16:00 . Kecelakaan Maut, Pengendara Scoppy Meninggal di Jalur Pantura   |   15:00 . Satya WY Paparkan Soal Transisi Energi di Indonesia pada Pacific Energy Summit   |   14:00 . Bupati Lindra: Pemkab akan Prioritaskan Penguatan Jalan   |   13:00 . Pesan Presiden ke Bupati, Percepat Vaksinasi dan Perketat PPKM   |   12:00 . Pemilik Penginapan di Jenu Diminta Waspada   |   11:00 . Gubernur Khofifah : Bu Haeny Mentor Utama Bupati   |   08:00 . Tak Datang ke Grahadi, Wabup Terpilih Dilantik Online   |   07:00 . Ini Cara Cetak Kartu BPJS dari Hanphonr   |   06:00 . Selamat & Sukses Atas Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tuban   |   17:00 . Desa Simo dan Menilo Akan Dipasangi Pipa Air Minum   |   16:00 . Petugas Kesehatan dan TNI Lakukan Tracing di Sandingrowo   |   15:00 . Salami Anggota saat Pamit, AKBP Ruruh Berkaca-kaca   |   14:00 . Pendapa Dibanjiri Karangan Bunga   |   13:00 . Tak Menyerah, Omzet Dagangan Gading Meningkat setelah Pakai Motor Roda Tiga   |   08:00 . Ternyata Banyak Insinyur yang Belum Teregistrasi sesuai UU   |  
Mon, 21 June 2021
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Perajin Gerabah Banyubang Tetap Bertahan dengan Cara Tradisional

bloktuban.com | Friday, 11 May 2018 15:00

Perajin Gerabah Banyubang Tetap Bertahan dengan Cara Tradisional

Reporter: M. Anang Febri‎

blokTuban.com -‎ Kerajinan tangan jenis gerabah di kawasan Kabupaten memiliki banyak ciri khas dan jenisnya masing-masing. Para perajin yang tersebar luas di wilayah pelosok desa-desa kecamatan di Bumi Wali, sebutan lain Kabupaten Tuban, selain sudah menggunakan alat teknologi canggih, juga masih ada yang bertahan dengan proses tradisional.

Seperti aktivitas salah satu warga di Desa Banyubang, Kecamatan Grabagan. Kerajinan gerabah, jenis tungku masak tradisional atau dalam Bahasa Jawa-nya Pawon, diolah secara manual tanpa alat canggih yang digunakan perajin Gerabah di lain daerah.

Adalah Bu Narti. Wanita kelahiran empat puluh delapan tahun silam itu mengaku, proses pengolahan gerabah tungku masak ‎ dibuat olehnya secara manual. Mulai dari mencari tanah liat di lahan persawahan dekat rumahnya, lalu membawanya‎ naik ke rumah sekaligus tempat pengolahan gerabah. Setelah bahan utama didapatkan, tanah liat tersebut kemudian dicampur dengan kulit gilingan padi dan diaduk bersamaan air.

"Sesudah itu tinggal dibentuk sesuai jenis dan ukuran yang telah memesan Pawon ini Mas. Mudah, hanya saja proses selanjutnya yang memakan waktu lama," terang Narti ketika ditemui blokTuban.com di halaman rumahnya, Jumat (11/5/2018).

‎Dalam seharinya, dia dapat membuat‎ empat hingga lima buah gerabah jenis tungku dapur tradisional itu tanpa kesulitan yang berarti. Bahan utama gerabah, tanah liat dicarinya sembari memperbaiki letak pematang sawahnya. Sedangkan kulit hasil gilingan padi yang disebutnya Dedek, didapatkan dari tempat penggilingan padi dekat rumahnya.‎

‎Proses pengeringan serta pembentukan gerabah, sambung ibu empat anak itu, agar lebih halus dan kuat diperlukan waktu lebih dari satu bulan‎ untuk menyelesaikannya.

"Proses panjangnya itu ketika menghaluskan bagian-bagian gerabah ini. ‎Harus telaten dan cermat supaya gerabah memiliki bentuk halus dan tekanan yang kuat tanpa perlu dibakar. Kalau dibakar kurang kuat, gampang pecah," jelasnya lagi.

Sedangkan untuk harga, setiap gerabah pawon yang dibuat‎ Bu Narti jika mendapat pesanan dari wilayah Kecamatan Grabagan dan Rengel, dipatok mulai dari Rp 40.000 untuk untuk ukuran kecil satu lubang tungku, hingga Rp60.000 untuk ukuran besar dengan model dua lubang tungku.

Kendati penghasilan yang didapatkan tak cukup sebanding dengan prosesnya, Bu Narti tetap optimis bekerja demi membantu suaminya untuk menyumbang perekonomian keluarganya. ‎Tercatat lebih dari sepuluh tahun dia menggeluti bidang tersebut.

"Dulu, harganya hanya lima ribu rupiah sudah dapat ukuran yang besar. Sepuluh tahun lebih, sampai hari ini masih buat gerabah. Sedangkan tetangga lainnya sudah gak lagi. Di Grabagan sana juga ada yang buat, tapi sudah pakai alat giling," imbuhnya sembari menepuk-nepuk gerabah yang baru bebrapa hari dibuatnya supaya halus.

Keberadaannya sebagai perajin gerabah tradisonal‎ tetap disyukuri apapun adanya. Meski perajin di desa lain telah menggunakan alat giling yang bisa memudahkan dan mempercepat proses pembuatan gerabah Pawon, dia jugatak menolak andai kata dapat perhatian lebih dari pemerintah berkaitan.

"Adanya begini disyukuri saja. Selama ini belum ada bantuan dari pemerintah. Tapi, kalau ada bantuan seperti pemberian alat atau yang lain, itu lebih bagus dan bisa meringankan pekerjaan," tutupnya kepada blokTuban.com. [feb/col]

 

Tag : gerabah, perajin

* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

  • Monday, 05 April 2021 13:00

    Mahasiswa Unirow Tuban Belajar di Kantor blokTuban.com

    Mahasiswa Unirow Tuban Belajar di Kantor blokTuban.com Sekitar 25 mahasiswa-mahasiswi dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban berkunjung di kantor redaksi blokTuban.com Jalan Sunan Muria No. 28 Kelurahan Latsari,...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 19 November 2019 14:00

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax

    Surat Panggilan Tes Pertamina Adalah Hoax PT Pertamina (Persero) kembali menjadi objek penipuan lowongan kerja. Kali ini ada pihak mengatasnamakan Pertamina mengumumkan lowongan kerja dan kemudian memanggil pendaftar untuk melakukan berbagai tes....

    read more