15:00 . Tersangka Penggelapan Bantuan Sapi di Tuntut 1,5 Tahun Penjara   |   14:00 . Cari Bibit Atlet, PO Cabang Tuban Gelar Kompetisi Antar Ranting   |   12:00 . Suksesi Pemilu di Tuban, KPU Gelar Konser Musik.   |   11:00 . 129 Bidang Lahan Warga Selesai Dipatok untuk Kilang Tuban   |   09:00 . Camat Hendro Pensiun, Sempat Bercita-Cita Jadi Hansip   |   08:00 . Refresing Bersama Kader Kesehatan Kecamatan Jenu   |   07:00 . Manfaat Berhubungan Intim Selama 30 Hari   |   17:00 . Belum 3 Bulan, Ada 7 Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan   |   16:00 . Bulog Belum Bisa Terima Beras Dari Petani, ini Alasannya...   |   15:00 . Nuansa Klasik Santai, Ngopi Nongkrong Tanjung Sari   |   14:00 . Masyarakat Sekitar TPPI Rutin Dapat Pengobatan Gratis   |   13:00 . Kebakaran Lumat Rumah Pedagang Ikan   |   12:00 . Tak Lagi Terkelola, Begini Komen Pengunjung Sendang Maibit   |   11:00 . Tiga Warga Jenu Itu Resmi Tersangka   |   10:00 . Kaji Cepat Kebakaran, Berlanjut Gotong Royong Dirikan Rumah Korban   |  
Mon, 25 March 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Wednesday, 09 January 2019 07:00

Penghasilan Anjlok Bisa Picu Penyakit Jantung, Apa Sebabnya?

Penghasilan Anjlok Bisa Picu Penyakit Jantung, Apa Sebabnya?

Reporter: -

blokTuban.com - Masalah keuangan menjadi salah satu sumber kecemasan yang paling umum, serta bisa berdampak buruk terhadap kesehatan jantung. 

Hal ini tidak hanya terjadi pada orang berusia lanjut, namun juga mengancam mereka yang berusia muda. 

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation, para ilmuwan mengumpulkan data dari sekitar 4.000 orang selama 15 tahun. 

Data itu merekam keadaan para responden mulai dari ketika mereka berusia 23-35 tahun. 

Kepada para responden di awal fase penelitian, para ilmuwan menanyakan data penghasilan mereka. 

Selanjutnya, pertanyaan serupa disampaikan sebanya empat kali pada sepanjang periode penelitian. 

Selain itu, para ilmuwan juga menganalisa rekam medis penyakit jantung, dan kematian para partisipan. 

Selama periode itu, para peneliti menemukan, mereka yang memiliki pendapatan yang berubah-ubah, -terutama yang lebih sering anjlok, cenderung memiliki risiko penyakit jantung dua kali lipat lebih tinggi. 

Bahkan mereka memiliki risiko kematian dini dua kali lebih tinggi ketimbang kelompok lainnya yang memiliki pendapatan lebih stabil. Tamuan dalam penelitian ini dilansir di laman Time. 

Kebanyakan partisipan yang memiliki pendapatan tidak stabil adalah mereka yang tidak memiliki pekerjaan, atau gajinya berkurang setelah berganti pekerjaan. 

Para peneliti juga fokus kepada orang-orang yang kehilangan 25 persen atau lebih pendapatannya.

Dari sana didapatkan, baik volatilitas maupun pengurangan pendapatan sama-sama berdampak pada peningkatan risiko penyakit jantung. 

Ragam risiko itu berupa serangan jantung, stroke, hingga gagal jantung, sama seperti risiko kematian dini. 

Temuan efek tersebut tergolong mengejutkan bagi para ilmuwan. 

"Kami berasumsi, penurunan pendapatan atau perubahan pendapatan yang tidak stabil mungkin berdampak buruk bagi kesehatan karena dianggap memicu stres." 

"Tapi kami cukup kaget bahwa hal ini juga menyerang masyarakat usia muda," kata Tali Elfassy, asisten profesor epidemologi Department of Public Health Science di Unviersity of Miami. "Efeknya juga sangat kuat," sambung dia. 

Selain itu, orang-orang yang mengalami lebih dari dua kali penurunan pendapatan selama periode studi memiliki risiko terkena penyakit jantung 2,5 kali lebih besar dan dua kali lebih berisiko mengalami kematian. 

Probabilitas itu dibandingkan dengan mereka yang pendapatannya cenderung stabil. 

Studi ini memang tidak dilakukan untuk mengeksplorasi lebih jauh keterkaitan perubahan pendapatan dan penyakit jantung. 

Namun, riset sebelumnya mengungkap hubungan yang kuat antara stres dan penyebab penyakit jantung. 

Stres bisa memicu obesitas. Obesitas sendiri merupakan salah satu faktor penyakit jantung, sama seperti tekanan darah tinggi. 

Pendapatan rendah juga bisa memiliki peran independen. Berada dalam status sosioekonomi rendah juga terkait dengan kesehatan jantung yang buruk. 

Sebab, orang-orang dengan pendapatan yang tidak stabil cenderung merokok, jarang olahraga, dan jarang berkonsultasi dengan dokter. Semua faktor ini bisa menyebabkan peningkatan risiko penyakit jantung. 

Hasil penelitian juga menemukan, orang-orang dari segala usia harus lebih memerhatikan faktor non-medis, seperti pendapatan, ketika membicarakan soal kesehatan mereka. 

"Bahkan, di antara masyarakat usia muda, pendapatan sangatlah penting. Perubahan pendapatan bisa menjadi hal yang besar." 

"Kami sering berpikir masyarakat usia tua cenderung lebih rapuh terhadap kondisi ini, tapi ternyata populasi muda juga mengalami stres finansial ini," kata Elfassy. 

Para dokter juga dianjurkan untuk menanyanyakan pasien mereka tentang hal-hal besar yang terjadi pada pasiennya yang diduga menjadi sumber stres. Salah satunya adalah faktor perubahan status ekonomi. 

Sehingga, para dokter bisa memberikan konseling kesehatan mental atau memberikan afirmasi positif terhadap pasiennya. 

Namun, karena pendapatan biasanya di luar kontrol pribadi, fokus pada stres yang dirasakan bisa menjadi cara untuk meningkatkan kesehatan jantung. 

Cobalah untuk melakukan olahraga rutin, atau membiasakan aktivitas jalan kaki yang terbukti bisa membantu menjaga kesehatan jantung. 

Nah, jika merasa mengalami stres, kamu juga bisa mencari dukungan sosial untuk mengatasi stres yang disebabkan karena pendapatan yang fluktuatif

*Sumber: kompas.com

 

Tag : kesehatan

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 04 March 2019 08:00

    Pondok Literasi

    Pondok Literasi Saat ini lagi gencar-gencarnya gerakan litersai. Di mana-mana ada komunitas baca, tadarus puisi dan dan bedah buku, yang arahnya untuk menumbuhkan cinta membaca. Baru sebagian kecil kegiatan di Kabupaten...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 09 February 2019 13:00

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp Sehubungan dengan maraknya kembali modus penipuan rekrutmen Holcim yang beredar lewat akun media sosial WhatsApp, masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan sekitarnya diminta waspada. Semua pihak harus lebih hati-hati,...

    read more