Pantangan Menebang Pohon dan Berburu Burung di Area Makam Mbah Ubru

Reporter : Muhammad Nurkholis

blokTuban.com - Cerita heroik Mbah Ubru sosok sesepuh Desa Magersari, Kecamatan Plumpang tidak hanya selesai pada sayembara putri Nglirip asal Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan. 

Hingga sekarang, masyarakat setempat masih memegang erat wejangan mbah buyut soal pantangan di area makam Mbah Ubru di Dusun Mayang, Magersari. Pantangan yang dimaksud adalah dilarangan menebang pohon dan berburu burung. 

"Pantangan tersebut dipercaya sampai sekarang dengan tujuan menjaga ekosistem dan ketika dilanggar maka balak atau musibah akan datang. Kalau pohonnya sudah mati dan roboh itu boleh diambil karena tandanya sudah gak terpakai," ujar Mbah Waras (80) juru kunci makam Mbah Ubru kepada blokTuban.com, Rabu (6/4/2022). 

Mbah Waras menambahkan, hasil penjualan pohon yang roboh tidak untuk kepentingan pribadi melainkan untuk merawat makam sesepuh. Dirinya bersama masyarakat setempat takut kuwalat ketika menggunakan uang tersebut untuk keluarganya. 

Baca Berita Terkait: Mbah Ubru Sesepuh Desa Magersari Menangkan Sayembara Putri Nglirip

Sebagaimana desa lainnya, Makam Mbah Ubru secara rutin menjadi lokasi sedekah bumi yang biasanya dilaksanakan setiap bulan Juli. Hiburan yang mesti ada yaitu langen tayub yang anggarannya bersumber dari swadaya warga. 

Acara sedekah bumi di Desa Magersari juga memiliki cerita unik, yang ada kaitannya dengan Desa Sumberjo, Kecamatan Widang. Konon, sesepuh Desa Sumberjo bertaruh dengan sesepuh Desa Ngimbang, Kecamatan Palang merebutkan sumber air.

Kala itu, taruhannya adalah seekor kijang siapa, yang bisa melompati bukit Galang di Desa Sumberjo dialah pemenangnya. Sesepuh Desa Sumberjo pun memilih sowan ke Desa Magersari untuk meminta nasehat dan wejangan. 

Lantas, sesepuh itu di kasih cambuk oleh sesepuh Dusun Mayang, Magersari. Cambuk tersebut nantinya digunakan untuk mencambuk kijang, agar bisa melompat melewati bukit dan alhasil sesepuh Desa Sumberjo memenangkan pertaruhan. 

"Desa itu dinamai Sumberjo karena air yang melimpah bahkan terdapat air hangat juga. Sebagai bentuk terimakasih sesepuh Sumberjo memberikan kijang untuk sesepuh Dusun Mayang," imbuh Mbah Waras. 

Suatu waktu, lanjut Mbah Waras ketika masyarakat Dusun Mayang sedang melekan manganan (acara doa di malam hari sebelum sedekah bumi dimulai) akan ada kijang yang datang ke tempat sedekah bumi. 

"Kijang yang datang hewan asli, bahkan dulu sempat di kejar warga dan disembelih untuk acara sedekah bumi tapi sekarang lebih memilih untuk mengusirnya," lanjutnya. 

Untuk melestarikan Makam Mbah Ubru, telah diusulkan kepada Pemdes untuk ada pengembangan. Bagi warga Mayang, tempat bersejarah harus dipelihara karena memiliki historis kuat bagi desa. [Lis/Ali]