15:00 . Patroli Gabungan Pasca Pemilu, Petugas Sisir Jalan Nasional   |   09:00 . Lebaran Kurang 10 Hari, Harga Sapi di Pasar Hewan Tuban Anjlok   |   07:00 . Teh Manis Buat Buka Puasa, Sehat Nggak Sih?   |   20:00 . Jelang Hari Raya Komisi VI DPR RI Sidak Pasar Baru Tuban   |   19:00 . Relawan Cinta NKRl Kutuk Petualang Politik Rongrong Wibawa Pemerintah   |   18:00 . PSHT Rayon Jetak Bagi Takjil dan Santuni Anak Yatim   |   17:00 . Macam Macam Sedekah   |   14:00 . Siang Ini WhatsApp, IG, dan FB Kembali Normal   |   13:00 . Dinkes Siapkan 4 Posko Kesehatan di Jalur Pantura   |   12:00 . Jelang Mudik Lebaran, Ratusan Pengemudi Angkutan Umum Dites Urine   |   10:00 . Mengintip Besar Kecilnya THR PNS Tuban   |   09:00 . 4 Fakta Menarik Seputar Musim Kemarau di Tuban   |   08:00 . Disparbudpora Mulai Merehab Tempat Wisata   |   07:00 . Bicara dengan Diri Sendiri Ternyata Bermanfaat, Percaya?   |   21:00 . Kemenag Tuban Peringati Nuzulul Quran   |  
Sun, 26 May 2019
Jl. Sunan kalijogo Gang Latsari 1 No. 26 Tuban, Email: bloktuban@gmail.com

Sunday, 21 April 2019 08:00

Warisan Sejarah di Bumi Wali

Warisan Sejarah di Bumi Wali

Oleh: Ikhwan Fahrudin*

Di Tuban banyak sekali wahana wisata yang memang sudah menjadi tujuan para wisatwan domestik maupun non domestik. Namun, sebenarnya bagaimana sih sejarah wisata yang ada di ujung barat Provinsi Jawa Timur ini. Penasaran? Mari kita simak bersama:

Bekas Pelabuhan Kerajaan Singasari dan Majapahit

Ternyata, berdasarkan  sejarahanya, dulu objek wisata yang terletak tak jauh dari Alun-Alun Kota Tuban ini merupakan bekas pelabuhan kerajaan besar di Jawa pada masa lalu, yakni Singasari dan Majapahit. 

Dulu tempat ini merupakan pelabuhan  besar dan utama dalam jalur distribusi dan perdagangan dan pelayaran pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit. Sebagaimana tertulis di prasasti yang terpasang di dinding sumber air berasa tawar yang ada di lokasi Pantai Tuban. Di pantai inilah, kabarnya, Adipati Ronggolawe menghadang dan menyerang pasukan tentara Mongol yang hendak menyerbu kerajaan Singasari.

Klenteng Tjoe Ling Kiong dan Kwan Sing Bio

Dua tempat ibadah agama Konghucu ini begitu melekat di Tuban. Klenteng juga disebut dengan istilah tokong. Klenteng adalah sebutan umum bagi tempat ibadat orang Tionghoa sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori yang mewakili agama Taoisme, Konghucu, Buddhisme, Agama Rakyat atau Sam Kaw yang masing-masing memiliki sebutan tempat ibadat yang berbeda-beda.

Bangunannya sangat khas dan unik. Klenteng Tjoe Ling Kiong Terletak di jalan PB. Sudirman No. 104, Kelurahan Kutorejo, tepatnya di sebelah utaranya Alun-alun Tuban. Di dalam klenteng ini terdapat inskripsi tentang restorasi yang dilakukan pada tahun 1850 M. Diperkirakan juga dibangun di tahun tersebut. Sedangkan Klenteng Kwan Sing Bio berada di Jalan Martadinata No. 1 Kelurahan Karangsari. Klenteng ini diperkirakan didirikan pada tahun 1773 M, tapi inskripsi tertua yang terdapat di klenteng ini berangka tahun 1871 M.

Lapangan Migas Kawengan

Sumur Migas ini berada di Desa Banyuurip, Senori, Tuban. Sumur tua yang hingga hari ini masih ada di desa tersebut. Lapangan ini menjadi pendukung minyak yang ada di kilang Cepu. Lapangan migas ini dibangun bersandingan dengan lapangan Nglondo dan lapangan Ledok pada tahun 1894 M. 

Selain di Desa Banyuurip masih ada di beberapa desa lain yang menjadi lokasi lapangan migas kawengan. Namun yang menjadi sentralnya ada di Desa Banyuurip. Di Desa Banyuurip, kita juga bisa melihat pemandangan sumur angguk dengan merek Tomason peninggalan Belanda. Serta banyaknya pipa-pipa bekas dan keran-keran yang dahulu digunakan untuk mengalirkan minyak mentah dari sumur menuju stasiun pengumpul.

Stasiun Pesantren

Stasiun Pesantren (PSN) atau Stasiun Palang adalah stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Kradenan, Palang, Tuban, Jawa Timur. Stasiun ini mulai dioperasikan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada tanggal 1 Desember 1919 sebagai bagian dari jalur kereta api Merakurak–Babat, lalu dinonaktifkan pada tahun 1989 karena menurunnya jumlah penumpang. Stasiun non aktif berketinggian 1 meter di atas permukaan laut ini dulu pada tahun 1980an berganti nama menjadi Stasiun Palang dan diletakkanlah papan nama Stasiun Palang tepat ditengah-tengah tulisan Pesantren. Namun, setelah tahun 2011 papan nama tersebut hilang. Sehingga pada tulisan Pesantren, hanya bagian Santre lah yg terlihat jelas. Bangunannya masih bertahan hingga kini bersama beberapa tiang kabel telegraf di emplasemen stasiun.

Pada masa aktifnya, Stasiun ini melayani dua kali perjalanan kereta api campuran penumpang dan barang dari Babat ke Tuban. Sumber (gpswisataindonesia.

*Anggota IGI Tuban

 

Tag : opini, sejarah

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokTuban TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Sunday, 21 April 2019 08:00

    Warisan Sejarah di Bumi Wali

    Warisan Sejarah di Bumi Wali Di Tuban banyak sekali wahana wisata yang memang sudah menjadi tujuan para wisatwan domestik maupun non domestik. Namun, sebenarnya bagaimana sih sejarah wisata yang ada di ujung barat Provinsi Jawa...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Saturday, 09 February 2019 13:00

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp

    Waspada Modus Penipuan Rekrutmen Holcim di WhatsApp Sehubungan dengan maraknya kembali modus penipuan rekrutmen Holcim yang beredar lewat akun media sosial WhatsApp, masyarakat di Kabupaten Tuban, Jawa Timur dan sekitarnya diminta waspada. Semua pihak harus lebih hati-hati,...

    read more