Sing Tuenang, Ojo Emosi, Ojo Egois dan Taat Prokes

Oleh : Sri Wiyono

blokTuban.com - ‘’Ojo kakean sambat, Gus Allah ora ngurusi awakmu thok’’

Salah seorang kawan lama memosting status di media sosial. Terkadang, postingan status kawan satu ini konyol. Kadang juga mengunggah kata-kata bijak seperti lazimnya netizen hehehe…

Yang pasti, sudah lama sekali saya tak bertemu muka dengannya. Hanya, seringkali kali berbalas komentar dalam media sosial. Dan, kami merasa masih akrab meski lama tak bersua. Meski ‘’suwe ora jamu, suwe ora ketemu’’ begitu kata orang Jawa.

Memang kahanan seperti sekarang ini seolah mewajibkan semua orang harus sambat. Bahkan, kalau tidak sambat tidak keren. Dan lebih afdhol kalau sambatnya kemudian diposting di media sosial, seolah gugur kewajiban itu, hahaha…

Maka kemudian sambat berjamaah menemuhi beranda-beranda media sosial. Tak sedikit sambat itu dibarengi dengan cacian, menyalahkan sana-sini dan menuntut ini itu. Lihat saja di media-media sosial itu. Maha benar netizen atas segala komentar dan postingannga, hehehe….

Lalu ada yang kemudian mengunggah sttus konyol : ‘’sopo sing duwe utang, sopo yang cicilane macet, sopo sing mumet mikir bayaran sekolah anake, sopo susah mikir butuhan sak bendinane, reneo….ayo podo nangis bareng-bareng ‘’ 

Lucu, namun mengenaskan. Karena begitulah kahanan sekarang ini. Jangankan orang biasa, yang tergolong konglomerat dan selalu memperlihatkan kehidupan glamour khas orang-orang kaya saja mengaku tertekan karena pandemi kok.

Lihat itu pasangan  Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie yang saat ditangkap polisi karena penyalahgunaan narkoba, mereka mengaku menggunakan narkoba karena alasan tekanan pekerjaan di masa pandemi. Meskipun oleh polisi yang menangkapnya, disebut itu alasan klasik yang perlu didalami kebenarannya.

Lalu apa gak boleh sambat? Tentu boleh, bahkan wajib, tapi sambatnya tidak dengan sesama teman yang kondisinya sama-sama mengenaskan. Kalau sambat dengan sesama teman yang sama ya, akan diajak nangis bareng-bareng itu. 

Ya, sambat pada yang memiliki hidup, sambat pada Dzat yang meniupkan ruh ke raga kita. Sambat pada Dzat yang memelihara hidup kita, Dzat yang menghidupkan dan akan mematikan kita. Minimal diam-diam sambat di dalam hati ‘’aku yo ora bedo karo rupamu cuk, podo susahe,’’ ketika ada kawan yang sambat. 

Dan mari kita sambat bareng-bareng di dalam hati. Satu..dua..tiga..mulai….

Sing tuenang, jangan kebanyakan sambat. ‘’Ojo sambat  yen iseh kuat, nggedeni tirakat ben ruwete minggat’’ begitu penggalan syair lagu latar channel Bakar Production yang berisi drama-drama pendek lucu dan mendidik. 

Fragmen kehidupan yang dimainkan oleh sekumpulan seniman panggung dari Solo, Jawa Tengah. Ada pemain ketoprak, wayang orang, MC, penyanyi, dagelan dan lainnya. Sejak pandemi awal 2020 lalu, para seniman ini nganggur karena sepi job dan pementasan mandeg. Maka iseng-iseng membuat drama yang divideokan, tak dinyana sekarang menjadi terkenal.

“Kepanikan adalah separuh penyakit. Ketenangan adalah separuh obat. Kesabaran adalah awal dari kesembuhan”. Begitu nasihat Ibnu Sina, bapak kedokteran dunia yang muslim itu, nasehat itu diberikan lebih dari seribu tahun silam. 

Untuk kondisi saat ini nampaknya relevan. Jangan panik, sing tuenang namun jangan juga egois. Tetaplah tenang dan fokus untuk memulihkan kesehatan bagi yang sudah terlanjur terpapar. Isolasi mandiri dengan baik dan benar, melapor pada petugas kesehatan setempat, atau minimal lapor ke Ketua RT, RW atau ke kelurahan atau desa saat menjalani isolasi mandiri. Agar bisa dipantau dan diawasi. 

