Skip to main content

Category : Redaksi


Membunuh Pembawa Pesan

Tulisan ini bukanlah ide baru. Mungkin sudah berulang kali diulas. Tapi membicarakan ulang kisah ini rasanya cukup relevan di tengah gempuran polarisasi yang dihadapi masyarakat.

Ingatan Usang Membangun Informasi Kredibel

Narti, 52 tahun, menatap layar ponselnya dengan serius. Kepalanya masih bersandar pada bantal, bahkan selimut masih menutupi sebagian kakinya. Sinar matahari pagi sudah menerobos jendela kamar sejak pukul 05.45, tetapi jendela itu belum juga ia buka meskipun jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00.

Belajar Melampiasakan Emosi dengan Baik

Dalam hidup, setiap orang pasti pernah berada di titik di mana emosi terasa menumpuk seperti air yang hampir meluap dari wadah. Ada kalanya kita marah tanpa tahu pasti sebabnya, kecewa pada keadaan, atau merasa jengkel terhadap orang-orang di sekitar.

Tindak Lanjuti Aduan Masyarakat, KPID Jatim Silaturahmi ke Ponpes Lirboyo Kediri

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur mengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Rabu (15/10/2025) malam. Kunjungan tersebut selain silaturahmi dengan pengasuh Pondok Pesantren, juga sebagai bentuk tindak lanjut terhadap aduan masyarakat terkait tayangan program siaran Xpose Uncensored yang ditayangkan oleh Trans 7 pada tanggal 13 Oktober kemarin.

KPID Jawa Timur Terima 288 Aduan Masyarakat Terkait Tayangan Trans7

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur menerima 288 laporan aduan masyarakat terkait tayangan di salah satu stasiun televisi nasional, Trans7. Aduan itu masuk melalui berbagai kanal, baik daring maupun luring, menyusul kekhawatiran publik atas muatan tayangan yang dianggap berbau SARA, ujaran kebencian, dan disinformasi tentang pondok pesantren.

KPID Jawa Timur Soroti Tayangan Trans7 yang Dianggap Bermuatan SARA dan Disinformasi tentang Pondok Pesantren

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur menyoroti salah satu tayangan di program televisi nasional Trans7 yang dinilai mengandung unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) serta menyebarkan informasi menyesatkan tentang kehidupan di pondok pesantren. Tayangan tersebut menjadi perhatian publik setelah sejumlah adegannya dianggap memperkuat stereotip negatif terhadap santri, kiai, dan lembaga pendidikan keagamaan.