Reporter: Dhahrul Mustaqim
blokTuban.com - Perca batik gedog yang selama ini tersisa dari proses produksi dan pelepah jagung yang mudah ditemukan di lingkungan pedesaan ternyata masih memiliki nilai ekonomi. Di tangan warga Desa Mliwang dan Kedungrejo, Kabupaten Tuban, kedua material tersebut diolah menjadi produk kerajinan yang kini dibawa ke panggung nasional.
Topi berbahan perca batik gedog dan tas dari pelepah jagung yang dipadukan dengan perca batik gedog akan dipamerkan dalam Kriyanusa 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), 26-30 September 2026.
Produk tersebut merupakan hasil kreativitas kelompok Bank Sampah Lingkar Satu yang mendapatkan pendampingan dari Solusi Bangun Indonesia (SBI) Pabrik Tuban. Sebelum masuk ke ajang nasional, produk melalui proses pendampingan dan kurasi bersama Dekranasda Kabupaten Tuban.
Keikutsertaan di Kriyanusa menjadi kesempatan bagi pengrajin untuk menguji sejauh mana produk berbasis material lokal mampu keluar dari pasar desa dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
Bagi pengrajin, tantangannya bukan sekadar membuat produk. Kualitas bahan, desain, inovasi, kapasitas produksi, hingga kemampuan menjaga kontinuitas menjadi bagian penting agar kerajinan berbasis potensi lokal dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Salah satu pengrajin, Siti Kusriyatun, warga Desa Mliwang, mengatakan dirinya tidak menyangka produk topi gedog buatannya dapat lolos kurasi dan dipamerkan dalam kegiatan berskala nasional.
“Alhamdulillah, tiada kata lain selain rasa syukur yang mendalam. Saya tidak pernah menyangka produk saya lolos kurasi dan dapat dipamerkan dalam event nasional Kriyanusa,” kata Siti.
Topi tersebut dibuat dengan mengolah kembali perca batik gedog melalui proses pemintalan dan pengembangan desain. Sementara tas pelepah jagung memanfaatkan material alami yang kemudian dikombinasikan dengan perca batik gedog.
Dua produk tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana material yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi terbatas dapat diubah menjadi barang bernilai jual dengan sentuhan keterampilan dan desain.
General Manager Pabrik Tuban, Priyatno, mengatakan pendampingan masyarakat diarahkan agar potensi lokal tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi berkembang hingga memiliki kualitas dan akses pasar.
“Ketika produk lokal memiliki kualitas dan daya saing, peluang ekonominya semakin besar. Karena itu, kami mendorong tidak hanya kemampuan produksi, tetapi juga kualitas, inovasi, kontinuitas, dan akses pasar,” ujarnya.
Pendampingan yang dilakukan Pabrik Tuban tidak hanya menyasar kerajinan berbahan alternatif dan material sisa. Program juga mencakup pengembangan produk kuliner khas daerah serta komoditas ramah lingkungan.
Bagi warga, masuknya produk ke Kriyanusa menjadi satu tahapan untuk melihat peluang yang lebih besar dari usaha yang selama ini tumbuh dari lingkungan sekitar. Jika mampu menjaga kualitas dan memenuhi kebutuhan pasar, kerajinan tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan lebih banyak warga.
Dari Mliwang dan Kedungrejo, material sederhana seperti perca batik gedog dan pelepah jagung kini mendapat kesempatan bertemu pasar yang lebih luas. Nilainya bukan lagi sekadar bahan sisa, tetapi menjadi produk yang membawa keterampilan warga dan identitas lokal Tuban ke tingkat nasional.