20:00 . Meninggalnya KPPS Tuban Diduga Kuat Kelelahan   |   19:00 . Ketua DPRD Tuban : Pemilu Serentak Perlu Dikaji   |   18:00 . Sempat Pingsan, Anggota KPPS di Semanding Meninggal Dunia   |   17:00 . Beberapa Titik CCTV Akan Dipasang di Gudang Penyimpanan Surat Suara   |   16:00 . Kuliner Ekstrim Biawak, Begini yang Dirasakan Penggemar...   |   12:00 . Rekapitulasi Surat Suara Kecamatan Dijaga Ketat   |   11:00 . Hari Kartini, Pertamina Diskon Bright Gas Rp21.000   |   10:00 . Kamar Kejiwaan Khusus Caleg Gagal di RSUD Koesma Sepi   |   08:00 . Warisan Sejarah di Bumi Wali   |   07:00 . Siapa Saja yang Layak Diundang dalam Pernikahan Anda?   |   06:00 . Hari Kartini 2019, Ini Sejarah & Kutipan Inspiratifnya   |   18:00 . Heboh.....! Emak-emak Bakar Diri   |   17:00 . Stok Aman, Harga Bengkoang Mojomalang Selalu Stabil   |   16:00 . Cikal Bakal Warga Menilo di Makam Eyang Pendek   |   15:00 . Tanpa Didampingi Keluarga, Begini Kondisi SR di RSNU   |  
Mon, 22 April 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Saturday, 13 April 2019 08:00

Stok Tembakau Kosong, Petani Undur Masa Tanam

Stok Tembakau Kosong, Petani Undur Masa Tanam

Reporter: M. Anang Febri

blokTuban.com - Curah hujan yang tak menentu akhir-akhir ini berpengaruh dengan masa tanam para petani tembakau di wilayah Kabupaten Tuban. Para petani cenderung menunda masa tanam mengingat cuaca yang belum mendukung penanaman tembakau.

Penanaman ditunda lantaran saat ini masih sering hujan sehingga lebih bisa dimanfaatkan proses tanam tumbuhan lain seperti cabai dan jagung.

"Memang kita banyak yang mundur. Biasanya kan bulan 3 sudah ada yang tanam, tapi ini kebanyakan masih ke jagung," kata Karsani, petani di Desa Ngrejeng, Kecamatan Grabagan.

Menurutnya, proses tanam tembakau rencananya akan dilakukan sekitar akhir bulan April atau paling lambat awal Mei. Pada masa-masa itu dipresdiksi curah hujan menurun sehingga cocok untuk menanam tembakau.

"Kita nunggu setelah panen jagung yang akhir ini," tambahnya kepada blokTuban.com, Jumat (12/4/2019).

Sementara petani lain di Desa Ngarum juga menuturkan hal yang sama. Jika sebelumnya 50 persen lebih warga petani yang menanam tembakau memulai pada awal tahun, hal berbeda kini dilakukan. Olah lahan akan dilakukan awal bulan Mei mendatang, sebelum musim kemarau benar-benar datang.

"Harusnya begitu. Tapi kita kan ikuti musim, soalnya masih ada banyak hujan. Tembakau kan hanya butuh cukup air, kalau kebanyakan bisa rusak dan mati," beber Surtrisno.

Di samping minimnya stok tembakau lokal yang kosong, ada pula warga luar kota yang harus gigit jari sebab tak ada tembakau yang bisa dibawa pulang olehnya ke Kota Solo.

"Biasanya kan waktu sekarang ini sudah banyak yang tanam tembakau di sekitar Tuban. Kan bisa pesan lebih dulu. Tapi malah kosong, gak dapat tembakau buat oleh-oleh pulang," ucap Pak Owot dari Solo, Jawa Tengah. [feb/col]

Tag : tembakau, petani

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Sunday, 21 April 2019 08:00

    Warisan Sejarah di Bumi Wali

    Warisan Sejarah di Bumi Wali Di Tuban banyak sekali wahana wisata yang memang sudah menjadi tujuan para wisatwan domestik maupun non domestik. Namun, sebenarnya bagaimana sih sejarah wisata yang ada di ujung barat Provinsi Jawa...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 09 February 2019 13:00

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp Sehubungan dengan maraknya kembali modus penipuan rekrutmen Holcim yang beredar lewat akun media sosial WhatsApp, masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan sekitarnya diminta waspada. Semua pihak harus lebih hati-hati,...

    read more