Sebab, jangan sampai yang isolasi mandiri bertindak seenaknya. Karena tidak dipantau atau tidak diketahui bahwa sedang isoladi mandiri, seseorang bisa ke mana-mana meski sudah terpapar dan positif.

Beberapa hari lalu, saya kaget melihat status seorang teman yang sudah swab dan hasilnya positif serta menjalani isolasi mandiri di rumah. Tiba-tiba mengunggah video sedang perjalanan keluar rumah dengan kendaraan pribadi.

‘’golek padhang howo,’’ (mencari suasana segar),’’ jawabnya saat ada teman lain yang komentar. 

Dan perjalanan keluar rumah dalam kondisi isolasi mandiri itu tak hanya sekali. Apapun alasannya ini berbahaya, terlebih misalnya saat di luar rumah itu kemudian bertemu orang lain. Sementara, masing-masing orang mempunyai daya tahan tubuh yang berbeda-beda. Kalau yang daya tahan tubuhnya kuat, bisa saja meski misalnya terpapar tetap bisa ke mana-mana, tidak ambruk seperti teman saya itu.

Lha kalau yang daya tahan tubuhnya lemah, karena ketemu dengan yang positif, lalu terpapar, lalu parah, lalu ambruk, betapa ikut merasa bersalah jika demikian yang terjadi. Maka taat protokol kesehatan, salah satunya memakai masker, bisa melindungi diri sendiri dan orang lain. Berpikiran positif saja, jangan-jangan justru kita yang menularkan ke orang lain. Karena itu lebih baik memakai masker dan melaksanakan protokol kesehatan saja.

Sudah buanyak unggahan soal tanda-tanda atau gejala terpapar, baik melalui tulisan,  video atau poster-poster. Sehingga, masyarakat sudah sangat faham. Karena itu, ketika tanda-tanda di badan mulai muncul gejala, tak sedikit yang membatasi dirinya keluar rumah. Meski mereka tidak tes swab namun di hati kecilnya menduga dia terpapar. 

Lalu dengan kesadaran sendiri tidak muncul di peredaran, hinggga badan benar-benar sehat. Yang seperti ini juga tidak sedikit. Beberapa kawan saya juga mengakui hal itu. Mereka bilang kalau misalnya diswab kemungkinan juga positif. Namun, mereka memilih mengisolasi diri sendiri tanpa swab, sampai sehat lagi baru muncul kembali di peredaran.

Nah, artinya kesadaran demi kemaslahatan banyak orang ini penting. Jangan egois, karena merasa sehat, kuat meski positif terpapar, lalu pergi ke mana-mana, ini bisa membahayakan orang. Sangat tak enak memang harus berdiam diri di rumah atau di tempat isolasi minimal 14 hari. Jenuh dan bosan. Namun itu harus dilalui demi kebaikan dan kemaslahatan. 

Kira-kira jenuh mana dengan para tenaga kesehatan yang tak bisa ke mana-mana berhari-hari, berbulan-bulan karena harus merawat pasien yang terpapar. Bahkan sebagian juga terpapar dan tak bisa bertemu dengan keluarnya, tak bisa ketemu orang lain karena harus isolasi. Bahkan tak sedikit yang meninggal setelah terpapar.

Jika isolasi dilakukan secara baik, disiplin menjaga kebugaran, patuh dan taat protokol kesehatan, belum sampai 14 hari sudah pulih. Ada yang satu minggu pulih. Ada yang di hari-10 isolasi sudah dinyatakan negatif alias pulih. Masing-masing butuh semangat dan kesungguhan pasien yang terpapar untuk sembuh.

Taat prokes, isolasi, ikut vaksin dan lain sebagainya hanyalah sebuah ikhtiar yang bisa dilakukan. Sejatinya penyakit dan yang bisa menyembuhkan hanya Allah. Manusia hanya wajib ikhtiar, berusaha semampunya. Karena obat, isolasi dan vaksinasi hanya alat atau lantaran untuk usaha agar sembuh. Karena sembuh atau tidak, berhasil atau tidak itu Allah yang menentukan. 

Sebagaimana nasi dan lauk pauk pada hakikatnya tak bisa menyebabkan kenyang, karena sejatinya Allah yang membuat kenyang. Namun, saat kita lapar, kita ikhtiar dengan makan. Wallahu a’lam.(*)