Angkutan Lingkungan, Minim Driver dan Sepi Penumpang Sejak Pandemi

Reporter: Dina Zahrotul Aisyi

blokTuban.com - Sejak adanya pandemi Covid-19, berbagai aspek dari kesehatan, sosial, ekonomi, pariwisata, sampai budaya terdampak dengan pandemi. Jalan-jalan raya semenjak pandemi Covid-19 juga semakin lengang karena banyaknya peraturan pemerintah yang membatasi kegiatan bermasyarakat. Hal tersebut tentunya berdampak bagi para supir angkutan umum, termasuk supir angkutan lingkungan yang berada di Kabupaten Tuban.

Angkutan lingkungan atau yang biasa disingkat angling adalah kendaraan bermotor roda tiga yang menyerupai bajaj. Angling dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Tuban pada tahun 2018 silam guna memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang transportasi darat yang beroperasi hingga malam hari. Sekaligus mencipatakan angkutan yang ramah lingkungan, nyaman, dan murah.
Salah satu driver angling yang sudah bekerja sejak angling baru dikeluarkan adalah Edi, pria asal Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban.

Ia sudah menjadi driver angling sejak 2018. Menurut Edi, pada saat awal dilaunching penumpang angling sangat banyak, sehingga setiap driver mendapatkan banyak pesanan angling karena hanya ada lima driver.

“Awalnya dulu launching ada 10 angling, tapi karena drivernya nggak ada jadi hanya 5 yang beroperasi,” terangnya saat ditemui blokTuban.com di pangkalan angling pada Kamis (28/10/21).

Sejak adanya Pandemi, penumpang angling semakin menurun meskipun sudah memiliki beberapa langganan. Hal tersebut karena para pelangganan-pelanggan angling juga jarang yang memesan.

“Penumpang satu, dua per hari sudah Alhamdulillah kalau sekarang,” ujarnya.

Untuk menggunakan angling, penumpang bisa mencari nomor driver angling di sosial media seeperti instagram, facebook, atau google. Biasanya di setiap angling juga tertera nama dan nomer telepon dari driver angling. Edi mengatakan tidak ada aplikasi untuk memesan angling karena jumlah angling yang beroperasi hanya sedikit.

“Kalau ada banyak ya mungkin bisa dibuatkan aplikasi. Orang-orang biasanya telepon atau whatsapp mau dijemput di mana dan jam berapa karena jika terlalu mendadak bisa jadi drivernya nggak ada yang kosong,” jelasnya.

Edi juga menjelaskan bahwa rata-rata penumpangnya sudah mempunyai kontak driver angling sehingga tidak kebingungan saat memesan. “Kalau yang nggak punya nomor driver mungkin ya kebingungan gimana naiknya,” jelasnya.

Angling biasa menunggu pesanan penumpang di depan Gedung Tridharma Tuban, sehingga jika kebetulan ingin mencoba naik angling dan tidak punya kontak driver, bisa langsung datang tanpa menelepon selama ada angling yang sedang tidak beroperasi.

Tarif angling setiap satu kilometer dipatok dengan harga Rp 5.000 yang mana angling tersebut bisa diisi oleh tiga orang, sehingga tergolong cukup murah. Dalam angling terdapat argo untuk melihat tarif yang harus dibayar penumpang, namun menurut Edi saat ini tarif argo hanya untuk formalitas karena banyak dari penumpang yang menego harga.

“Kadang ditawar juga meskipun jaraknya dekat, nego-negoan. Kita ya nggak bisa protes sebagai driver. Biasanya ada yang ngasih lebih, ada yang ngasih kurang. Anggaplah rejekinya segitu,” terangnya.

Selama menjadi driver angling, Edi bercerita bahwa paling jauh mengantarkan penumpangnya ke Lamongan, WBL, dan Kecamatan Bulu. “Kalau jarak jauh gitu biasanya kita nego sama penumpang dari awal, karena kalau pakai argo terlalu mahal, apalagi tarif PP,” jelasnya.

Sejak Pandemi di dalam angling terdapat fasilitas handsanitizer serta sekat antar supir dan penumpang. “Ini tambahan fasilitas sejak pandemi, biar lebih merasa aman dan nyaman menggunakan kendaraan umum saat pandemi,” ujarnya.

Selain Edi, juga terdapat supir angling lain yakni Nanang yang baru menjadi supir angling sejak tiga bulan yang lalu. Nanang mengaku belum merasakan ramainya penumpang angling seperti yang diceritakan Edi.

“Kalau setiap hari penumpang ya ada pasti, tapi nggak banyak. Kebanyakan saat pandemi ini antar jemput ke Rumah sakit,” bebernya.

Nanang juga mengatakan bahwa untuk driver angling yang baru belum mendapat langganan seperti driver-driver yang sudah lama, sehingga biasanya ketika sedang tidak ada penumpang Ia mendapatkan lemparan penumpang dari driver yang sedang beroperasi.

“Ada grup antar driver, karena sistemnya kan pesan di sini, kalau driver yang dipesan ada jadwal yang tabrakan dikasihkan ke driver yang kosong,” sambungnya.

Trayek dari angling saat ini sudah bebas, kecuali di kawasan wisata Sunan Bonang karena hal tersebut sudah perjanjian dari awal dilaunchingnya angling. Zona merah di kawasan Sunan Bonang sampai terminal wisata. Pasar itu bisa ke sana kalau sudah ada pesanan penumpang, kalau ngetem tidak bisa. Selain itu di patung ke barat juga tidak boleh karena banyak becak dan pangkalan ojek.

Sebelumnya, Edi mengatakan bahwa dahulu di trayek land juga tidak boleh menaik turunkan penumpang karena sudah perjanjian dengan dinas perhubungan, jika melanggar maka driver angling akan terkena risiko.

“Kalau berhenti di sana ya di foto sama supir land, sudah dilaporkan kantor,” pungkasnya. [din/sas]