Reporter: Dhahrul Mustaqim
blokTuban.com - Bagi Lasminto, tanah bukan sekadar tempat menanam dan memanen. Setelah lebih dari 20 tahun menggarap sawah, ia mulai belajar satu hal: tanah juga perlu dirawat agar tetap memberi kehidupan.
Dari lahan yang dikelolanya di Desa Sumurjalak, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, petani berusia 55 tahun itu melihat sesuatu yang perlahan berubah. Tanah terasa semakin keras. Organisme yang dulu mudah dijumpai mulai jarang terlihat. Sementara itu, kebutuhan pupuk kimia terus mengikuti ongkos produksi yang kian tinggi.
Lasminto mengelola sekitar tiga hektare lahan. Sebagian merupakan miliknya. Selebihnya ia sewa. Padi menjadi tanaman yang paling sering digarapnya. Rutinitas bertahun-tahun di lahan membuatnya terbiasa mengenali perubahan pertumbuhan tanaman, membaca kondisi tanah, sekaligus mengamati gejala awal serangan hama.
Pengalaman di sawah mengajarinya bahwa persoalan pertanian tidak selalu tampak pada tanaman. Tanah yang semakin keras membuatnya berpikir tentang keberlanjutan lahan yang sama. Sebab, sawah yang digarap hari ini kembali ditanami pada musim berikutnya. Ketergantungan pada pupuk kimia pun mulai ia lihat bukan hanya dari sisi kebutuhan tanaman, tetapi juga dari biaya yang harus terus dikeluarkan.
Dari sana, muncul pertanyaan sederhana, bagaimana menjaga tanah tetap subur tanpa bergantung selamanya pada pupuk kimia?
Pada 2023, Lasminto mencoba mencari jawabannya. Ia mulai memanfaatkan kotoran hewan sebagai pupuk organik. Bahan tersebut tidak langsung digunakan begitu saja. Ia mengolahnya sendiri sebelum mengembalikannya ke lahan.
Percobaan itu awalnya bukan sesuatu yang ia bayangkan akan mengubah cara bertaninya. Ia hanya ingin melihat bagaimana tanaman merespons perlakuan tersebut. Ketika pertumbuhan tanaman menunjukkan hasil yang menurutnya baik, ia memiliki alasan untuk meneruskannya. Pelan-pelan, bahan organik mulai menjadi bagian dari cara Lasminto mengelola sawah.
“Biar unsur hara tanah lebih baik,” kata pria yang hanya tamatan sekolah dasar itu.
Pilihan tersebut tidak lahir dalam semalam. Bertahun-tahun menjadi petani membuat Lasminto juga mengalami masa ketika modal yang sudah dikeluarkan tidak berujung pada hasil yang diharapkan.
Pada 2021, misalnya, ia menanam melon di lahan seluas satu hektare. Cuaca buruk membuat tanaman tidak menghasilkan sebagaimana yang diharapkan. Dari usaha tersebut, kerugian yang harus ditanggung Lasminto mencapai Rp85 juta.
Kerugian sebesar itu tidak hanya meninggalkan catatan tentang modal yang hilang. Bagi Lasminto, pengalaman tersebut menjadi pelajaran tentang risiko yang selalu melekat dalam pekerjaan di lahan. Musim dan cuaca tidak bisa dikendalikan. Karena itu, keputusan bertani harus selalu disesuaikan dengan kondisi.
Ia memilih tetap bertani. Pengalaman gagal itu justru membuat perhatiannya terhadap lahan dan tanaman semakin besar. Sebelum menentukan langkah, ia terbiasa mengamati kondisi sawah lebih dahulu. Baginya, keputusan di lahan tidak bisa dilepaskan dari apa yang sedang terjadi di sana.
Upaya yang mulai dirintis Lasminto kemudian mendapat pendampingan. Sejak 2024, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), melalui program pertanian yang bermitra dengan Yayasan eL-SAL Indonesia, mendukung langkah tersebut. Keterlibatan Lasminto dimulai melalui kegiatan demplot, disertai dukungan pembiayaan dan pendampingan untuk menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Bersama para petani lain di kelompoknya, ia mulai mempraktikkan pembuatan dan penggunaan pestisida nabati, fungisida nabati, serta pestisida nabati untuk mengendalikan tikus. Bokashi juga digunakan sebagai bagian dari pendekatan pertanian semi-organik yang dipilihnya.
Pendampingan itu bagi Lasminto bukan titik awal. Sebelum program berjalan, ia sudah lebih dulu mencoba memanfaatkan kotoran hewan. Demplot dan pendampingan program memberinya kesempatan untuk mengembangkan percobaan tersebut secara lebih terarah, khususnya pada tanaman padi, sekaligus melihat hasilnya secara langsung di lahan.
