Riset Terbaru Soroti AI untuk Deteksi Dini Autisme dan ADHD, CBT Sekolah untuk Kecemasan Anak
Ilustrasi/ ai/ blokTuban

Editor: Edy Purnomo

TUBAN, blokTuban — Perkembangan kecerdasan buatan (AI), ilmu tentang otak, dan psikologi anak membuka peluang baru untuk membantu mengenali gangguan perkembangan serta menangani kecemasan pada anak dan remaja.

Sejumlah penelitian terbaru menyoroti dua pendekatan yang tengah berkembang. Pertama, penggunaan AI untuk membantu mengenali pola yang berkaitan dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme dan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Kedua, penggunaan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku dan pola pikir di lingkungan sekolah untuk membantu mengurangi kecemasan anak.

Dalam kajian yang diterbitkan European Journal of Medical Research pada 2026, para peneliti membahas perkembangan penggunaan AI untuk membantu penelitian dan penanganan berbagai gangguan perkembangan pada anak.

AI dapat digunakan untuk menganalisis data kesehatan, perilaku, serta hasil pemeriksaan otak. Dengan kemampuan tersebut, teknologi ini berpotensi membantu tenaga profesional mengenali tanda-tanda gangguan lebih awal, memperkirakan perkembangan kondisi anak, serta menentukan dan memantau bentuk pendampingan yang sesuai.

Namun, penelitian tersebut juga menegaskan bahwa AI belum menggantikan dokter, psikolog, atau tenaga profesional dalam melakukan diagnosis.

Masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain keakuratan sistem, kemungkinan bias dalam data, perlindungan data pribadi, serta kebutuhan akan data anak yang lebih besar dan beragam.

Karena itu, AI lebih tepat digunakan sebagai alat bantu bagi tenaga profesional, bukan sebagai pengganti pemeriksaan dan penilaian klinis.

Sementara itu, penelitian yang diterbitkan International Journal of Scientific Research and Modern Technology pada 2024 membahas penggunaan teknologi pemindaian otak yang dikombinasikan dengan AI untuk membantu penelitian mengenai deteksi dini autisme.

Penelitian tersebut melihat apakah pola tertentu dalam aktivitas dan struktur otak dapat membantu mengenali kondisi yang berkaitan dengan autisme.

Meski menjanjikan, penelitian semacam ini masih berada dalam tahap pengembangan. Artinya, AI belum dapat digunakan sebagai alat diagnosis mandiri yang menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga profesional.

Di sisi lain, lingkungan sekolah juga menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan mental anak.

Meta-analisis yang diterbitkan Journal of Pediatric Nursing pada 2025 menggabungkan hasil sejumlah penelitian tentang terapi yang membantu anak mengubah pola pikir dan perilaku untuk menghadapi kecemasan.

Hasil penelitian menunjukkan pendekatan tersebut dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan pada anak.

Temuan lain datang dari penelitian yang diterbitkan Journal of Clinical Psychology mengenai penerapan CBT di sekolah.

Penelitian tersebut menggabungkan hasil 31 penelitian dengan total 19.865 anak dan remaja. Hasilnya menunjukkan program CBT di sekolah berkaitan dengan penurunan gejala kecemasan, meskipun besarnya manfaat tergolong kecil.

Para peneliti juga mengingatkan bahwa kualitas bukti yang tersedia masih rendah. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar manfaat program tersebut dan apakah hasilnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

Rangkaian penelitian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan psikologi semakin membuka berbagai cara untuk membantu anak menghadapi masalah perkembangan dan kesehatan mental.

AI dapat membantu tenaga profesional membaca pola data yang sulit dianalisis secara manual. Sementara itu, sekolah dapat menjadi salah satu tempat untuk memberikan dukungan psikologis kepada anak yang mengalami atau berisiko mengalami kecemasan.

Namun, kedua pendekatan tersebut masih terus dikembangkan. Penggunaan AI membutuhkan pengujian lebih lanjut mengenai keakuratan, keamanan data, dan kesesuaiannya untuk berbagai kelompok anak.

Begitu pula dengan program psikologis di sekolah yang masih membutuhkan penelitian untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutan manfaatnya.

Dengan demikian, perkembangan AI, ilmu otak, dan psikologi tidak hanya berbicara tentang teknologi baru, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dan pendekatan psikologis dapat digunakan secara tepat untuk membantu proses deteksi, pendampingan, dan perkembangan anak.

Sumber:

European Journal of Medical Research (2026), “Applying artificial intelligence in neurodevelopmental disorders.” DOI: 10.1186/s40001-025-03740-8

International Journal of Scientific Research and Modern Technology (2024), “Advancing Early Autism Diagnosis Using Multimodal Neuroimaging and AI-Driven Biomarkers...” DOI: 10.38124/ijsrmt.v3i6.413

Journal of Pediatric Nursing (2025), “The effect of cognitive behavioral interventions applied to children with anxiety disorders...” DOI: 10.1016/j.pedn.2024.12.020

Journal of Clinical Psychology (2026), “Long-Term Effects of School-Based CBT in Low-Risk Chi

ldren and Adolescents...” DOI: 10.1002/jclp.70069