Pemerintah Cuek, Panganan 'Ampo' akan Tinggal Nama

Reporter: Dwi Rahayu

blokTuban.com - Tradisi peninggalan nenek moyang, panganan ampo kini diambang punah. Bagaimana tidak, sekarang penerus pembuat ampo tinggal seorang saja. Sarpik (37), warga Dusun Trowulan, Desa Bektiharjo, Kecamatan Semanding.

Sarpik merupakan penerus dari sang ibu yang juga pembuat ampo, Rasimah (64), yang juga meneruskan pekerjaan pembuat ampo dari ibunya. Kendati memiliki penerus, Rasimah masih membuat ampo. Jika Sarpik saban hari mampu menghasilkan ampo sekiar sepuluh kilogram. Rasimah hanya mampu menghasilkan tujuh kilogram ampo.

"Dulu satu dusun ada beberapa yang membuat, tapi sudah pada tua dan anak-anaknya tidak ada yang meneruskan," kata Rasimah, kepada blokTuban.com.

Ampo yang dikenal selama ini terbuat dari tanah liat, memiliki ketebalan kurang dari satu centimeter dengan panjang sekitar enam hingga delapan centimeter. Bentuk dan warna ampo layaknya stik coklat renyah, rasa ampo tetap tanah liat, hanya aroma asap tercium jelas.

Makanan berbahan tanah ini, sebenarnya pernah beberapa kali diliput oleh media, mulai dari Media elektronik, online hingga cetak. Beberapa kali turis asing bahkan sempat bertandang langsung ke rumah Rasimah. "Pegawai pemerintah Kabupaten Tuban untuk urusan dokumentasi juga pernah ke sini," kata wanita asal RT 1 RW 1 itu.

Ampo asal Bektiharjo sudah dikenal hingga luar kota, bahkan luar negeri. Kendati demikian, perhatian Pemerintah Kabupaten Tuban belum sepenuhnya nampak. Utusan untuk mengabadikan dan dokumentasi belum cukup membantu keberlangsungan produksi ampo.

"Pengembangan ampo kalau dikaitkan dengan wisata pemandian di Desa Bektiharjo semestinya bisa berkembang. Karena selama ini pengelolaan pemandian berada di tangan pemerintah Kabupaten Tuban," kata Kepala Desa Bektiharjo, Rastu.

Diketahui, sekitar berjarak satu kilometer dari lokasi produksi ampo, terdapat destinasi wisata pemandian Bektiharjo. Sejauh ini pengelolaan berada di tangan Pemkab Tuban dan menyumbang Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) Kabupaten Tuban.

Pengembangan ampo, lanjut Rastu, tidak bisa dilakukan sendiri. Konsumen ampo tidak sepenuhnya dari warga Bektiharjo. Namun kerap kali ketika warga memiliki hajat masih melibatkan ampo. Makanan yang sudah sejak lama ada ini, disayangkan apabila tidak diperhatikan keberlangsungannya.

panganan-2_1


Sementara itu, ketua Rukun Tetangga (RT) setempat, R Ashari, menyayangkan tidak adanya generasi penerus pembuatan ampo. Beberapa pembuat ampo sebelumnya sudah tidak memiliki tenaga untuk meneruskan pekerjaan warisan nenek moyang itu.

"Seharusnya anak-anak dari pembuat ampo bisa melestarikan pembuatan ampo. Tapi nyatanya banyak yang memilih pekerjaan lain dan merantau keluar kota," kata Ashari.

Pemasaran dan pengemasan masih luput dari perhatian para produsen ampo, lantaran selama ini para pembuat ampo tidak mendapat pemahaman dan wawasan. Apresiasi justru berdatangan dari luar kota dan luar negeri. Bahkan ampo cukup berjasa bagi beberapa peneliti untuk menyususn tesis mahasiswa perguruan tinggi. [dwi/rom]