Ujian itu dilakukan melalui demplot padi seluas satu hektare. Lasminto menggunakan varietas Pak Tiwi 2 dengan jarak tanam 25 x 25 sentimeter. Padi dipanen pada umur 93 hari setelah tanam. Pemupukan dilakukan dua kali. Serangan hama tetap muncul dan menjadi tantangan, tetapi kondisi tanaman hingga masa panen dinilai baik.
Hasil akhirnya cukup memuaskan. Lahan satu hektarenya mampu menghasilkan 11 ton gabah. Hasil ini kontras dengan sawah di kanan kirinya yang tidak mendapat perlakuan yang sama. Petani sebelahnya bahkan ada yang gagal panen.
Hasil penjualan 11 ton gabah kering sawahnya dibeli tengkulak dengan harga Rp 88 juta. ‘’Setelah dipotong biaya produksi, saya masih menikmati keuntungan bersih Rp 48 juta,’’ tutur suami Siti Nafiah itu dengan wajah berseri-seri.
Sekarang ini, taraf hidup Lasminto berubah drastis. Ia membuktikan ketekunannya bertani mampu memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarganya.
Sono dan Lasminah, bapak-ibu kandung Lasminto adalah petani miskin yang tidak memiliki sepetak lahan pun. Untuk menghidupi tiga anaknya, mereka menjadi buruh tani yang upahnya hanya cukup untuk makan. Karena itu, Lasminto sebagai anak bungsu hanya disekolahkan hingga sekolah dasar.
Sebelum mampu membeli lahan seluas satu hektare pada 2020 dan menyewa 1,5 hektare lahan, Lasminto nyambi menjadi tukang ojek dan buruh tani selama 13 tahun. ‘’Saya terpaksa menjalaninya karena sepetak lahan seluas sekitar seribu meter persegi yang saya miliki hanya cukup untuk makan,’’ ujarnya.
Setelah memiliki lahan sendiri, Lasminto begitu tekun dan gigih bertani. Di Sumurjalak yang dikenal sebagai salah satu desa yang dilalui jalur pipa minyak EMCL itu, Lasminto dikenal sebagai petani utun, yang penuh kesederhanaan, lugu, pekerja keras, dan tekun dalam mengolah tanah demi kelestarian dan keberlanjutan hidup.
Bagi Lasminto, angka 11 ton bukan sekadar catatan hasil panen. Ada pengalaman yang lebih penting di baliknya. Ia mendapatkan gambaran bahwa menjaga kondisi tanah dan mengejar produktivitas tidak harus menjadi dua pilihan yang saling meniadakan. Pertanian semi-organik yang diterapkannya masih memungkinkan hasil panen tetap dikejar, sekaligus membuka jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Hasil panen tersebut semakin menguatkan pilihan yang sudah ia ambil sejak beberapa tahun sebelumnya. Ia ingin terus menggunakan pupuk organik dan secara bertahap mengurangi pupuk kimia.
Menjaga tanah, baginya, bukan pekerjaan tambahan di luar urusan panen. Keduanya justru saling berkaitan. Tanah yang tetap terjaga adalah bagian dari modal untuk menghasilkan panen pada musim-musim berikutnya.
Karena itu, Lasminto tidak ingin pengalaman tersebut berhenti di lahannya sendiri. Ia berharap cara bertani semi-organik yang dijalaninya dapat dikenalkan kepada petani lain. Bukan hanya soal penggunaan bahan organik, tetapi juga tentang kebiasaan memperhatikan kondisi tanah sebelum menentukan perlakuan terhadap tanaman.
Harapannya lebih jauh lagi. Pengetahuan tentang pertanian yang lebih ramah lingkungan itu ingin ia teruskan kepada keluarga, sesama petani, dan tetangga di sekitarnya.
Lebih dari 20 tahun di sawah membuat Lasminto memahami bahwa pertanian tidak selesai ketika gabah masuk karung. Ada tanah yang akan kembali digunakan. Ada musim yang harus dibaca. Ada keputusan hari ini yang mungkin baru memperlihatkan akibatnya beberapa musim kemudian.
Maka, ketika satu hektare demplot menghasilkan 11 ton gabah, yang tersisa bagi Lasminto bukan hanya angka produktivitas. Ada keyakinan baru yang tumbuh dari pengalaman di lahannya sendiri, yakni menjaga tanah dan mendapatkan hasil panen bukan dua tujuan yang harus dipilih salah satunya. Keduanya bisa berjalan bersama, selama cara bertani terus dipelajari, diuji, dan dijaga.(*)