Surat Cinta dari Anak Kiai

Penulis: Sri Wiyono

blokTuban.com – Santri juga manusia. Punya rasa, punya hati, hehehe...maaf meminjam salah satu bait dalam salah satu lagu yang sempat ngehits dulu. Lagu yang dinyanyikan oleh rocker berambut gondrong keriting itu.

Karena punya rasa dan punya hati, maka satri juga punya rasa cinta pada lawan jenisnya. Santri juga bisa mencintai meski dengan cara yang sangat sederhana. Namun, di tangan Zaid, tokoh santri kita, kisah cinta dua sejoli bisa menjadi bahan kejahilannya.

Di kompleks pesantren yang ditinggali Zaid, ada santri yang terkenal tertutup. Kebetulan santri dari luar kota Tuban ini juga agak pelit. Meski tidak tinggal satu ‘gothakan’ dengan dia, namun Zaid selalu mencari cara untuk ngerjain santri ini.

Di kalangan santri, sudah terjadi kasak-kusuk bahwa santri yang sebut saja namanya Amir ini sedang jatuh cinta dengan salah seorang Ning, atau putri dari salah satu kiai di pesanten tempat Zaid mondok.

Hanya, yang disukai Amir ini bukan Ning dari keluarga ndalem. Meski abahnya Ning ini juga mengajar mengaji di pesantren. Rumahnya juga berada dalam kompleks pondok pesantren yang memang luas.

Berdasar kabar yang beredar, si Ning ini juga menaruh hati pada Amir. Masalahnya, Ning ini usianya masih jauh di bawah Amir. Meski demikian tidak menghalangi niat keduanya untuk menjalin hubungan.

Kondisi pesantren yang aturannya ketat, mengharuskan Amir dan Ning hanya bisa berhubungan lewat surat. Sebab, untuk bertemu tentu sangat sulit. Sebagai Ning, tentu tak mudah untuk bisa keluar keluyuran. Begitu juga Amir tak bisa seenaknya meninggalkan pondok untuk kesenangan.

Karena kabar ini, Amir selalu menjadi bahan olok-olok santri lain saat di pondok. Kalau jaman now disebut bully. Namun, semua olok-olok dan ledekan teman-temannya itu tak dihiraukan Amir. Anjing menggonggong kafilah berlalu, begitu mungkin prinsip Amir.

Karena gemas dengan sikap Amir yang cuek itu, membuat Zaid semakin penasaran. Dia ingin memberi pelajaran Amir. Hanya, dia belum menemukan cara.

Amir, sering menyendiri dan rajin membeli kertas surat yang warna-warni dan wangi. Tak jarang dia mojok di ruangan sambil membuka kitab atau buku, namun senyum-senyum sendiri.

Suatu saat, Amir kembali menjalankan ritualnya, mojok di ruangan. Nampaknya, dia habis menerima surat balasan dari kekasihnya.

Sebelumnya, Zaid sudah mengatur strategi. Dia bersama beberapa santri lain berniat untuk menggoda Amir. Targetnya, mendapatkan surat cinta balasan itu.

Karena itu, tahu Amir sedang serius di pojokan ruangan, Zaid mendekat. Dia berusaha mengambil perhatian Amir. Santri yang lain juga tak kalah aktif.

Dikerubungi beberapa santri, membuat Amir salah tingkah. Konsentrasinya buyar. Fokusnya tak ngumpul lagi. Hingga Zaid kemudian berhasil merebut amplop warna merah muda dengan gambar mawar di luarnya.

Baunya wangi, dan ada tulisan huruf arab di sampul itu. Ternyata benar, setelah dibaca surat itu dari kekasih Amir. Mengetahui hal itu, Amir tak terima. Dia berusaha mengambil lagi amplop itu.

Namun Zaid lebih gesit. Dia menghindar, dan lari menjauhi Amir. Sementara, Amir terus mengejar, namun lari Zaid lebih kencang, meski Amir juga tak mau menyerah.

Mungkin sudah kelelahan, Amir pasrah. Dengan peluh bercucuran dan sarung yang awut-awutan, dia pasrah. Dia duduk menyender tembok dengan kedua kaki diluruskan di lantai.

Zaid pun tampak lelah. Nafasnya ngos-ngosan. Namun, di wajahnya penuh senyum kemenangan. Maka, mulailah Zaid membuka sambul merah muda itu. Lalu mengeluarkan dua lebar kertas berwarna senada dari dalam. Kertas itu dibuka, lalu dibaca tulisannya.

‘’Teruntuk kekasihku....yang selalu aku rindukan,’’ begitu Zaid membaca awalan surat tersebut.

Muka Amir merah padam saking malunya, karena santri-santri lain ramai ikut bersorak. Amir masih berusaha untuk merebut surat itu dari tangan Zaid, namun selalu gagal.

Hingga, lembar kedua selesai dibaca pun, Amir tak berhasil merebut. Setiap kalimat yang selesai dibaca, memicu sorakan santri lain. Amir hanya tersenyum-senyum kecut, sambil mengatai Zaid gila.

Maka, sejak hari itu, seluruh penghuni pondok tahu, betapa mesra kata-kata Ning dalam surat itu. Dan, kata pembuka surat itu, menjadi kata-kata keramat yang selalu diucapkan Zaid, juga santri lain saat mengejek Amir.

Sejak hari itu, Amir tak pernah lagi punya ritual mojok di ruangan untuk menulis dan membaca surat. Entah di mana dia melakukan ritualnya itu. Karena yakin Amir pasti terus melanjutkan surat-suratan dengan kekasihnya.[*]

 

*Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang dialami santri lalu ditulis dan diolah kembali oleh redaksi blokTuban.com