Mengurai Peran Edukatif Gadget

Oleh: Usman Roin *

Ada pertanyaan besar, mengapa gairah menulis belum begitu populer? Padahal, mulai dari bangku dasar (SD) anak-anak –terlebih kita– sudah belajar membentuk huruf, lalu beranjak merangkai antar huruf menjadi kata, dan menyambungkan antar kata yang kemudian menjadi paragraf.

Namun, ghiroh menulis dalam perjalanannya seakan terkalahkan oleh keterampilan berbicara atau oral. Hal itu wajar, karena dalam konteks sejarah peradaban, manusia pertamakalinya bisa menyebut sesuatu itu atas bimbingan berucap. Maka wajar bila berbicara –verbal– menjadi hal yang utama dikuasai saat anak kecil.

Seiring dengan kayanya kosakata verbal yang bisa ditangkap, tak serta merta itu kemudian di tunjang dengan mengasah kemampuan menulis. Terlebih, jenjang pendidikan yang dilalui mulai dasar, menengah, atas/kejuruan, hingga tinggi juga seakan tak mampu melahirkan pribadi yang semangat menulis.

Terlebih, fakta kehadiran gadget memiliki daya tarik aplikasi berupa media sosial (medsos) antara lain: facebook, istagram, whatsapp, twitter dan lainnya. Hanya saja, kehadirannya masih banyak di gunakan untuk sekedar menumpahkan perasaan kegalauan yang bersifat pribadi. Padahal efeknya bila dibaca publik, perilaku seperti itu juga akan sama dilakukan yang lainnya.

Khusus tentang sosmed sendiri, Kominfo dengan seksama telah mengharap, agar kehadirannya jangan hanya digunakan untuk sekadar update status atau juga saling menimpali komentar dan foto yang diunggah. Melainkan kemajuan teknologi internet dapat lebih digali lagi kemanfaatannya agar nantinya Indonesia tidak hanya menjadi pengekor dari penemuan-penemuan luar dan dapat juga bersaing dengan negara lainnya

Tentang kehadiran gadget untuk anak sekolah dasar, bagi penulis faktanya tidak lantas di tangkap untuk meningkatkan skill serta sarana mempermudah segala aktivitas belajar yang dilakukan, melainkan hanya dibuat sebagai penanda stratifikasi sosialita (orang penting). Kehadirannya hanya sebatas pemenuhan gaya kekinian dan belum menyentuh pada substansi pendukung kemajuan pendidikan.

Sebagai misal, selepas dari sekolah anak diberi tugas literasi ringan dengan merekam –audio visual– kegiatan edukatif yang terjadi di sekitar lingkungan. Bisa tentang mengaji di musala, pengajian di masjid, atau aneka perlombaan dikampung. Untuk kemudian, hasilnya dikumpulkan dan bisa dilihat satu persatu untuk kemudian dinilai oleh guru. Setelah terpilih yang terbaik, hasil rekaman kegiatan edukatif tersebut dibagikan kepada khayalak umum melalui website sekolah. Tujuannya, adalah memperkenalkan kegiatan lokal kreatif agar yang tidak bisa atau punya ide kreatif tergugah untuk membuat dan melakukan hal yang serupa.

Hal yang lain, secara fakta gadget yang ada juga masih banyak digunakan untuk membagikan aktivitas pribadi –selfie– yang bagi penulis tingkat kepentingannya justru dipertanyakan kontribusinya untuk publik. Alangkah lebih baik, bila kemudian anak melalui gadget dialihkan untuk memfoto buku terbaru di toko buku, kios seragam yang murah dan berkualitas, serta lokasi edukatif untuk berwisata. Tujuannya, bahwa sejak dini mereka ditanamkan bahwa kehadiran gadget harus banyak memberi kemanfaatan informasi kepada orang lain. Sehingga, apa yang di-upload memiliki nilai sumbangsing pengetahuan yang konkret kepada sesama.

Selain itu, pemberian gadget kepada anak hendaknya dibuat sebagai media belajar alternatif. Agar jangan sampai, gadget yang berikan kepada mereka justru hanya digunakan untuk aktivitas permainan hayal –berupa game– belaka. Caranya, game-game yang khayali tersebut dihapus dari gadget untuk kemudian diganti dengan aplikasi edukatif belajar berbahasa, berhitung, menghafal surat-surat pendek atau lainnya. Sehingga, kepemilikan gadget memberi kontribusi sebagai media belajar alternatif melengkapi teks book konvensional.

Dan yang terakhir, hadirnya gadget juga bisa digunakan untuk mengasah ketrampilan berbahasa, sebagai misal dengan menulis. Terlebih, terdapat pilihan praktis aplikasi program yang bisa digunakan untuk menulis hingga menyimpan dalam rentan waktu yang lama. Alhasil, dari gadget juga dalam perkembangannya bisa digunakan dimana saja untuk berkaya hingga selanjutnya mudah mengirimkannya ke medsos pribadi atau media online maupun cetak.

Sebagai penutup, membimbing anak cara mempergunakan gadget yang kaya manfaat adalah cara bijak memfungsingan teknologi tepat guna.

*Humas di SMP Islam Terpadu PAPB, Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang dan Koord. Devisi Komunikasi & Hubungan Media Majelis Alumni IPNU Bojonegoro.