Percikan Darah di Bunga

Peresensi : Muhammad Viqi Angga Setiawan*

Novel berjudul "Percikan Darah di Bunga" ditulis oleh Arafat Nur, lahir di Lubuk Pakam (Medan), 22 Desember 1974. Usia 6 tahun pindah di Aceh Timur, tamat SLTP pindah ke Meureudu, Pidie melanjutkan SMA di sana. Sambil sekolah juga nyantri di Dayah Babussalam.  

Pernah menjadi tenaga pengajar di daerah Dayah Babussalam (1992-1999), menjadi pegawai honorer SMU Meureudu (1994-1999), tahun 1999 pindah ke Lhokseumawe dan melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Agama Islam Malikussaleh (STAIM)  Lhokseumawe. Sekarang bekerja sebagai wartawan harian waspada medan, meliputi wilayah NAD. 

Arafat Nur menulis puisi, cerpen, artikel,  dan novel. Tulisan-tulisannya tersebar di media massa. Diantaranya Nova,  Media Indonesia (Jakarta), Waspada, Analisa (Medan), Serambi Indonesia, Aceh Ekspres dan Kiprah (Aceh). Pernah mendapatkan hadiah terbaik lomba penulis TBA (1999). 

Sebagian karyanya terkumpul dalam keranda-keranda (kumpulan puisi bersama, Banda Aceh, 2000), Remuk (kumpulan cerpen bersama, Banda Aceh, 2000) dan Aceh dalam puisi ( kumpulan puisi bersama, Jakarta, 2003.

Novel ini menceritakan tentang seorang gadis yang cantik yang bernama Dhira Ayu Laksmita, saat itu ia berada di rumah sakit yang menemani gadis akibat diperkosa orang yang tidak jelas. Dhira yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli kaum lemah. Dhira baru pertama kali menyaksikan penderitaan korban pemerkosaan secara langsung. 

Dhira mengutuk laki-laki yang telah melakukan perbuatan bejat itu. Ia berjanji akan mengungkapkan kasus ini. Lelaki ini tidak pantas dikasihani, ia mulai saat itu sangat benci pada laki-laki. Sudah ada 75 kasus terjadi di Aceh Utara selama Daerah Operasi Militer (DOM). Seorang perawat menghampirinya dan memberi tahu bahwa ibu korban berada di sekretariat peduli kaum lemah. 

Dhira terkesima saat lelaki berdiri di depannya yang tampan, jantung Dhira berdetak kencang dan gugup saat mengobrol dengannya. Ia baru tahu kalau gadis korban perkosaan itu bernama Meulu. Ibu korban yang berada di sekretariat peduli kaum lemah ia ditanyai oleh anggota LSM dan juga bidan tentang bagaimana kejadian itu kok bisa terjadi.

Ibu Meulu menceritakan bahwa kejadian itu tiba-tiba, pintu didobrak tiga orang saat tengah malam, dan Meulu diperkosa, ibu juga mendapatkan pukulan  dari laki-laki itu. Dhira sangat membeci laki-laki bahkan ia bilang bahwa enggak mau nikah. 

Tiga hari sebelumnya Meulu berjalan di lembah yang banyak orang asing berkeliaran dengan membawa senjata, saat berjalan ia bertemu laki-laki yang bernama Teungku Don. Sudah 6 bulan Teungku Don tidak di desa itu, lelaki itu adalah ustadz, semua wanita di desa itu sangat menyukai Teungku Son dengan ketampanannya, tetapi tidak ada wanita yang membuat ia tertarik. Dari situlah terjadi bincang-bincang dengan lelaki itu.

Teungku Don saat berada di masjid datanglah tentara, semua lelaki disuruh berada di depan masjid dan intrograsi terkai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), saat ia di periksa oleh prajurit malah ketemu teman akrab waktu masih aktif di OSIS tujuh tahun lalu. 

Menjelang maghrib, Meulu termenung memikirkan jalil abangnya yang menjadi  pasukan GAM dan ayahnya yang tewas menjadi korban peluru nyasar. Malamnya ia merasa takut berada dia daerah DOM, semua orang takut keluar. Meulu belum tidur, ia mendengar suara burung hantu, hatinya semakin gelisah dan merinding. Meulu kepengen buang air kecil, ia membangunkan ibunya untuk menemaninya. Setelah kencing ia kembali di tempat tidurnya, tok tok tok bunyi ketokan pintu berkali-kali, dan pintunya didobrak oleh tiga orang yang membawa laras panjang. Gadis itu pingsan, dan Meulu diperkosa bergantian sebelumnya sempat mengahajar ibunya. Dan begitulah ceritanya, pagi-pagi tubuh Meulu sakit-sakit. 

Dhira yang berada di taman belakang rumahnya yang penuh dengan berbagai bunga. Dari kecil memang suka bunga, Dhira yang lulusan dari Unsyiah Banda Aceh jurusan, meskipun ia dianjurkan bapaknya untuk kuliah di Bandung jurusan ekonomi tetapi tidak mau. 

Para aktivis muda merasa prihatin dengan Meulu dan ibunya yang masih berada di rumah sulastri. Ibunya Meulu yang bernama Mak Buleun sedang menyiapkan makan siang tetapi Meulu masih terdiam ketika Dhira menghampirinya, Dhira mengajak ngobrol dengan Meulu tetapi ia hanya termangu. 

Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah, Dhira mengintip dari jendela. Ia merasa pernah bertemu dengan lelaki itu. Itulah Teungku Don lelaki yang bertemu di rumah sakit yang membuat ia terpana padanya. 

Di sisi lain, dikisahkan pula tentang Syafia bidan yang  bertugas di perbatasan Nisam ditangkap polisi karena telah mengobati anggota pasukan GAM. Kabar itu sampai ke LSM, Sulastri dan Dhira berusaha untuk membebaskan Syafia dan pergi ke Mapolres, tapi hasilnya nihil. 

Menjelang malam Dhira dan berpisah sulastri. Dhira menginap di rumah aldita teman LSM, disitulah terjadi percakapan di antara mereka tentang cowok yang disukai Dhira. Dhira mengkui kalau dia belum punya pacar, tapi ia menyimpan perasaan pada Teungku Don.

Sulastri sengaja mengundang Teungku Don ke rumah. Lelaki itu tiba saat siang hari, Aldita dan Rahmah menyambutnya. Sedangkan Dhira menyibukkan dirinya di dapur. Dua gadis itu terkesima melihat senyum lelaki itu. Teungku  Don menanyakan kedaan Meulu dan ibunya. Meulu sangat bahagia dengan kedatangan Teungku Don, dan lelaki itu menasihatinya supaya ia kembali seperti sedia kala. Sulastri menceritakan bahwa bidan Syafia ditangkap aparat. 

Hari Minggu Teungku Don dan Sulastri pergi ke rumah Marwan yang menjadi polisi sahabatnya SMA dulu, meminta tolong Marwan agar Syafia dibebaskan, dengan diskusi yang panjang akhirnya Syafia bisa bebas.

Benih-benih cinta Dhira mulai tumbuh, ia semakin mengidolakan Teungku Don. Dhira bertanya tentang ustad itu kepada Rahmah dan Sulastri yang sudah lama kenal. Sedangkan Meulu kondisi sudah membaik ibunya mengajaknya kembali ke Nisam. Meulu menanyakan Teungku Don kepada Sulastri tapi Teungku Don sudah pulang dan sibuk. Sulastri tahu bahwa Meulu suka pada lelaki itu dan berencana menjodohkan mereka.

