi/ai)

Editor: Edy Purnomo 

TUBAN, blokTuban.com — Catatan Ma Huan tentang Tuban berusia sekitar enam abad. Lalu, bagaimana orang sekarang bisa mengetahui apa yang ditulisnya?

Jawabannya bukan karena naskah Ma Huan masih tersimpan dalam bentuk buku asli yang ia tulis sendiri.

Teks Ying-yai Sheng-lan yang sampai kepada para peneliti sekarang diwariskan melalui salinan dan berbagai edisi yang dibuat pada masa setelah Ma Huan.

Salah satu versi penting terdapat dalam Guochao Diangu. Versi tersebut disunting oleh Zhu Dangmian dan kini tersimpan di National Library of China, Beijing. Versi lain terdapat dalam Jilu Huibian, yang diterbitkan sekitar 1617. Ada pula salinan lain yang kemudian menjadi bahan perbandingan para ahli.

Ahli tidak sekadar menerjemahkan

Membaca teks seperti ini juga bukan pekerjaan menerjemahkan kata demi kata.

Para ahli bahasa China klasik harus membandingkan karakter, susunan kalimat, nama tempat, nama orang, serta berbagai versi naskah yang tersedia.

Perbedaan antar-salinan bahkan bisa terjadi. Chinese Text Project mencatat bahwa beberapa salinan Ying-yai Sheng-lan memiliki bacaan yang berbeda, termasuk tambahan atau koreksi terhadap teks. Karena itu, penelitian terhadap naskah lama membutuhkan perbandingan antarsumber.

Salah satu tokoh penting dalam proses ini adalah Feng Ch'eng-Chün (Feng Chengjun), sarjana China yang menyunting teks China Ying-yai Sheng-lan.

Kemudian, pada 1970, J. V. G. Mills menerbitkan terjemahan bahasa Inggris untuk Hakluyt Society melalui Cambridge University Press. Edisi tersebut secara eksplisit disebut sebagai terjemahan dari teks China yang disunting Feng Ch'eng-Chün, dilengkapi pengantar, catatan, dan lampiran.

Artinya, ketika kita hari ini membaca kalimat Ma Huan dalam bahasa Indonesia, terdapat sebuah rantai panjang transmisi pengetahuan di belakangnya:

Ma Huan -  naskah dan salinan China -  penyuntingan ahli - terjemahan akademik - - terjemahan ke bahasa Indonesia.

Bahkan ada manuskrip yang masih tersimpan

Jejak Ying-yai Sheng-lan juga masih dapat ditemukan dalam koleksi manuskrip.

British Library, misalnya, mencatat sebuah manuskrip Ying ya sheng lan dengan kode Or 6191. Koleksi tersebut berbahasa China, terdiri dari satu volume dengan 44 folio, dan dikatalogkan sebagai karya geografis Ma Huan.

Jadi, ketika kita membaca catatan tentang Tu-pan atau Tuban, yang kita baca bukan sekadar cerita yang muncul kembali dari masa lalu.

Ada proses panjang di belakangnya: naskah disalin, disimpan, dibandingkan, disunting, diterjemahkan, lalu diteliti kembali oleh generasi berikutnya.

Bagaimana dengan terjemahan AI?

Dalam tulisan sebelumnya tentang Ma Huan, blokTuban.com menggunakan AI untuk membantu menerjemahkan dan memahami teks yang sudah tersedia dalam edisi akademik.

Namun AI bukan sumber sejarahnya.

Terjemahan AI tetap memiliki kemungkinan kesalahan, terutama karena bahasa China klasik memiliki struktur, istilah, nama tempat dan konteks sejarah yang tidak selalu dapat dipindahkan secara tepat ke bahasa Indonesia.

Karena itu, terjemahan dalam tulisan blokTuban.com perlu dipahami sebagai terjemahan bantu, sedangkan rujukan utamanya tetap Ying-yai Sheng-lan dan edisi akademik yang dikerjakan para ahli.

Dengan cara itu, pembaca dapat membedakan antara apa yang ditulis Ma Huan, apa yang merupakan hasil kerja penerjemah dan peneliti, serta apa yang merupakan hasil pengolahan redaksi.

Sumber

Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean's Shores [1433], diterjemahkan dari teks China yang disunting Feng Ch'eng-Chün, dengan pengantar, catatan dan lampiran oleh J. V. G. Mills. Cambridge University Press untuk Hakluyt Society, 1970.

Chinese Text Project, Yingya Shenglan — informasi mengenai berbagai versi dan transmisi teks.

British Library, katalog manuskrip Ying ya sheng lan, Or 6191.