AKHIR KERAMAIAN PESTA "Resepsi Tanpa Esensi Prestasi?"

Penulis : Zein at Tubany El Jawy

blokTuban.com - Pada penghujung tahun 2023 masyarakat Kabupaten Tuban disuguhi beraneka event olahraga. Mulai dari kategori single hingga multi event, dari yang bergenre rekreatif sampai prestasi. Dari yang hanya bersifat invitasi, sekedar eksebisi sampai dengan kejuaraan resmi.

Ada event yang merupakan kalender rutin karena sudah menjadi program tahunan, tetapi juga ada event dadakan yang muncul tiba-tiba dan terlihat seperti dipaksakan harus terlaksana. Bahkan ada event model open tournament dimana kepesertaannya bersifat terbuka. Mungkin saja event tersebut diselenggarakan karena tujuan tertentu atau ada titipan kepentingan yang harus tersampaikan.

Penyelenggaranya pun juga beragam, ada dari personal, komunitas, organisasi kemasyarakatan, organisasi keolahragaan, perusahaan, lembaga pendidikan hingga lembaga pemerintah. Walaupun sebenarnya event seperti ini bukanlah hal yang baru karena sudah kerap kali diadakan, tetap saja mempunyai daya tarik tersendiri bagi pecinta olahraga sekaligus sarana hiburan bagi masyarakat. 

Venue tempat pertandingan dilangsungkan terlihat cukup ramai karena hadirnya penonton. Sepintas tidak ada hal berbeda jika dibandingkan dengan penyelenggaraan event-event olahraga lainnya.

Menariknya semua event ini menggunakan judul dan waktu pelaksanaan yang hampir sama. Apakah ini sebuah kebetulan atau sudah didesain sedemikian rupa ? 

Sebuah kebetulan atau sudah didesain sebenarnya bukanlah sesuatu yang penting karena berolahraga bukan bagaimana bentuk covernya, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana substansi atau esensi keberadaan event tersebut dihadirkan. Apapun alasan yang dijadikan dasar event tersebut dilaksanakan, setidaknya sudah ada ketersediaan wadah kompetisi bagi atlet untuk menunjukkan kemampuannya.

Sebuah event kompetisi olahraga mempunyai peran penting dalam siklus pembinaan dan pengembangan olahraga. Event merupakan bagian utama yang tidak bisa dipisahkan dan lepas begitu saja dari seluruh rangkaian pembinaan dan pengembangan olahraga. 

Umumnya event bermuara pada hasil, dimunculkan pada fase akhir yang menjadi hilir, berfungsi untuk mengukur sejauh mana hasil pembinaan yang telah dilakukan (tolok ukur). Logika berfikirnya, berarti setelah melakukan pembinaan barulah event kompetisi diadakan. 

Bagaimana bisa mengukur hasil pembinaan jikalau pembinaan belum dilakukan ? Pastinya mengukur pembinaan yang dilakukan secara komprehensif meliputi fisik, teknik atau keterampilan, serta mental dan strategi. 

Jika dikupas lebih tajam lagi akan menyentuh pada tataran level kualifikasi, yaitu mengukur sejauh mana kualitas kondisi fisik, penguasaan teknik atau keterampilan, kematangan mental dan pemahaman akan strategi permainan yang telah dikembangkan. Tentu pada level olahraga terukur cara pengukurannya agak berbeda karena hasilnya akan berupa rekam catatan yang relatif lebih pasti yaitu berupa kumpulan angka-angka prestasi yang dicapai. 

Maka inventarisasi dari dokumentasi atau rekaman itu akan menjadi bahan diskusi yang sangat menarik, apakah event sudah sesuai tujuan penyelenggaraan dan memenuhi target yang dicanangkan?

Apakah secara kualifikasi ada peningkatan? Ujung dari diskusi itu akan memberikan gambaran obyektif pada level berapa prestasi yang telah dicapai tersebut berada. Apakah sudah layak bersaing pada kompetisi di tingkat yang lebih tinggi (level regional, nasional dan internasional) serta seberapa besar peluang mendapatkan juara.

