18:00 . Nurul Qur’an Bancar Kebobolan 8 Gol, Kesebelasan Mutholibul Huda Jenu Lolos Final   |   17:30 . Trending! Nathalie Holscher Gugat Cerai Sule, Putri Delina Disebut Biang Keladi   |   17:00 . Manganan di Gedongombo Tuban : Berharap Tanaman Lebih Subur   |   16:00 . Tumpah Ruah 1.700 Warga Gedongombo Tuban Manganan di Makam Syeh Maulana Iskhak Al-Maghribi   |   15:00 . Persiapan Wukuf, Jemaah Haji Asal Tuban Mulai Geser ke Arafah   |   14:00 . Harga Bawang Putih di Tuban Naik Ikuti Bawang Merah, Hampir Setara Minyak Goreng Kemasan   |   13:00 . 10 Destinasi Wisata di Tuban Pas Banget Buat Liburan Idul Adha, Buruan Piknik!   |   12:00 . Meraup Cuan dari Usaha Tusuk Sate Jelang Idul Adha di Tuban   |   11:30 . Tusuk Sate Tuban, Usaha Keluarga Sejak 1987   |   11:00 . Ramalan Shio 7 Juli 2022: Bisa Jadi yang Kalian Butuhkan Adalah Healing!   |   10:30 . Bakal Tusuk Sate di Tuban Dijemur Sehari   |   10:00 . Lowongan Kerja Lulusan SMA hingga S1 Ada 10 Formasi di PT Indofood Group   |   09:30 . Kampung Tusuk Sate di Tuban   |   09:00 . Prestasi Tuban di Porprov Jatim VII Melesat, Mas Bupati Turun Langsung hingga Atlet Pecahkan Rekor   |   08:00 . 5 Butir Isi Perjanjian Hudaibiyah, Antara Kaum Muslim dan Quraisy   |  
Thu, 07 July 2022
Jl. Sunan Muria no 28, Kelurahan Latsari, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Guru di Desa Klotok Raup Cuan dari Merajut Kopiah

bloktuban.com | Friday, 06 May 2022 10:00

Guru di Desa Klotok Raup Cuan dari Merajut Kopiah Rusli, perajut kopiah asal Desa Klotok, Kecamatan Plumpang. (Foto:Suci/blokTuban.com)

Reporter : Suci Dewi Setiani

blokTuban.com - Istilah waktu adalah uang nampaknya cocok disematkan kepada Muhadi Rusli. Guru di sebuah pondok pesatren yang tinggal di Dusun/Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban ini mampu memanfaatkan waktu luangnya dengan merajut kopiah. 

Kerajinan tangan dengan pola simetris buatan Rusli banyak digemari masyarakat setempat. Tak heran, jika dia mampu meraup cuan dari ketrampilannya tersebut setiap bulannya. 

Rusli bercerita mulai belajar merajut sejak tahun 2019 lalu sebelum pandemi Covid-19 mewabah. Waktu itu, saat ia masih belajar di pesantren tak sengaja melihat temannya memiliki ketrampilan merajut yang akhirnya menarik dirinya untuk belajar. 

Awalnya merajut cukup sulit dan melatih kesabaran. Dengan kegigihan dan keuletannya, kopiah pertama hasil rajutannya jadi. Dari situlah ia terus merajut hingga tak terasa menjadi pekerjaan sampingannya. 

"Lebih prioritas kerja ke Guru, merajut kopiah hanya sampingan, karena jika merajut terlalu maka efeknya ke mata kan ndak terlalu baik jika terus menerus," Ungkap Rusli kepada blokTuban.com, Jumat (6/5/2022). 

Pekerjaan yang sudah ditekuni tiga tahunan itu, lanjut Rusli akan dikembangkannya. Untuk pemasaran kopiah buatannya melalui offline dan online. Sistem offline biasanya lewat mulut ke mulut masyarakat, dan akhirnya terkenal di masyarakat sekitar. Sedangkan pemasaran online biasanya lewat Facebook, whatsapp, maupun Instagram.

"Kadang asal posting sudah ada yang minat sendiri dan memesannya, karena merajut itu lama, biasanya saya menawarkan dulu ke konsumen apakah sabar untuk menunggu atau tidak. Jika ndak sabar ya ndak papa mungkin belum rezeki," Imbuhnya.

Harga kopiah buatannya tergantung ukuran, motif, dan jumlah warna. Untuk kopiah yang dua warna harga umumnya Rp60-80 ribu, dan Rp100 ribu untuk kopiah tiga warna. 

Untuk menyelesaikan satu kopiah, Rusli mengaku butuh waktu dua sampai tiga hari. Kendati demikian, jika ia tidak sedang mengajar sehari mampu menghasilkan satu kopiah. 

"Rata-rata 10 kopiah untuk per bulannya," katanya. 

Selama menggeluti dunia merajut, hambatan yang kerap dialami Rusli pada ukuran kopiah yang dipesaan konsumen. Resikonya jika salah hitungan untuk polanya, bisa gagal dan jelek hasilnya. Walaupun pola atasnya sudah sama, kadang kebawahnya berbeda karena hasil rajutan tangan tidak bisa disamakan dengan hasil ukuran mesin. 

"Omzet yang saya peroleh juga tergantung dari jumlah pesanan karena ini pekerjaan sampingan," jelasnya. 

Meskipun sampingan, Rusli mengaku menikmati pekerjannya sebagai perajut kopiah rumahan. Melalui aktifitasnya itulah, kegabutan yang sering dialaminya berkurang dan tetap produktif menghasilkan cuan.  

"Alhamdulillah, nilai jual dari rajutan kopiah bisa naik sedikit demi sedikit walaupun agak lama. Ya harus maklum juga, kita musuhnya masyarakat yang gimana kan ndak semua kelas menengah ke atas gitu," tutupnya. [Suci/Ali]

 

 

Tag : Tuban, Kabupaten Tuban, merajut, kopiah, Desa Klotok, guru pesantren



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat