Reporter : Dahrul Mustakim
blokTuban.com - Bedug yang ditabuh dan kembang api dinyalakan menandai era baru . Suara yang menggema di Graha Sandiya Tuban itu bukan sekadar penanda seremoni. Ia menjadi simbol lahirnya wajah baru perguruan tinggi Nahdlatul Ulama di Tuban, yakni Universitas Nahdlatul Ulama Makhdum Ibrahim (UNUMA).
Momentum tersebut berlangsung bersamaan dengan Wisuda VII IAINU Tuban, yang diikuti sebanyak 211 mahasiswa. Para wisudawan tidak hanya menjadi lulusan yang menutup perjalanan akademiknya, tetapi juga menjadi saksi sebuah perubahan besar perjalanan baru UNUMA resmi memulai perjalanan baru.
Hadirnya UNUMA menambah jumlah unversitas di Tuban. Sebelumnya sudah ada Universitas Sunan Bonang (USB) dan Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW).
Launching UNUMA ditandai dengan pemukulan bedug dan kembang api. Sejumlah tokoh dan stakeholder hadir menyaksikan momentum tersebut, mulai dari jajaran Syuriah dan PCNU Tuban, BPP, Senat, pimpinan perguruan tinggi, Bupati Tuban, unsur Kodim dan Polres, para mitra, MWCNU, badan otonom NU, hingga jajaran dekan, ketua program studi, dosen dan tenaga kependidikan.
Wakil Rektor I Bidang Akademik, Supriyanto, kemudian membacakan SK lulusan terbaik dalam rangkaian prosesi wisuda.
Bagi Rektor UNUMA, Prof. Dr. M. Syamsul Huda, M.fil.I, perubahan tersebut bukanlah sekadar pergantian nama dan status kelembagaan. Transformasi itu merupakan hasil dari perjalanan panjang, kerja keras, doa dan kepercayaan banyak pihak.
Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada para orang tua wisudawan yang selama ini mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada kampus.
"Kepercayaan yang dipercayakan kepada lembaga ini mengalami transformasi dari institut menjadi universitas. Prestasi akademik yang dicapai hari ini tentu ada tetesan keringat, doa, dan dukungan selama ini," kata Syamsul Huda.
Menurutnya, perubahan menjadi universitas membuka ruang yang jauh lebih besar bagi UNUMA untuk mengembangkan pendidikan tinggi, riset, pengabdian masyarakat dan pengembangan keilmuan.
Ia menyebut UNUMA telah menyiapkan program magister sebagai bagian dari upaya melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga mampu menjadi ulama dan intelektual.
"UNUMA siap melahirkan sarjana, magister, bahkan ke depan akan membuka program doktoral," ujarnya.
Namun, di tengah kebanggaan atas transformasi kelembagaan itu, Syamsul Huda mengingatkan para wisudawan bahwa gelar sarjana bukanlah garis akhir.
Dunia yang mereka masuki setelah kampus, kata dia, bergerak jauh lebih cepat. Disrupsi teknologi, perubahan sosial hingga krisis moral akan menjadi tantangan yang harus dihadapi generasi muda.
Karena itu, para lulusan diminta tidak berhenti pada pencapaian akademik.
"Jadilah solusi. Berikan kontribusi nyata untuk Republik Indonesia dan masyarakat," pesannya.
Ia juga meminta para alumni membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin dan moderasi beragama di tengah masyarakat.
"Jangan pernah berhenti belajar, karena proses pendidikan adalah seumur hidup. Long life education," tegasnya.
Di tengah pesan serius tersebut, Syamsul Huda menyelipkan humor yang langsung mengundang tawa hadirin.
"Berhentilah minum STMJ: sarjana tamat masih jomblo. Langkah berikutnya adalah bagaimana Anda tidak jomblo," katanya.
Dari Unsuri, STITMA, IAINU hingga UNUMA
Sementar Ketua PCNU Tuban, KH. Ahmad Damanhuri, menyebut lahirnya UNUMA merupakan buah dari perjalanan panjang yang tidak boleh dilupakan.
Ia mengajak seluruh warga NU, alumni, sesepuh, pengurus NU dan masyarakat Tuban memberikan dukungan terhadap universitas tersebut.
Perjalanan itu dimulai dari Unsuri Cabang Tuban pada awal 1980-an, kemudian berkembang menjadi STITMA, sebelum akhirnya berubah menjadi IAINU pada 2020.
Kini, setelah melalui perjalanan panjang, lembaga tersebut memasuki babak baru sebagai UNUMA.
"Selama kurun waktu itu penuh dedikasi para sesepuh dan para pengajar. Setelah beralih menjadi IAINU, selama enam tahun akhirnya tibalah harapan besar yang ditumpukan kepada kampus ini," ungkap Damanhuri.
Ia berharap UNUMA menjadi tempat masyarakat Tuban menitipkan pendidikan anak-anaknya sekaligus menjadi kebanggaan warga NU.
"Semoga keberadaan universitas menjadi tumpuan masyarakat Tuban untuk menitipkan pendidikan anak-anaknya," ujarnya.
Bagi Damanhuri, UNUMA tidak boleh berhenti sebagai sebuah aset kelembagaan. Universitas harus berkembang menjadi ekosistem keilmuan dan sosial yang memberi manfaat luas.
"Jangan hanya menjadi aset, tetapi juga menjadi ekosistem," katanya.
Ia mendorong UNUMA mengembangkan program studi yang benar-benar menjawab kebutuhan zaman.
Menurutnya, para sahabat Rasulullah juga memiliki keahlian yang beragam sesuai kebutuhan zamannya. Ada yang menjadi ahli ekonomi, diplomat, ilmuwan hingga pemimpin politik.
Karena itu, UNUMA harus mampu membaca perubahan zaman dan menyiapkan sumber daya manusia yang relevan.
"Kembangkan program studi sesuai kebutuhan zaman," pesannya.
Hari itu, 211 mahasiswa memang resmi menyandang gelar akademik. Tetapi lebih dari itu, mereka menjadi saksi sebuah transisi penting dalam sejarah pendidikan tinggi NU di Tuban.
Mereka adalah wisudawan terakhir IAINU sekaligus generasi yang menyaksikan lahirnya UNUMA. Dari sebuah institut menuju universitas, perjalanan itu membawa harapan yang jauh lebih besar.
Harapan agar UNUMA bukan hanya menjadi tempat memperoleh ijazah, tetapi menjadi ruang lahirnya intelektual, ulama, profesional dan generasi muda yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Bedug yang ditabuh pada hari itu pun seakan menjadi tanda: satu perjalanan telah selesai, tetapi perjalanan yang jauh lebih panjang baru saja dimulai.[ono]