Bagi olahragawan event kompetisi bisa diibaratkan sebagai sebuah pesta besar. Pesta unjuk kebolehan untuk menunjukkan performa terbaik dari semua potensi yang dimiliki kepada seluruh penonton. Ajang pembuktian atas segala macam bentuk dan jenis latihan yang telah diikhtiarkan selama kurun waktu tertentu untuk mendapatkan pengakuan. 

Sudah seyogyanya sebagaimana layaknya penyelenggaraan sebuah pesta diperlukan persiapan yang matang dengan perbekalan yang lengkap. Karenanya berbicara tentang event pasti tidak dapat meninggalkan fase sebelumnya yaitu fase pembinaan sebagai pangkal tolak berkompetisi sekaligus ruang untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.

Jadi event kompetisi adalah potret keterwakilan dalam satu waktu dari seluruh proses yang ada pada fase pembinaan sehingga output yang dihasilkan merupakan cerminan pembinaan yang telah dilakukan. Sangatlah benar jika ada kata-kata bijak bahwa hasil tidak akan mengkhianati proses. 

Kalau pun tidak sepenuhnya menggambarkan atau mewakili keseluruhan proses, atau mungkin ada yang kurang sesuai dengan harapan, maka tidak akan terlalu jauh melenceng dari proses pembinaan yang telah dilakukan. Artinya, apabila prosesnya dilakukan dengan baik dan benar maka hasilnya pun akan baik dan benar pula, pun demikian sebaliknya. Jadi pembinaan merupakan kunci utama bagi pencapaian sebuah prestasi. Pembinaan adalah ruh yang sangat menentukan hidup matinya prestasi olahraga, sedangkan kompetisi sebagai tolok ukurnya.

Pertanyaannya sekarang, apakah selama ini program pembinaan telah dilakukan dengan baik dan benar? Apakah ada upaya sungguh-sungguh mendesain proses pembinaan yang unggul dan kompetitif? Apakah event kompetisi yang tidak berjadwal dan berkelanjutan berdampak terhadap prestasi? 

Menjumpai secara langsung kondisi di lapangan rasa-rasanya event kompetisi yang ada belum sampai menyentuh pada upaya mengukur pembinaan, atau kalaupun pembinaan sudah dilaksanakan tapi belum dilakukan secara optimal. Hanya sebatas pesta. 

Belum nampak perhatian dan dukungan yang intens dari stakeholder pemegang kebijakan kepada cabang olahraga dalam membina atletnya. Apakah itu berupa kegiatan pemantauan, pendampingan, pengukuran dan menganalisa perkembangan atlet di setiap cabang olahraga. 

Mestinya memperkuat basis pembinaan terlebih dahulu sebagai pondasi yang kokoh sebelum menyelenggarakan event kompetisi. Terbukti saat event dilangsungkan terkesan kedodoran, mungkin karena mepetnya waktu persiapan, kekurangsiapan sumber daya manusia, keterbatasan anggaran atau minimnya sarana penunjang sehingga berimbas penyelenggaraan kurang maksimal. 

Bahkan pemberian reward bagi beberapa peraih juara sebagai bentuk apresiasi, baru diberikan di injury time pada akhir tahun. Demikian pula terlihat di arena pertandingan, atlet yang berpartisipasi tampil seadanya, kurang greget, terkesan tanpa persiapan yang memadai. Akibat kondisi seperti ini memunculkan kegelisahan batin di kalangan insan pelaku olahraga.

Memperbanyak event memang diperlukan. Kompetisi memang sangat dibutuhkan. Sebab dengan mengikuti banyak event maka jam terbang atlet akan bertambah sehingga teknik atau keterampilan akan semakin terasah, mental semakin matang serta elan tanding akan meningkat. 

