13:00 . Pemberitahuan Tahap Penyidikan Sengketa Tanah di Pantai Semilir Tuban Diwarnai Demo Warga   |   12:00 . Ratusan Kedaraan Plat Merah di Tuban Menunggak Pajak, Tagihan Capai Puluhan Juta   |   11:00 . Jadwal Buka Puasa dam Imsakiyah Ramadhan 30 Maret 2023 Provinsi Jawa Timur   |   10:00 . Konsumsi Kurma Selama Puasa Ramadhan Bermanfaat Cegah Anemia dan Sumber Energi   |   09:00 . Masuk Pekan Akhir di Maret 2023 Harga Emas Antam Turun Rp10.000 Per Gram   |   08:00 . Mengenal Berbagai Tanda Waqaf Dalam Al-Qur'an dan Pengertiannya   |   07:00 . Resep Coklat Karakter yang Mudah Dibuat Untuk Ide Jajanan Lebaran   |   21:00 . Tingkatkan Sinergitas Kadin Tuban Silaturahmi ke Beberapa Instansi Terkait   |   20:00 . Menengok Masjid Astana di Kompleks Makam Sunan Bonang Tuban yang Berusia 1 Abad   |   19:30 . Pertahankan Budaya K3, PLN Nusantarawa Power di Tuban Konsisten Raih Penghargaan   |   19:00 . Makam Sunan Bonang pada Minggu Pertama Ramadhan 2023 Sepi Pengunjung   |   18:30 . Legasi PLN Nusantarawa Power di Tuban: Rumah dan Lapangan Berbahan FABA   |   18:00 . Ratusan Sapi di Tuban Terserang LSD, Apakah Menular ke Manusia?   |   17:00 . Napak Tilas Pesanggrahan Bupati Tuban Pertama di Tengah Pemandian Bektiharjo   |   16:00 . Gelar Sosialisasi, Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Tuban: Jumlah Kursi Tetap   |  
Thu, 30 March 2023
Jl. Sunan Muria no 28, Kelurahan Latsari, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Mengapa Penting untuk Menulis Isu Disabilitas?

bloktuban.com | Monday, 28 February 2022 10:00

Mengapa Penting untuk Menulis Isu Disabilitas?

Reporter: Dina Zahrotul Aisyi

blokTuban.com- Ketika hendak menulis atau mengangkat isu terkait disabilitas yang harus menjadi dasar adalah hak-hak difabel sebagai warga negara terpenuhi. Benni Indo, jurnalis Surya, Kota Batu yang sudah kerap kali menuliskan isu-isu terkait disabilitas mengungkapkan bahwa fungsi jurnalis adalah merekam hal tersebut dan menunjukkan kepada publik sebagai bahan edukasi.

“Ini lho ada satu kelompok, warga negara Indonesia, punya KTP juga, bayar pajak juga, tapi hak-haknya berbeda dengan lainnya. Nah kita membantu menyuarakkan suara-suara minoritas itu untuk membuka atau menyadarkan orang-orang yang punya kewenangan untuk membuat kebijakan agar bisa terpenuhi,” ujarnya.

International Labor Organization (ILO) sejak tahun 2014 sudah menuliskan panduan terkait penulisan isu disabilitas di Indonesia. Dalam buku tersebut dijelaskan oleh Benni bahwa jumlah disabilitas di Indonesia ada banyak sehingga diperlukan untuk menulis isu terakit hal tersebut. Selain itu juga perlu memberikan informasi yang akurat bahwa disabilitas bukanlah sebuah kutukan dan hal yang harus dijauhi.

“Wartawan memiliki tanggung jawab untuk melindungi anggota masyarakat tertentu dari tindakan diskriminatif. Kita mencoba untuk mengcounter stigma-stigma itu melalui pemberitaan,” ujarnya dalam kegiatan refresh pelatihan jurnalis yang diadakan oleh yayasan paramitra.

Benni melanjutkan, selain itu juga perlu menyebarkan informasi tentang hak-hak disabilitas, sebab hak-hak dari mereka (penyandang disabilitas) sering tidak terpenuhi. Bukan hanya dari segi fasilitas, tetapi pola pikir dari kebijakan yang belum inklusi karena masih melihat disabilitas sebagai normal dan tidak normal, sempurna dan tidak sempurna.

“Sebagai seorang wartawan kita dapat membantu mempengaruhi pandangan dan opini publik, sehingga para penyandang disabilitas dapat meninkmati hak yang sama untuk berpartisipasi dalam semua sektor masyarakat,” ungkapnya.

Dalam panduan tersebut juga dituliskan bahwa sebagai wartawan perlu memberikan suara terhadap kelompok masyarakat yang termiskin dan termarjinalisasi. Jurnalis Harian Surya Kota Batu tersebut menjelaskan, kelompok disabilitas merupakan kelompok marjinal, kelompok minoritas yang memang perlu dibantu untuk menyuarakan hak-haknya. 

“Sejatinya mereka tidak perlu belas kasihan, mereka hanya perlu akses untuk bisa mandiri,” ujarnya.

Terkait dengan penyandang disabilitas, sudah diatur dalam Undang-Undang No. 8 tahun 2016. Artinya, pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk memenuhi hak-hak disabilitas. 

“Salah satu contoh kasusnya, perusahaan milik negara harus menanmpung minimal 2 persen kelompok disabilitas. Namun fakta-fakta di lapangan banyak teman-teman disabilitas yang ditolak atau dipersulit ketika mencari kerja,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, bahwasanya implementasi dan komitmen awal pemerintah Indonesia terkait dengan pemenuhan hak-hak disabilitas itu tidak maksimal dan teman-teman disabilitas tidak bisa memperjuangkannya sendirian. 

“Kita sebagai jurnalis, yang punya fungsi edukasi selain hiburan, kita membantu untuk edukasi agara ada keterbukaan dari masyarakat, terkhusus pada pemangku kebijakan agar kebijakan tersebut bisa maksimal diterapkan,” jelasnya.

Isu disabilitas juga sebenarnya sangat dekat dengan masyarakat karena terjadi di setiap aspek kehidupan kita, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, akses keuangan, fasilitas umum, ketenaga kerjaan hingga isu transportasi dan pariwisata. 

“Fasilitas publik itu harus inklusif, maksudnya bukan hanya bisa diakses oleh disabilitas saja tetapi semua orang, termasuk anak-anak dan orang tua bisa beraktifitas di situ,” tutupnya. [din/ono]

 

 

Tag : isu disabilitas, disabilitas



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat