Panen Raya, Harga Ubi di Jatirogo Anjlok

Reporter: Mochamad Nur Rofiq

blokTuban.com - Panen ubi jalar di kalangan petani Jatirogo, Tuban, Jawa Timur cukup pahit dirasakan. Seharusnya petani merasakan manisnya hasil dari tanaman pala pendem tersebut. Namun keadaan bebeda 180 derajat, pasalnya harga jual komoditas pertanian terbesar di Desa Jombok itu anjlok.

Seperti yang di ungkapkan Kumarni (38), petani ubi jalar di desa sebelah barat pusat kota Kecamatan Jatirogo itu. Menurutnya, harga ubi jalar bersih kini tinggal Rp. 40.000 persak ukuran 50 kilogram. Berbeda ketika empat bulan lalu, harga ubi bisa mencapai Rp. 2500 perkilogramnya.

"Ya begini nasib para petani seperti saya, harga ubi ketika panen tak sesuai harapan," keluh ibu satu anak itu, Kamis (22/9/2016).

Saat ditemui blokTuban.com pagi tadi (22/9/2016), dirinya sedang mencuci hasil panen di sungai yang mengalir di sekitar sawahnya. Disela aktivitas petani yang sudah beberapa tahun tanam ubi itu menjelaskan, untuk bisa panen kali ini ia harus mengolor masa panen. Seharusnya masa panen ubi cukup tiga bulan pasca penanaman. Namun, lantaran menunggu harga stabil ia rela menanti panen sampai usia enam bulan.

"Saya sudah mengundur masa panen agar harga stabil, tetapi tetap saja rendah. Mau gak mau ya terpaksa saya panen," papar Kumarni.

Lebih lanjut mantan anggota kelompok tani wanita tersebut menjelaskan, panen kali ini cukup dijual di pengepul lokal asal Karang Tengah, Jatirogo. Biasanya jika harga bagus hasil panenan ubi di ambil pengepul asal Juwono, Jawa Tengah. Saat ini jika ubi dujual kiloan, perkilonya hanya di beli Rp. 600 - Rp.700 saja.

"Kami merasa dipermainkan. Jika memasuki tanam harga tinggi, namun ketika panen raya harga anjlok," tandasnya.

Hal senada juga dilontarkan Sumarsono (45), Petani asal Jombok, Jatirogo mengatakan, petani seperti dia kerap kali dirugikan para pengepul ketika panen tiba. Harga jual komuditas petani dipermainkan. Ketika musim tanam harga dinaikan saat panen tiba, harga di buat hancur-hancuran.

"Harga ketika panen pasti anjlok, tak hanya ubi jalar ubi kayu juga sama," imbuh Sumarsono.

Para petani berharap, pemerintah lebih tegas dalam membantu penekanan atau menyetabilkan harga hasil panen petani. Jika terus seperti saat ini pasti petani selamanya akan sengsara. "Kita juga pernah mencoba tanam singkong, akan tetapi juga kurang berhasil karena permainan harga," tutupnya.[rof/ito]