Pada malam jum'at teungku don berzikir, ia merasa ada kekuatan gaim yang ada dalam dirinya, ia bisa membaca kejadian masa lalu yang dialami meulu, nama lengkapnya ahmadun al-fansari tetepi sering dipanggil teungku don, ia adalah anak semata wayang kedua orang tuanya. Sejak kecil ia mempunyai kekuatan gaib yang membuat perempuan tergila-gila padanya. 

Kepulangan abangnya Dhira yang bernama yudi supriadi, yamg membujuk dhira agar mau ikut ia ke jakarta untuk bekerja disana tetapi Dhira menolaknya karena ia merasa masih ingin berada di LSM. 

Kisah terus berlanjut, Teungku Don hilang dalam perjalanan antara Samalanga dan Bireuen. Ia dibawa oleh pasukan GAM. kabar itu sampai ke LSM, semua anggota LSM dan juga tentunya Dhira mencari Teungku Don namun hasilnya nihil. Lelaki itu disiksa habis-habisan. Sudah hampir seminggu ia disiksa tidak makan dan minum. Di pagi itu ada pasukan GAM yang membebaskan ikatan tali Teungku Don, ia berusaha kabur dengan tubuh yang masih lemah, akhirnya ia bisa kabur dari tempat penyiksaan itu. Saat itu pula,  Meulu dan ibunya yang berada di rumah meninggal dunia akibat ditembak pasukan GAM. 

Teungku Don ditemukan dan ia langsung di bawa ke rumah sakit, setelah ia di rumah sakit ia di pindah ke rumah Dhira dikarenakan akan tidak aman karena pasukan makin dekat dengan mereka. Setelah berminggu-minggu ia dirawat oleh Bidan Syafia dan juga Dhira, bidan syafia merasa hutang dengan lelaki itu dengan membebaskan dari jeruji besi. Ternyata, Syafia lama-lama menyukai lelaki itu, namun  sayang akhirnya ia dipindahkan ke daerah lain. 

Teungku Don yang kemudian dirawat oleh Dhira. Dhira semakin berbunga-bunga dengan lelaki itu karena ia bisa berdua-duaan. Setelah lelaki itu sembuh Dhira mengajak ia pergi keluar saat malam hari, lelaki itu berusaha menolak namun ia bisa dibujuk oleh Dhira,mereka pun keluar rumah dengan naik sepeda motor, dimana Dhira membonceng Teungku Don yang tangannya masih sakit. Keduanya merasakan benih-benih cinta muncul. 

Teungku Don yang sudah sembuh total ia meminta pindah ke rumah Sulastri. Suatu malam Dhira mau pulang ke rumah karena takut ibunya sakit, ia bersikeras untuk pulang ke rumah walaupun ia dilarang. Ia pergi dari rumah Sulastri dengan naik sepeda motor. 

Sementara Teungku Don tidak tahu kalau Dhira pulang ke rumah, ia menyusul Dhira karena ia merasakan perasaan tidak enak. Di tengah jalan Teungku Don melihat Dhira yang bersimpuh dengan darah dan meninggal, lelaki itu menangis melihat perempuan yang dikasihinya telah tiada.

Novel ini sangat menarik ceritanya tentang saat kejadian perang dan juga percintaan, penokohannya sangat detail yang semua diceritakan berbeda dari novel yang lain, judulnya menarik yang diambil dari penutup novel ini.  Namun, ada beberapa kalimat menggunakan bahasa daerah Aceh membuat pembaca bingung  walaupun ada catatan kaki di belakang yang menjelaskan arti kalimatnya.

Identitas buku

Penulis        : Arafat Nur                        

Penyunting                             : Sakti Wibowo

Ilustrasi dan Desain Cover : Dedi Fadilah

Penerbit                                  : Zikrul Hakim

TahunTerbit                           : 2005

Jumlah Halaman                 : 176 hal

Ukuran                                    : 11.5×17.5cm

ISBN                                        : 979-3802-46-4

*Mahasiswa STIKes ICsada, calon anggota LPM V