19:00 . Peringati Maulid Nabi Muhammad, TPQ Al-Ma’ruf Adakan Pawai Bersama   |   18:00 . Overkapasitas Tak Halangi Lapas Tuban Terima 20 Napi Pindahan Asal Mojokerto   |   17:00 . Industri Kilang Berpotensi Ubah Alur Tangkap Ikan Nelayan, Ini Saran Pakar   |   16:00 . Lahan Kosong Disulap Jadi Tempat Bisnis Nursery   |   15:00 . Es Puter Legendaris, Kuliner Jadul Asal Klaten   |   14:00 . Sarasehan HSN di Bongok, Begini Pesan Bupati Tuban Untuk Para Santri   |   13:00 . Bupati Tuban Apresiasi Penanaman Pohon Kopi di Kawasan Hutan Lindung Bongok Jetak   |   12:00 . Songsong HJT ke-728, Unirow Gelar Diskusi Permasalahan Pesisir Tuban   |   11:00 . Hadapi Tantangan Digital, Ansor Jatim Gembleng Kader Melalui Madrasah Cyber Jilid Dua   |   10:00 . Wajib Coba! Dimsum Mr. San Tawarkan 19 Macam Menu   |   09:00 . Ini Bedanya Tomat Jenis Corona dan Servo   |   08:00 . Begini Peran Santri dalam Pembentukan NKRI   |   07:00 . Cara Minimalisir Anak Kecanduan Gawai, Psikolog: Beri Anak Pilihan Kegiatan   |   20:00 . Punya Ikan Hias dan Sering Mati? Ini Solusinya!   |   19:00 . Menang 1-0 Saat Uji Coba Lawan Bojonegoro FC, Pelatih Bumi Wali FC Akui Puas   |  
Sun, 24 October 2021
Jl. Sunan Muria no 28, Kelurahan Latsari, Kecamatan/Kabupaten Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Tumpah Ruah, Guyub Rukun Warga Plumpang Wiwit Padi

bloktuban.com | Sunday, 26 September 2021 18:00

Tumpah Ruah, Guyub Rukun Warga Plumpang Wiwit Padi

Reporter : M. Anang Febri

blokTuban.com - Tradisi wiwit padi sudah jarang ditemui oleh masyarakat di Kabupaten Tuban. Meski demikian, bukan berarti tradisi ini sudah tak lagi lestari. Masih ada sejumlah warga yang mempertahankan tradisi Jawa dari nenek moyang ini. Salah satunya warga di Tanah Tikungan Tajam, Desa Plumpang, Kecamatan Plumpang.

Masyarakat yang bermukim di RT/RW 04/09, atau biasa disebut lingkungan sawah kulon (barat) menyambut acara wiwit tumpah ruah memadati jalanan yang menikung itu. Mulai dari anak-anak, pemuda, ibu-ibu, juga para petani setempat nampak antusias dengan acara wiwit padi.

Bekal dari rumah berwujud aneka sajen diarak oleh warga dari rumah dekat sawah kulon menuju lokasi. Suasana mendung dan hujan pun menyertai, namun tak menyurutkan khidmat warga.

Sebelum tabuh acara wiwit dimulai, terdapat sebuah pertunjukan seni yang dibawakan Arif Ponco, seniman teater Tuban, yang menghantar doa-doa berikut laku penggambaran pertunjukan wiwit.

"Terimakasih kepada masyarakat yang semangat, sudah mau uri-uri tradisi budaya Jawa wiwit pari (padi *red)," kata Kepala Desa (Kades) Plumpang, Tumito ketika membuka acar wiwit padi, Minggu (26/9/2021).

Dengan begitu, warga mengharap Dewi Sri penggambaran dewi kemakmuran padi agar menyertai. Doa-doa juga dikirim pada para leluhur yang membuka bumi Plumpang.

"Semoga wiwit ini memberi kemanfaatan bagi semua warga. Khususnya para petani di Desa Plumpang, terlebih warga bumi sawah kulon tikungan tajam," lengkapnya.

Tokoh sesepuh, Mbah Sunaji menjelaskan bagaimana seluk beluk makna wiwit padi. Tradisi ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sri Sedani yang memangku Dusun Plumpang, berharap agar semua diberi kenikmatan, selamat dunia dan akhirat.

"Semua masyarakat semoga diberikan kemudahan, sehingga bisa mendapat rezeki melimpah yang berkah," tutur Mbah Sunaji yang juga dukun tanduk wiwit itu.

Acara tradisi ini juga diprakarsai oleh para pemuda Plumpang, yang didukung penuh oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat lingkungan setempat.

Bambang Budiono, seorang tokoh pemuda desa telah lama ingin menggalakkan kembali tradisi wiwit. Dengan maksud menumbuhkan lagi bagaimana suasana suka cita saat panen. Yang pada umumnya wiwit padi dilakukan secara mandiri maupun kolektif.

"Wiwit padi ini adalah tradisi yang hampir punah. Maka dari itu sebisa mungkin kita jaga dan dilestarikan," jelas Bambang.

Pria alumni Universitas Ronggolawe (Unirow) Tuban ini menambahkan, bahwa memang diakui kalau tradisi semacam ini sempat sepi. Hanya orang tertentu yang melakukan, dan selebihnya melupakan.

Sementara itu, dari respon masyarakat perihal uri-uri tradisi wiwit ini begitu disambut ria. Hal itu terbukti dari keseriusan gotong royong di dalamnya. Meskipun sebelumnya ada sedikit penolakan yang membumbui uri-uri wiwit padi.

"Sempat ada penolakan, katanya sudah tidak zamannya. Akan tetapi, seiring jalannya waktu semua warga sepakat untuk tetap mempertahankan tradisi wiwit padi. Kedepan akan kita pertahankan," ujar Supandi, tokoh masyarakat.

Dari bumi sawah barat, Lingkungan Tikungan Tajam, Desa Plumpang, warga memberi pesan terhadap kawula muda supaya tak malu untuk bertani.

"Untuk petani muda, jangan takut masuk sawah, jangan takut menanam. Karena itu budaya tradisi leluhur kita, yang hidup dari agraria," seru Bambang berpesan. [feb/col]

 

Tag : Tradisi, Wiwit, padi



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 07 August 2021 14:00

    Mahasiswa Demo Ijazah IAINU Tak Keluar, Rektorat Minta Maaf

    Mahasiswa Demo Ijazah IAINU Tak Keluar, Rektorat Minta Maaf Aliansi alumni dan mahasiswa IAINU Kabupaten Tuban pada Sabtu (7/8/2021) pagi menggereduk gedung rektorat yang terletak di Jalan Manunggal Kelurahan Sukolilo, Kecamatan/Kabupaten Tuban. Kedatangan puluhan massa tersebut untuk menanyakan legalitas...

    read more