Akan tetapi penyelenggaraan event kompetisi tanpa didukung analisis kebutuhan yang akurat, tanpa adanya dasar pembinaan yang kuat, serta waktu (periodesasi) yang tidak tepat justru akan berakibat kontraproduktif terhadap upaya pembinaan yang sedang dilakukan. Hanya akan menimbulkan gangguan pembinaan serta tidak berimplikasi signifikan terhadap peningkatan prestasi. Jadi mungkin saja pestanya berlangsung ramai, tapi substansi yang diinginkan tidak tercapai. Kompetisi menjadi kehilangan esensi.

Merujuk pada prinsip ilmu kepelatihan olahraga, ketika atlet terjun pada sebuah event kompetisi mestinya harus berada pada level puncak (peak performance) dari hasil mengikuti gemblengan latihan saat pembinaan. Oleh sebab itu pelatih akan berupaya keras merancang program latihan yang tepat dengan mempertimbangkan seluruh aspek yang dapat mempengaruhi performa atlet sebelum mengikuti sebuah event kompetisi. 

Karenanya event kompetisi yang akan diikuti sudah dirancang sesuai kebutuhan. Sekedar diketahui, pada fase pembinaan, program latihan disusun berdasarkan kesiapan beberapa aspek yang harus terpenuhi dan hal-hal spesifik yang melingkupinya. Seperti memperhatikan dan mempertimbangkan unsur kesiapan otot (sesuai perkembangan usia dan karakteristik cabang olahraga yang ditekuni), prinsip beban latihan (overload atau overweight, progresif, individual, spesifikasi, set, frekuensi, repetisi, durasi, pulih asal), serta melihat perkembangan neuro muscular (sistem syaraf yang mengontrol otot saat berolahraga).

Pertimbangan selanjutnya yang harus mendapat perhatian adalah seberapa jauh tingkat penguasaan teknik/ skill (mulai gerak dasar-lokomotor, koordinasi, sampai gabungan-kombinasi), pemberian nutrisi (pengetahuan tentang asupan lemak, karbohidrat, protein, vitamin), pemahaman strategi (pola permainan, strategi, teamwork, membaca kemampuan lawan), kematangan psikologi (kemampuan bersikap, menahan emosi, mental bertanding), ilmu kesehatan (pola hidup sehat, keseimbangan antara kerja dan istirahat, sistem pencernaan, pernafasan, pengetahuan tentang penyakit), anatomi dan fisiologi (struktur dan fungsi tubuh), biomekanika (gerak manusia berdasar prinsip mekanika), massage (pemulihan kebugaran atau cedera) dan sebagainya.

Termasuk beberapa faktor pendukung lain yang juga punya kontribusi besar terhadap keberhasilan pembinaan, seperti mekanisne penjaringan bakat dan minat atlet (talent scouting), tes dan pengukuran atlet (measurement test and evaluation), tes kesehatan, kesiapan Sumber Daya Manusia yang terlibat, dukungan anggaran, serta ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai sesuai standar. Sedangkan untuk memperoleh kondisi yang prima pada semua aspek tersebut maka atlet akan dikumpulkan dalam sebuah pemusatan latihan.

Lazimnya, dengan data-data tersebut tim pelatih akan menyusun agenda kegiatan selama satu tahun, memilih kapan dan berapa banyak event yang akan diikuti. Caranya dengan mempersiapkan atlet secara paripurna, kemudian menentukan target sasaran baik jangka pendek, menengah maupun panjang yang akan dicapai. 

Ada kompetisi tingkat cabang olahraga yang memang wajib diikuti karena menunjukkan eksistensi organisasi, seperti Kejuaraan Daerah (Kejurda) atau Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), dan ada kompetisi yang bersifat pilihan. Adakalanya seorang atlet diterjunkan mengikuti event A, tapi saat penyelenggaraan event B tidak ikut berpartisipasi. 

Pelatih jelas tidak akan berani memaksakan atletnya turun bertanding ketika belum punya bekal yang cukup dan waktu yang sesuai. Tujuan pokoknya adalah bagaimana agar atlet berkembang secara proporsional sesuai program, bisa lolos event resmi dan bergengsi yang dituju, serta mampu memberikan prestasi terbaik.

