Tujuh orang perwakilan penambang sumur tua di lapangan minyak Distrik 1 Kawengan terlihat hadir di Ruang Rest Room Distrik 1 Kawengan, Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jum'at (18/11/2016).
Kontrak operasi Blok Minyak dan Gas Bumi (Migas) Tuban yang dioperatori Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ) awal tahun 2018 sudah berakhir. Namun, hingga kini belum ada keputusan mengenai kontrak perpanjangan atau ada pertimbangan lain.
Kendati dalam beberapa waktu belakangan ini harga cabai di Kabupaten Tuban meroket, atau mengalami kenaikan yang cukup tinggi, pemerintah tidak akan mengeluarkan rekomendasi impor komoditas tersebut. Pasalnya, fakta di lapangan ditemukan pasokan cabai dari petani lokal masih memadai.
<em><strong>Siapa yang tidak mengenal Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Desa yang berbatasan dengan Kecamatan Rengel tersebut mempunyai kandungan Minyak dan Gas Bumi (Migas) melimpah. Operator Migas Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina PetroChina East Java (JOB PPEJ) sejak lama melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam (SDA) berupa minyak dan gas. Tidak hanya menambang, tetapi JOB PPEJ juga berbagi untuk warga sekitar operasi.</strong></em>
Kerja Sama Operasi (KSO) di Lapangan Tua dengan operator PT Geo Cepu Indonesia (GCI) dinilai oleh penambang minyak setempat belum transparan, terutama saat sosialisasi peraturan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hal itu disayangkan penambang tradisional di Distrik 1 Kawengan, Rabu (16/11/2016).
Sejumlah petani cabai di kawasan Sidohasri, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban meminta pemerintah untuk menekan penyuplai asal luar daerah terkait dengan tren menaiknya harga komoditas tersebut.
Pembangunan sektor minyak dan gas (Migas) dapat berjalan beriringan dengan pembangunan pada sektor lingkungan hidup. Terciptanya keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian hutan dan Migas merupakan prasyarat penting bagi terlaksananya keberlanjutan segala aspek kehidupan.
Peras keringat yang dilakukan dua pemuda, yakni Boy (29) asal Bandung dan Rama (18) asal Cirebon dalam menjalani pekerjaannya sebagai badut kini mendapatkan hasil yang bisa dibilang lebih dari cukup.