Direstui Bu Nyai

Penulis: Sri Wiyono

blokTuban.com – Lazimnya anak muda, saat di sekolah jenjang SMA sudah mulai kenal pacaran. Termasuk Zaid tokoh santri kita yang mondok di sebuah pesantren di Tuban ini. Zaid yang duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) yang setingkat SMA juga punya pacar.

Pacar Zaid juga mondok di pesantren yang sama. Mereka satu sekolah di MA meski tidak bisa satu ruangan. Namun, hubungan yang dijalani Zaid dan santriwati itu begitu syahdu. Dan, hubungan itu sudah diketahui oleh teman-teman lainnya. Bahkan, sebagian guru juga sudah tahu.

Hingga suatu saat, ada kegiatan besar di sekolah. Karena itu, seluruh siswa pada sibuk dengan tugas masing-masing. Zaid yang kebetulan pandai dekorasi kebagian untuk membuat dekorasi acara.

Dia mendesain bentuk huruf untuk dipasang di backdrop panggung. Karena itu, dia butuh waktu yang banyak. Apalagi huruf-hurufnya dibuat dari gabus. Selain njlimet juga harus hati-hati karena gampang patah.

Setelah huruf ditulis di atas gabus itu, lalu dipotong sesuai bentuk huruf, baru dicat, sehingga butuh waktu agak lama. Karena itu, beberapa hari sebelum acara, Zaid sudah mulai mengerjakan tugasnya.

Agar tidak mengganggu santri lain dan fokus, dia mencari tempat yang luas dan aman. Sebab, jika tempat yang dipakai menjadi jujugan santri, bisa hancur tulisan dari gabus itu. Atas usulan dari panitia lain yang kebetulan pengurus asrama santri putri, Zaid diberi tempat di musala santri putri.

Musala ini dekat masjid, namun tidak ada santri yang berani masuk tanpa izin. Musala ini juga sering digunakan ngaji santri putri. Karena sudah ada izin, Zaid dan beberapa panitia lain berani menggunakan.

Tahu ada beberapa santri putra di musala, Bu Nyai, istri Mbah Kiai pengasuh pesantren sempat bertanya. Namun, setelah dijelaskan, bahwa ada persiapan untuk acara di aliyah, Bu Nyai malah mendukung.

Bahkan, Bu Nyai meminta santri putri untuk membuatkan minuman dan mengantar ke sana. Selain itu, santri putri yang ikut kepanitiaan juga diminta untuk membantu. Tentu saja hati Zaid berbunga-bunga.

Selain dapat minuman dan cemilan gratis, dia bisa berdekatakan dengan kekasihnya. Sebuah kesempatan yang sangat sulit didapat. Namun, atas izin Bu Nyai semua itu kesampaian. Maka Zaid pun mengerjakan tugasnya dengan semangat.

Hari pertama dilalui. Karena belum selesai, tugasnya dilanjutkan hari kedua. Dan lagi-lagi bantuan tenaga dari santri putri dan makanan gratis tersedia. Bahkan, tak berselang lama Bu Nyai malah ikut gabung. Dia bertanya banyak hal pada Zaid terkait dekorasi itu.

Meski agak canggung, namun Zaid terus bekerja. Sementara, santri dan santri putri lainnya pada cekikikan. Hal itu, membuat Bu Nyai curiga. Lalu bertanya,

‘’Ini ada apa toh kok pada cekikikan,’’ tanya Bu Nyai.

‘’Tidak Mbah, ini loh ada yang malu-malu,’’ jawab salah satu santri.

‘’Malu-malu pie,’’ kejar Bu Nyai

‘’Iya malu, karena ditunggui sama Mbah. Mereka kan mau ketemuan,’’ jawab santri lagi.

‘’Oh, apa memang begitu, sopo to?

‘’Itu Mbah Zaid sama ...,’’ jawab santri sambil menyebut nama pacar Zaid.

Seketika wajahnya Zaid memerah karena malu. Dia berusaha menyembunyikan dengan terus melakukan kerjanya.

‘’Benar Zaid,’’ tanya Bu Nyai

Zaid tak menjawab. Namun, dia menatap wajah Bu Nyai. Dia malu dan takut jangan-jangan nanti dimarahi karena kok pacaran.

‘’Kalau iya juga gak apa-apa loh. Kalian ini saya lihat pasangan yang serasi. Kalau serius dijaga saja hubungan itu. Nanti kalau lulus aliyah bisa menikah. Saya merestui,’’ kata Bu Nyai tanpa diduga.

Maka musala itu langsung riuh. Terdengar tawa dan cekikian. Wajah Zaid dan santri putri pacarnya makin memerah.

‘’Ya baguslah santri dapat santri. Zaid kayaknya juga baik. Dia pintar juga. Yang satunya juga baik, sregep dan bertanggungjawab,’’ tutur Bu Nyai.

Dan, tawa santri lain semakin kencang. Zaid hanya senyum-senyum saja. Sedangkan santri putri pacarnya hanya menundukkan kepala. Restu dari Bu Nyai itu seolah menjadi pengumuman bahwa santri putri yang juga ikut di ndalem itu adalah calonnya Zaid.

Hubungan itu, berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, sampai lulus aliyah hubungan Zaid dan pacarnya terus berjalan. Namun, karena sesuatu hal, keduanya harus berpisah. Santri putri pacar Zaid harus menikah lebih dulu karena keluarga pacar Zaid ini mengaku tak sabar menunggu Zaid lulus kuliah. Mereka ingin segera menimang cucu. Namun, Zaid dan bekas pacarnya itu tetap berhubungan baik hingga ini. [*]