Maka mengadakan atau mengikuti event kompetisi di tengah-tengah pembinaan serta di luar jadwal kalender event yang sudah dirancang jelas akan mengganggu ritme program pembinaan, bahkan dapat merusak skenario pencapaian prestasi. Mengingat usia atlet di masa pembinaan mayoritas adalah usia pelajar atau remaja, maka dikhawatirkan dalam jangka waktu yang lama akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan tubuh-fisik atlet, timbulnya cedera akibat lelah fisik dan mental karena belum ada kesiapan, bahkan kemungkinan terjelek menyebabkan atlet matang sebelum waktunya yaitu tidak berkembang sesuai perkembangan usianya. 

Ketika memasuki usia emas (gold age) mengalami stagnasi prestasi. Akan lebih buruk lagi jika event kompetisi hanya bersifat situasional-kondisional, tidak berjenjang berkelanjutan sehingga ketika event kompetisi usai tidak ada program tindaklanjut bagi atlet peraih juara karena tiadanya sasaran event kompetisi yang akan diikuti pada jenjang lebih tinggi.

Memang pembinaan perlu waktu yang cukup panjang sehingga terasa membosankan. Ini yang terkadang membuat banyak orang tidak sabar melakoninya. Tetapi semua pasti sepakat bahwa tidak bisa mencetak atlet peraih juara secara instan. 

Diperlukan perencanaan program latihan yang spesifik, terukur dan berkesinambungan. Tidak boleh ada kegiatan dadakan (di luar program) ketika masa pembinaan sedang berlangsung. Pembinaan sendiri mempunyai bobot kontribusi sangat besar dengan proporsi sekitar 75% terhadap pencapaian prestasi. Ini sebenarnya yang harus digarap lebih serius lagi. 

Mestinya sektor ini yang menjadi fokus dalam upaya peningkatan prestasi. Bukan hanya karena berdalih mengejar ekspektasi pesta tetapi meninggalkan esensi sesungguhnya. Sejauh ini memang kebanyakan orang hanya fokus memperhatikan pencapaian prestasi (hasil akhir) saja, kalah atau menang, tetapi bagaimana latihan (proses) dilakukan untuk mencapai prestasi kurang begitu dimengerti dan dipahami.

Proses pembinaan yang demikian krusial dan sangat menentukan ini harus dilalui sebelum terjun pada setiap event kompetisi. Karena hanya dengan program latihan yang tepat akan mampu memberikan bekal bagi atlet mengarungi kompetisi demi meraih prestasi. Jangan pernah berharap kompetisi akan berkualitas dan mempersembahan prestasi optimal, tanpa adanya ikhtiar sungguh-sungguh dalam pembinaan.

Sekarang saatnya mengembalikan dan meneguhkan kembali konsep kompetisi olahraga sebagaimana yang pernah ada, dalam sebuah kalender event yang jelas spesifikasi dan tujuannya, kepastian waktu pelaksanaan, leading sektor yang bertanggunjawab, berdasarkan pendekatan ilmu kepelatihan olahraga serta landasan pembinaan yang kuat. Kalender event yang tertata rapi, tidak tumpang tindih, akan menjadi pedoman bersama bagi semua unsur yang terlibat dalam pembinaan, pengembangan dan peningkatan prestasi olahraga. 

Mungkin hari ini ikhtiar yang dilakukan belum mencapai target, tapi yakinlah dengan pendekatan keilmuan suatu saat prestasi akan mampu digapai. Dengan model kompetisi yang demikian, paling tidak sudah mewariskan sebuah sistem keolahragaan pada jalur yang benar. 

Untuk kesemuanya itu sungguh diperlukan kolaborasi, sinergitas, komitmen serta kerjasama dalam bingkai sportivitas olahraga. Jangan lelah melakukan pembinaan, karena pembinaan adalah sebuah keniscayaan dalam menggapai prestasi. Salam Olahraga... !!!

 

Penulis merupakan pegiat dan penyayang olahraga di Kabupaten Tuban 

 

Temukan konten blokTuban.com lainnya di GOOGLE NEWS